Deret Saham yang Bisa Dilirik Pekan Ini, Apa Saja?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 67,32 poin atau naik 1,10 persen di level 6.175 pada Jumat (17/7) silam.
Investor melakukan transaksi sebesar Rp16,34 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 29,17 miliar saham.
Dalam sepekan terakhir, indeks saham menguat selama lima hari perdagangan berturut-turut. Tak heran, performa indeks pun tercatat menguat 4,24 persen sepanjang pekan kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan selama periode tanggal 13 sampai dengan 17 Juli 2026 perdagangan saham ditutup pada zona positif.
Lihat Juga : |
Tercatat, kapitalisasi pasar bursa mengalami peningkatan sebesar 3,95 persen dari Rp10.340 triliun menjadi Rp10.749 triliun pada pekan lalu.
Kemudian, rata-rata volume transaksi harian turut melesat 27,75 persen dari 20,49 miliar menjadi 26,17 miliar lembar saham.
Selanjutnya, rata-rata nilai transaksi harian pun turut mengalami kenaikan sebesar 36,25 persen dari Rp10,27 triliun menjadi Rp13,99 triliun.
Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian juga mengalami peningkatan yakni sebesar 24,60 persen dari 1,87 juta kali transaksi menjadi 2,33 juta kali transaksi pada penutupan pekan lalu.
"Adapun investor asing hari ini mencatatkan nilai beli bersih Rp638,05 miliar dan sepanjang tahun 2026 investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp75,512 triliun," ujar Kautsa dalam keterangan resmi, Jumat (17/7).
Lantas seperti apa proyeksi pergerakan IHSG untuk sepekan ke depan?
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memperkirakan indeks saham pada perdagangan Senin (20/7) bergerak mixed dengan kecenderungan menguat terbatas. Indeks diproyeksikan bergerak di kisaran level support 6.065 dan resistance 6.270.
Menurut Oktavianus, pergerakan IHSG akan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, pasar masih mencermati meningkatnya tensi geopolitik menyusul serangan udara Amerika Serikat (AS) ke sejumlah fasilitas militer dan infrastruktur vital di Iran.
"Kami berpandangan pasar akan dipengaruhi kenaikan tensi geopolitik pasca serangan udara yang dilakukan AS ke beberapa fasilitas militer Iran dan berupaya pada infrastruktur vital," ujar dia kepada CNNIndonesia.com, Minggu (19/7).
Sementara dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan kembali naik sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen.
Ia menilai peningkatan risiko geopolitik berpotensi membuat investor tetap menghindari aset berisiko sehingga membatasi ruang penguatan pasar saham.
Selain itu, apabila BI mempertahankan sikap hawkish dalam jangka waktu yang lebih panjang, laju IHSG diperkirakan masih akan bergerak terbatas. Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah yang mulai berada di bawah level Rp18 ribu per dolar AS dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi pasar.
Berdasarkan analisis teknikal, Oktavianus pun merekomendasikan beberapa saham yang bisa dikoleksi. Pertama, saham Adaro Andalan Indonesia atau AADI yang ditutup menguat 2,94 persen ke posisi 8.750 pada pekan lalu.
Oktavianus memproyeksi AADI dapat menyentuh level 9.300 pada pekan ini.
Kedua, saham Kalbe Farma atau KLBF yang ditutup menguat 5,56 persen ke posisi 760 pekan lalu. Oktavianus memproyeksi KLBF dapat menyentuh level 810 pada pekan ini.
Ketiga, saham Sarana Menara Nusantara atau TOWR yang ditutup menguat 5,13 persen ke posisi 410 pekan lalu. Oktavianus memproyeksikan TOWR dapat menyentuh level 450 pada pekan ini.
Sementara itu, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan pada sepekan ke depan, meski kenaikannya diperkirakan terbatas. Indeks diproyeksikan bergerak pada kisaran level support 5.987 dan resistance 6.268.
Herditya menilai pergerakan indeks saham pada pekan ini akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri.
Pertama, pelaku pasar akan mencermati kinerja keuangan emiten pada semester I 2026 untuk mengukur prospek laba perusahaan dan menentukan arah investasi ke depan.
Kedua, perhatian investor juga masih tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat, di tengah ekspektasi bahwa bank sentral AS atau The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya.
"Untuk sentimen, kami perkirakan akan dipengaruhi investor yang masih mencermati rilis laporan keuangan semester I 2026 dari para emiten, serta mengamati arah kebijakan The Fed yang diperkirakan masih akan menahan suku bunga acuannya," ujar Herditya.
Ketiga, Herditya menilai pergerakan harga komoditas global, khususnya di sektor energi seperti minyak mentah, crude palm oil (CPO), dan batu bara yang masih menunjukkan tren penguatan, diharapkan menjadi katalis positif bagi saham-saham emiten yang berkorelasi dengan komoditas tersebut.
Keempat, volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih akan menjadi faktor yang turut memengaruhi pergerakan pasar saham domestik.
Ia pun menyarankan investor dapat mencermati beberapa saham dari emiten ia rekomendasikan. Herditya pun merekomendasikan saham Alamtri Resources Indonesia atau ADRO yang ditutup di level 2.490 pada pekan lalu. Ia memproyeksi ADRO dapat menyentuh level 2.600 pada pekan ini.
Kemudian, Herditya pun merekomendasikan saham Surya Esa Perkasa atau ESSA yang ditutup di level 595 pada pekan lalu. Ia memproyeksi ESSA dapat menyentuh level 645 pada pekan ini.
Lalu, Herditya juga merekomendasikan saham Indo Tambangraya Megah atau ITMG yang ditutup menguat 0,10 persen ke level 23.850 pada pekan lalu. Ia memproyeksikan ITMG dapat menyentuh level 24.950 pada pekan ini.
Catatan Redaksi: Berita ini tidak dibuat untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.
(sfr) Add
as a preferred source on Google