Jurus Kembar Pertamina, Jaga Ketahanan Energi & Dukung Transisi Energi

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 09:00 WIB
Salah satu wilayah kerja panas bumi yang dikelola Pertamina melalui PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. Foto: Dok. Pertamina
Jakarta, CNN Indonesia --

Bisnis energi kerap dihadap-hadapkan dengan isu ramah lingkungan. Kebutuhan akan energi berbasis fosil yang masih tinggi jadi tantangan tersendiri. Berbagai upaya dan pengembangan terus dilakukan untuk memadukan bisnis energi dengan isu dekarbonisasi.

Hal ini pula yang dilakukan PT Pertamina (Persero). Sepanjang semester I 2026, berbagai upaya sudah dilakukan untuk perusahaan minyak pelat merah ini.

Sepanjang enam bulan pertama 2026, program dekarbonisasi di seluruh lini bisnis Pertamina Group berhasil menekan emisi karbon hingga 118 persen di atas target tahun ini.

Kinerja bisnis rendah karbon secara keseluruhan juga menyentuh angka 101 persen dari target RKAP 2026.

"Sebagai perusahaan energi kelas dunia, Pertamina berkomitmen menjalankan ESG sesuai dengan standar dunia. Dekarbonisasi Pertamina juga merupakan komitmen Perusahaan menjalankan target Pemerintah mencapai NZE pada tahun 2060," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron dalam keterangan tertulis, Selasa (22/9).

Salah satu bentuk bisnis rendah karbon Pertamina adalah pengembangan produk Pertamina Sustainable Aviation Fuel (PertaminaSAF) atau avtur ramah lingkungan. Uniknya produk PertaminaSAF menggunakan minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) sebagai komponen bahan baku.

Pertamina turut mendukung program pemerintah B50, program mandatori bahan bakar biodiesel di Indonesia yang resmi diberlakukan secara luas pada Juli 2026.

Selain B50, Pertamina juga mengembangkan biogasoline melalui pencampuran bioetanol sebesar lima persen pada bensin RON 95. Pada periode Januari hingga Juni 2026, realisasi penjualan biogasoline tercatat diatas 23 ribu KL.

"Pencapaian ini didukung oleh beberapa program utama seperti bioethanol, biofuel, dan efisiensi energi yang mampu melampaui target yang telah ditetapkan," ujar Baron.

Untuk memperluas portofolio hijau perseroan, Pertamina juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan PT Industri Baterai Indonesia (IBC) pada akhir Agustus lalu.

Kesepakatan yang diteken di fasilitas PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), Karawang, itu menandai sinergi pembangunan ekosistem industri baterai terintegrasi secara nasional.

"Ekosistem baterai dan kendaraan listrik merupakan salah satu pilar dari Dual Growth Strategy Pertamina. Kami melihat peluang besar untuk dikomersialisasikan, mulai dari pengembangan Battery Energy Storage System (BESS), battery recycling, hingga optimalisasi fasilitas riset," kata SVP Technology Innovation & Implementation Pertamina Hana Timoti.

Hana mengatakan penjajakan tersebut diarahkan untuk memetakan peluang teknologi dan potensi bisnis yang bernilai komersial.

Produk sistem penyimpanan energi atau BESS, baik portabel maupun stasioner, diyakini akan menjadi kunci rantai nilai energi Pertamina di masa depan.

Pertamina juga menjajaki pengembangan teknologi baterai masa depan, pengelolaan baterai bekas melalui recycle dan reuse, serta potensi pemanfaatan material turunan migas untuk mendukung rantai pasok baterai.

Bagi Pertamina, penjajakan pengembangan ekosistem baterai menjadi bagian dari upaya membuka peluang pertumbuhan baru yang melengkapi bisnis energi eksisting, sekaligus memperluas portofolio bisnis rendah karbon dalam mendukung transisi dan ketahanan energi Indonesia.

Dual Growth Strategy Pertamina

Memastikan ketahanan energi nasional sejalan dengan transisi energi, Pertamina menjalankan Dual Growth Strategy. Bagi Pertamina, strategi ini bertujuan untuk menjaga ketahanan energi nasional saat ini, mendukung transisi energi Indonesia menuju target net zero emission serta menciptakan sumber pertumbuhan bisnis baru di tengah tren global menuju energi bersih

Jurus pertumbuhan ganda yang dilakukan oleh Pertamina yakni membagi fokus pengembangan bisnis ke dalam dua kelompok utama, yakni Maximizing Legacy Businesses dan Building Low Carbon Businesses.

Strategi Maximizing Legacy Businesses merupakan upaya-upaya yang dilakukan Pertamina untuk terus mengembangkan bisnis eksisting Perusahaan terutama yang berbasis fosil. Memperkuat bisnis inti migas terutama ditujukan untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Strategi ini dijalankan melalui beberapa program kerja diantaranya meningkatkan produksi minyak dan gas, melakukan modernisasi dan pembangunan kilang, termasuk proyek kilang baru, menjalankan pendistribusian BBM dan LPG hingga wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) serta meningkatkan ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor.

Pada strategi kedua, Pertamina menyiapkan strategi Building Low Carbon Businesses untuk mengembangkan bisnis rendah karbon sebagai sumber pertumbuhan baru.

Salah satu fokusnya adalah pengembangan biofuel. Pertamina menargetkan peningkatan kapasitas produksi serta penguatan infrastruktur biofuel.

Program tersebut mencakup optimalisasi implementasi biodiesel serta pengembangan dan perluasan pemanfaatan biosolar. Pertamina juga mencantumkan peningkatan bauran biofuel untuk biodiesel, bioethanol, dan sustainable aviation fuel (SAF).

Pertamina juga memasukkan ekspansi kapasitas panas bumi atau geothermal sebagai bagian dari bisnis rendah karbon.

Pengembangan tersebut dilakukan melalui peningkatan kapasitas serta perluasan peluang bisnis baru di sektor geothermal. Investasi panas bumi ditempatkan sebagai salah satu bagian dari upaya pengembangan bisnis energi baru dan terbarukan.

Selain itu, Pertamina menyiapkan pengembangan bisnis rendah karbon lainnya, termasuk dekarbonisasi, carbon capture, utilization and storage (CCUS/CCS), gas-to-power, energi surya, nature-based solutions (NBS), kredit karbon, kendaraan listrik, hingga hidrogen.

Transisi energi

Pertamina punya anak perusahaan yang fokus di bisnis di bidang energi baru dan terbarukan yakni Pertamina New and Renewable Energy (Pertamina NRE).

Pertamina NRE selama ini bekerja fokus pada pengembangan energi bersih di Indonesia dengan mendorong perubahan melalui solusi energi berkelanjutan.

Berdasarkan laporan tahunan 2025 Pertamina NRE, sepanjang 2025 total kapasitas pembangkit bersih yang dikelola perseroan melonjak 29 persen secara tahunan menjadi 3.226,42 MW.

Lonjakan kapasitas jumbo itu ditopang oleh langkah akuisisi strategis pada Citicore Renewable Energy Corporation (CREC) di Filipina sebesar 669,3 MW. Pertumbuhan ini juga didorong oleh beroperasinya PLTS RU V Balikpapan berkapasitas 2,5 MW serta komersialisasi PLTP Lumut Balai Unit 2 sebesar 55 MW.

Dari sisi kelistrikan, produksi Pertamina NRE menembus 8.710 GWh atau naik 2,78 persen dari capaian tahun sebelumnya. Perseroan juga berhasil merajai 79 persen pangsa pasar bursa karbon domestik dengan mencatatkan penjualan 889.928 tCO2e sejak perdagangan perdana di IDXCarbon.

Kinerja fundamental operasional tersebut berbanding lurus dengan pencapaian finansial. Pendapatan perseroan pada 2025 terkerek 6 persen, ditopang oleh optimasi operasional pembangkit listrik tenaga panas bumi dan gas.

Dekarbonisasi sektor hulu

Komitmen keberlanjutan tersebut juga diimplementasikan secara ketat di seluruh Pertamina Group. Di sektor hulu melalui PT Pertamina Hulu Energi (PHE), PHE tak tanya berfokus pada keberlanjutan bisnis, tetapi juga pada pengelolaan risiko jangka panjang dalam menghadapi transisi energi global.

Direktur Manajemen Risiko PHE Whisnu Bahriansyah mengatakan PHE menjalankan strategi pertumbuhan yang seimbang antara penguatan bisnis inti migas dan pengembangan bisnis rendah karbon.

"Melalui pendekatan manajemen risiko yang adaptif dan terintegrasi, kami memastikan setiap langkah transformasi perusahaan tetap mendukung ketahanan energi nasional sekaligus menciptakan nilai berkelanjutan bagi masa depan," kata Whisnu.

Pendekatan dual growth strategy tetap memaksimalkan bisnis inti migas sekaligus membangun fondasi bisnis rendah karbon.

Berdasarkan Laporan Keberlanjutan PHE pada 2025, perusahaan mengembangkan sejumlah inisiatif bisnis rendah karbon, mulai dari teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture Utilization and Storage (CCS/CCUS), hidrogen geologi, dekarbonisasi operasional, hingga peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).

PHE juga menjalankan program efisiensi energi, elektrifikasi peralatan dan armada, serta pemanfaatan sumber energi dengan emisi lebih rendah.

"PHE menetapkan target dekarbonisasi dengan mengacu pada dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) yang disusun Pemerintah Indonesia sebagai bagian dari komitmen implementasi Paris Agreement," demikian Laporan Keberlanjutan PHE pada 2025.

Sepanjang 2025, PHE menjalankan 184 program dekarbonisasi melalui berbagai entitas anak perusahaan. Program tersebut menghasilkan reduksi emisi sebesar 1.619,56 ribu ton CO2eq, atau mencapai 138 persen dari target.

Total beban emisi PHE selama 2025 sebesar 15.437,66 ribu ton CO2eq. Angka ini menurun dari tahun sebelumnya sebesar 16.340,05 ribu ton CO2eq.

PHE juga memperkuat upaya adaptasi terhadap perubahan iklim dengan mengintegrasikan isu iklim ke dalam strategi bisnis dan operasional perusahaan.

Langkah tersebut antara lain dilakukan melalui investasi EBT, efisiensi energi, serta pengembangan infrastruktur yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.

"Secara keseluruhan nilai investasi untuk adaptasi PHE terhadap perubahan iklim di tahun 2025 mencapai US$202,9 juta atau 82,41 persen dari total investasi," tulis Laporan Keberlanjutan PHE pada 2025.

Di sisi lain, PHE juga memperoleh 1 PROPER Emas dan 26 PROPER Hijau pada 2025. Berdasarkan asesmen MSCI ESF Research UK Limited pada 23 September hingga 13 November 2025, PHE memperoleh Provisional ESG Rating BBB.

Asesmen MSCI mencakup tujuh kunci isu seperti emisi karbon, keanekaragaman hayati, limbah berbahaya, keselamatan kerja, hubungan komunitas, perilaku perusahaan, dan tata kelola.

(dhz/sur)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK