BGN Masih Kaji Rencana Setop MBG untuk Siswa Kaya

CNN Indonesia
Sabtu, 18 Jul 2026 10:33 WIB
Wakil Kepala BGN ungkap masih kaji rencana setop MBG bagi siswa dari keluarga mampu desil 8 sampai 10. (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Trenggono mengungkapkan pihaknya masih mengkaji rencana penghentian program makan bergizi gratis (MBG) kepada siswa dari keluarga mampu desil 8 sampai 10.

Saat ditanya lebih lanjut target waktu kajian tersebut rampung, Trenggono menjawab pihaknya diberi waktu selama satu bulan oleh Presiden Prabowo Subianto untuk membenahi tata kelola program MBG.

"Memang sudah ada wacana, tapi masih kami kaji lagi. Nanti hasilnya akan disampaikan setelah kajian selesai ya," ujar Trenggono usai rapat dengar pendapat BGN dengan Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Jumat (17/7).

"Sudah diberikan waktu maksimal 1 bulan ya. Yang jelas penerima manfaat itu adalah prioritas. Jadi, disesuaikan nanti ya," jawabnya.

Hal tersebut disampaikan setelah Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan Presiden Prabowo menginstruksikan agar penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) diprioritaskan bagi mereka yang betul-betul membutuhkan.

[Gambas:Video CNN]

Ia mengatakan pemerintah memprioritaskan penerima manfaat yang berasal dari golongan desil bawah dan daerah tertinggal.

"Yang perlu diefisiensikan, yang tidak harus menerima lagi program MBG ya silakan tidak usah menerima lagi," kata Agustina di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (15/7).

Tetapi mereka yang berada di desil yang di bawah, di daerah yang tertinggal, di daerah yang memang prevalensi stunting-nya tinggi dan sebagainya, silakan diberikan."

Agustina mengatakan pemerintah kini berfokus dengan penataan penerima manfaat MBG. Ia mengungkapkan hal itu menjadi fokus pemerintah dalam satu bulan ke depan untuk dilakukan pengkajian mendalam.

Agustina menyampaikan rapat ini juga mendiskusikan dinamika di lapangan, khususnya latar belakang siswa yang beragam di satu sekolah yang sama.

"Tetapi ada dinamika, bagaimana kalau sekolah itu katakanlah 50 persen, 50 persen ada di desil menengah 6 atau ke bawah," ujar dia.

Ia pun menyinggung aspek psikologis dari siswa. Agustina mengatakan banyak aspek yang dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.

"Jadi seperti tadi, misalnya ada sekolah negeri atau sekolah apa, ya, yang ada muridnya katakanlah 50 persen desilnya menengah sedikit ke bawah, menengah sedikit ke atas, kan berarti nanti jangan sampai ada yang menerima, ada yang tidak. Pertimbangkan secara psikologis," ucap dia.

(fln/chri)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK