Bos Bulog Minta Hati-hati Bicara El Nino: Petani Bisa Takut Menanam

CNN Indonesia
Selasa, 14 Jul 2026 03:30 WIB
Perum Bulog berencana mengubah wajah beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan meluncurkan merek baru Beras Kita.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani meminta informasi mengenai potensi fenomena El Nino disampaikan secara hati-hati. (CNN Indonesia/ Dela Naufalia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani meminta informasi mengenai potensi fenomena El Nino disampaikan secara hati-hati dan berdasarkan data yang benar-benar terverifikasi.

Menurut Ahmad, penyebaran informasi yang terlalu dini justru berisiko membuat petani ragu memulai musim tanam.

Pernyataan itu disampaikan Rizal saat merespons proyeksi El Nino yang disebut-sebut berpotensi mengganggu produksi pangan, termasuk padi dan jagung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Statement El Nino itu harus betul-betul dipastikan. Karena berpengaruh kepada para petani yang tadinya mau bercocok tanam jadi takut-takut bercocok tanam gara-gara ada statement El Nino ini," ujar Rizal dalam konferensi pers di Kantor Pusat Bulog, Jakarta Selatan, Senin (13/7).

Ia mengaku masih mempertanyakan sejauh mana dampak El Nino telah benar-benar dirasakan di lapangan. Menurutnya, dalam sejumlah kunjungan kerja ke berbagai daerah, kondisi hujan masih kerap terjadi.

"Kalau dibilang El Nino, masih ada hujan sekarang. Saya masih merasakan hujan di Jakarta, di Papua, di Kalimantan, sampai Sumatra. Jadi saya juga mempertanyakan El Nino ini benar atau tidak," ujarnya.

Karena itu, Rizal meminta setiap pernyataan mengenai El Nino didasarkan pada fakta dan pengamatan yang benar-benar teruji. Ia khawatir persepsi mengenai ancaman kekeringan justru memengaruhi psikologis petani sebelum kondisi sebenarnya terjadi.

"Menurut kami statement El Nino ini harus betul-betul dipertimbangkan. Pernyataan tersebut harus berdasarkan fakta yang betul-betul detail," ujarnya.

Meski demikian, Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi Seluruh Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan dampak El Nino terhadap produksi beras sejauh ini belum bisa disimpulkan karena sebagian besar daerah baru memasuki musim panen kedua.

Ia menjelaskan penurunan produksi yang terjadi sebelumnya masih mengikuti pola panen musiman. Memasuki Juli, sejumlah sentra produksi mulai kembali memanen sehingga dampak terhadap pasokan baru bisa dievaluasi dalam beberapa pekan ke depan.

"Belum terlihat, karena sekarang ini baru mulai panen kedua. Nanti kita lihat sekitar bulan Agustus apakah produksinya turun atau tidak," ujar Sutarto.

Menurutnya, selama pasokan gabah dan beras masih terus masuk dari daerah produksi, belum ada indikasi nyata bahwa El Nino telah mengganggu ketersediaan pangan.

Pernyataan keduanya itu muncul di tengah peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai penguatan fenomena El Nino.

BMKG sebelumnya menyatakan El Nino telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen dan diperkirakan berlangsung hingga sekitar 9-12 bulan.

Fenomena tersebut berpotensi menurunkan curah hujan terutama pada Juli hingga Oktober 2026 di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, dan Papua bagian selatan.

Lebih lanjut, BMKG juga mengingatkan El Nino dapat berdampak pada sektor pertanian melalui gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga meningkatnya risiko gagal panen akibat berkurangnya ketersediaan air.

Oleh karena itu, BMKG meminta pemerintah dan pelaku usaha pertanian melakukan langkah antisipasi, seperti penyesuaian pola tanam, pengelolaan irigasi, serta memanfaatkan informasi iklim dalam pengambilan keputusan.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr) Add as a preferred
source on Google