Baru Setahun Diluncurkan, Bank Emas RI Sudah Himpun 153 Ton Emas

CNN Indonesia
Selasa, 14 Jul 2026 14:44 WIB
Kemenko Perekonomian sebut akumulasi tersebut berasal dari layanan bullion oleh bank emas, yang dijalankan PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia (BSI). (FOTO:REUTERS/Angelika Warmuth).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengungkapkan ekosistem bullion atau bank emas nasional telah menghimpun sekitar 153 ton emas sejak diluncurkan pada Februari 2025.

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan mengatakan akumulasi tersebut berasal dari layanan bullion yang dijalankan PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia (BSI).

"Sejak 20 Februari 2025 kami sudah mengakumulasi total emas, baik di Pegadaian maupun Bank Syariah Indonesia, sekitar 153 ton. Ini satu hal yang juga terus akan kami kembangkan," ujar Ferry dalam Risk and Governance Summit (RGS) 2026 di Jakarta, Selasa (14/7).

Menurut Ferry, pengembangan ekosistem bullion menjadi salah satu langkah pemerintah memperdalam pasar keuangan domestik sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Ia mengatakan pemerintah juga terus melakukan berbagai reformasi sektor keuangan untuk menjaga kepercayaan investor, mulai dari penguatan tata kelola pasar keuangan, peningkatan transparansi, hingga pendalaman pasar keuangan domestik.

Selain itu, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) memperluas implementasi transaksi mata uang lokal (local currency transaction/LCT) guna mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing dalam perdagangan internasional.

Ferry menyebut hingga saat ini LCT telah diterapkan bersama enam negara mitra, yakni Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Di sisi pembiayaan, pemerintah juga menyiapkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp340 triliun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung sektor-sektor produktif.

Lebih lanjut, Ferry mengatakan pemerintah terus memperkuat tata kelola ekspor sumber daya alam melalui penyempurnaan kebijakan devisa hasil ekspor (DHE). Kebijakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan transparansi, mencegah praktik under invoicing dan transfer pricing, serta mengoptimalkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.

Ia menambahkan sejumlah lembaga internasional juga masih mempertahankan prospek positif terhadap perekonomian Indonesia. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen pada 2026, sedangkan Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan mencapai 5,2 persen.

(lau/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK