BEI: Korelasi Kegiatan Politik dan Investasi Pasar Modal Tak Tinggi

CNN Indonesia
Selasa, 14 Jul 2026 11:38 WIB
Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia merilis data kepemilikan saham 1 persen  dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Selasa (3/3).
Dieut BEI Jeffrey Hendrik mengklaim kondisi politik saat ini tidak lagi memiliki pengaruh besar terhadap keputusan investasi di pasar modal. (Foto: CNN Indonesia/ Muhammad Falah)
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik membantah anggapan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipengaruhi pidato Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, kondisi politik saat ini tidak lagi memiliki pengaruh besar terhadap keputusan investasi di pasar modal.

Jeffrey mengatakan korelasi antara aktivitas politik dan pergerakan pasar saham terus menurun, seiring semakin matangnya ekonomi dan demokrasi suatu negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau kami melihat dari waktu ke waktu, korelasi antara politik dengan keputusan investasi itu semakin berkurang. Kalau kita bicara di tahun 80-an, korelasi antara aktivitas politik dengan pergerakan pasar itu masih tinggi, dan itu juga terjadi di banyak negara yang ekonomi dan demokrasinya maju," kata Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Senin (13/7), dikutip detikFinance.

Ia menilai tren serupa juga terjadi di Indonesia. Bahkan, di negara maju seperti Amerika Serikat, hubungan antara dinamika politik dan pergerakan pasar saham disebut sudah semakin kecil.

"Kami melihat tren di Indonesia juga begitu, dan itu sudah berlangsung cukup lama, bahwa korelasi antara kegiatan politik dengan kegiatan investasi di pasar modal itu sudah tidak terlalu tinggi korelasinya," ujarnya.

Jeffrey mengatakan keputusan investor saat ini lebih banyak dipengaruhi kondisi fundamental ekonomi dan ketidakpastian global dibandingkan dinamika politik domestik.

Ia mencontohkan berbagai sentimen global sepanjang satu tahun terakhir, seperti kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat, keputusan bank sentral AS (The Fed), hingga konflik di Timur Tengah, yang dinilai lebih berpengaruh terhadap pergerakan IHSG.

"Jadi kalau kami mengaitkan, lebih mengaitkan ke situ bahwa terjadinya eskalasi, kemudian deeskalasi, kemudian pengumuman dari Bank Sentral Amerika, pengumuman dari pemerintah Amerika," ujar Jeffrey.

"Jadi dinamika-dinamika itu justru yang berdampak lebih langsung kepada pergerakan di pasar ketimbang hal-hal lain yang tadi disampaikan," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(lau/pta) Add as a preferred
source on Google