Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel, RI Bersiap Kena Dampak?
Ketergantungan Impor Energi
Josua menilai kerentanan Indonesia cukup besar karena produksi minyak domestik belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.
Data terakhir menunjukkan produksi minyak dan cairan lainnya sekitar 868 ribu barel per hari, sedangkan konsumsinya mencapai 1,7 juta barel per hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan demikian, secara kasar hampir separuh kebutuhan minyak Indonesia belum dapat ditutup oleh produksi domestik," ujar Josua.
Kerentanan terbesar berada pada bensin dan LPG. Kebutuhan bensin nasional mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun, sedangkan kemampuan produksi domestik diperkirakan sekitar 20 juta kiloliter.
Adapun konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sedangkan produksi domestik hanya sekitar 1,6-1,7 juta ton. Artinya, sekitar 80 persen kebutuhan LPG masih dipenuhi melalui impor.
Dia menilai program B50 dapat menjadi salah satu penyangga karena berpotensi mengurangi impor solar. Namun, kebijakan tersebut belum cukup untuk mengatasi seluruh kerentanan energi Indonesia.
"Jadi, B50 menyelesaikan sebagian persoalan solar, tetapi belum menyelesaikan kerentanan bensin, minyak mentah, dan LPG," ujar Josua.
Josua juga menilai rencana substitusi LPG dengan gas alam terkompresi atau CNG memiliki potensi. Namun, program ini masih dalam tahap perluasan awal.
Target jaringan gas berbasis CNG pada 2026 yang dicanangkan sekitar 160 ribu sambungan rumah tangga, sedangkan konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton.
Dengan skala tersebut, Josua menilai CNG belum akan menurunkan impor LPG secara berarti dalam satu atau dua tahun.
"Hambatannya adalah infrastruktur distribusi, tabung dan fasilitas pengisian, standar keselamatan, kepastian harga, serta kedekatan dengan sumber gas," ujar Josua.
Rupiah Ikut Tertekan
Kenaikan harga minyak juga berpotensi menekan nilai tukar rupiah karena meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membayar impor minyak mentah, bensin, LPG, dan produk petrokimia.
Selain itu, konflik geopolitik dapat mendorong investor memindahkan dana ke dolar AS dan aset yang dianggap lebih aman.
"Rupiah pasti akan tertekan jika banyak capital outflow, tapi Bank Indonesia biasanya intervensi baik melalui cadev (cadangan devisa) ataupun suku bunga," ujar Huda.
Josua mengatakan rupiah berada di sekitar Rp17.885 per dolar AS pada 21 Juli 2026 setelah mengalami tekanan akibat konflik Timur Tengah dan ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat.
Menurut dia, Bank Indonesia masih memiliki cadangan devisa yang memadai untuk meredam gejolak. Namun, cadangan devisa sebaiknya digunakan untuk mengurangi volatilitas, bukan mempertahankan nilai tukar pada satu level tertentu secara terus-menerus.
Dari sisi inflasi, dampak awal kenaikan harga minyak akan terlihat pada BBM nonsubsidi, avtur, angkutan udara, pelumas, dan biaya logistik.
Inflasi Juni 2026 tercatat 3,34 persen, mendekati batas atas sasaran 3,5 persen. Inflasi harga yang diatur pemerintah mencapai 3,42 persen, sedangkan inflasi pangan bergejolak mencapai 5,58 persen.
Josua memperkirakan jika harga minyak bertahan di atas US$100 per barel dan pemerintah melakukan penyesuaian harga energi, inflasi berpotensi melampaui batas atas sasaran.
Pemerintah Perlu Perkuat Cadangan
Josua mengatakan pemerintah perlu membentuk pengendalian krisis energi terpadu yang memantau stok harian, kedatangan kapal, jalur pelayaran, kebutuhan valuta asing, harga impor, serta distribusi di daerah.
Pemerintah juga perlu memperluas sumber impor dan meningkatkan persediaan operasional bensin serta LPG secara bertahap.
"Persediaan operasional bensin dan LPG perlu dinaikkan secara bertahap menuju sekurang-kurangnya 30 hari, terutama untuk wilayah yang sulit memperoleh pasokan," ujar Josua.
Di sisi fiskal, dia menilai subsidi BBM dan LPG perlu semakin diarahkan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan seperti rumah tangga miskin, angkutan umum, nelayan, dan usaha kecil.
Sementara itu, kelompok mampu disebut perlu membayar harga yang lebih mendekati biaya sebenarnya.
Ia mengatakan penyesuaian harga nonsubsidi dapat dilakukan bertahap dan terjadwal, disertai bantuan tunai untuk melindungi daya beli.
Pemerintah juga perlu menyiapkan anggaran cadangan dan menentukan belanja mana yang dapat ditunda apabila subsidi membengkak, sehingga defisit tidak meningkat tanpa kendali.
Bank Indonesia pun dinilai perlu memastikan ketersediaan dolar bagi impor energi pokok, memperkuat lindung nilai perusahaan negara dan importir, serta memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan.
Kebijakan penggunaan mata uang lokal yang telah disiapkan memang dapat mengurangi ketergantungan transaksi terhadap dolar dan menekan risiko gejolak kurs.
Namun, cadangan devisa tidak boleh dihabiskan untuk mempertahankan rupiah pada satu angka tertentu.
Terakhir, pemerintah harus menyampaikan kondisi stok, subsidi, dan rencana harga secara terbuka setiap minggu.
Kepastian informasi akan mengurangi penimbunan, pembelian berlebihan, dan spekulasi.
"Kunci mencegah kepanikan bukan menutupi risiko, melainkan bertindak sebelum persediaan menipis dan sebelum penyesuaian harga terpaksa dilakukan secara mendadak," ujar Josua.
Josua menilai Indonesia memiliki penyangga yang cukup untuk menghadapi lonjakan harga minyak sementara, tetapi belum cukup kuat menghadapi harga di atas US$100 yang berlangsung lama sekaligus gangguan jalur pelayaran.
"Titik bahayanya bukan ketika minyak sesaat menembus US$100, melainkan ketika harga tersebut bertahan selama beberapa bulan, rupiah terus melemah, dan pasokan fisik mulai terganggu," ujarnya.
(ins) Add
as a preferred source on Google