Mendag Dorong Kolaborasi Perkuat Sektor Kakao Indonesia di IICC ke-9

Kementerian Perdagangan | CNN Indonesia
Jumat, 24 Jul 2026 16:40 WIB
(Foto: dok Kemendag)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kolaborasi para pemangku kepentingan disebut akan menentukan masa depan industri kakao Indonesia beserta ekosistem pendukungnya. Melibatkan pemerintah, petani kakao, pelaku usaha, institusi finansial, akademisi, dan mitra internasional, kerja sama ini diyakini dapat mendorong peran sektor kakao dalam negeri bagi ekonomi global.

Hal itu disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso (Mendag Busan) saat menjadi pembicara kunci dalam konferensi kakao internasional, The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) yang digelar Kamis (23/7) di Yogyakarta, Jawa Tengah.

Busan menyatakan, Indonesia berkomitmen memberikan nilai tambah pada biji kakao yang diproduksi dengan memanfaatkan berbagai peluang di tengah tantangan. Terlebih, kakao selama ini telah mendukung kelangsungan hidup ratusan ribu keluarga petani, menciptakan lapangan kerja melalui rantai nilai, dan memperkuat ekonomi perdesaan.

"Sebagai produk ekspor strategis Indonesia dengan potensi nilai tambah signifikan, masa depan kakao bergantung pada kolaborasi para pemangku kepentingan. Visi Indonesia jelas, yaitu menjadi hub global bagi produk kakao dan coklat premium yang berkelanjutan dan bernilai tambah," kata Busan.

Dalam lima tahun terakhir, kinerja ekspor kakao Indonesia tercatat berkembang pesat. Nilai ekspor pada 2025 mencapai US$3,60 miliar, naik tiga kali lipat dibandingkan tahun 2021 sebesar US$1,2 miliar. Capaian ini merefleksikan permintaan dunia yang tinggi terhadap kakao, termasuk dari Indonesia.

Kemudian, Indonesia telah diakui Organisasi Kakao Internasional (ICCO) sebagai penghasil kakao premium melalui kakao mulia (fine flavour cocoa). Komoditas ini menunjukkan potensi unggul Indonesia dalam mengisi segmen pasar kakao premium dunia.

Busan menyatakan, potensi tersebut harus didukung dengan inovasi, faktor indikasi geografis, hingga produksi yang berkelanjutan.

"Oleh karena itu, strategi ekspor Indonesia harus terus fokus pada peningkatan nilai tambah, pemenuhan standar internasional, diversifikasi pasar ekspor, dan maksimalisasi pemanfaatan perjanjian perdagangan internasional yang dimiliki Indonesia," kata Busan.

Terkait pemanfaatan perjanjian perdagangan internasional, saat ini Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian dagang dengan negara-negara mitra, dengan dua perjanjian dalam proses ratifikasi, dan 11 perjanjian dagang dalam tahap perundingan, termasuk perundingan dengan Uni Eropa (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement) yang sedang menunggu penandatanganan.

Selain itu, Indonesia terus mendorong negosiasi tarif resiprokal dengan Amerika Serikat (Indonesia United States Agreement on Reciprocal Trade). Mendag optimistis, kedua perjanjian tersebut dapat mendorong daya saing dan akses pasar bagi kakao Indonesia.

Pada saat bersamaan, Kementerian Perdagangan aktif berupaya meningkatkan ekspor, antara lain dengan mengerahkan 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara untuk mengisi garis depan dalam strategi peningkatan ekspor produk-produk dalam negeri.

Para perwakilan perdagangan itu ditugaskan mempromosikan produk-produk Indonesia, mengidentifikasi peluang pasar di berbagai negara, dan memfasilitasi berbagai penjajakan bisnis (business matching) antara eksportir Indonesia dan calon pembeli potensial di luar negeri.

"Jangan sungkan-sungkan menghubungi kami dan perwakilan kami di luar negeri," ujar Mendag.

Senada, Vice President & Managing Director Cargill untuk Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Kashan Rashid yang juga menjadi pembicara dalam konferensi sepakat bahwa sektor kakao Indonesia memiliki masa depan yang cerah, bergantung pada kolaborasi para pemangku kepentingan serta inovasi yang dilakukan.

Peningkatan ketertarikan terhadap otentisitas, pengadaan lokal (local sourcing), pertanian berkelanjutan, serta tekstur dan rasa baru, dinilai sebagai peluang bagi Indonesia peluang untuk memperkuat peran menjadi hub pengolahan dan inovasi, mulai skala Asia hingga dunia.

Salah satu peserta konferensi, Direktur Eksekutif International Cocoa Organization (ICCO), Michel Arrion menyatakan bahwa ajang ini merupakan momentum untuk melihat perkembangan sektor kakao Indonesia, dari peran sebagai produsen hingga saat ini menjadi pengolah kakao.

"Indonesia memberikan banyak nilai tambah terhadap biji kakao untuk kepentingan industri cokelat. Kami yakin Indonesia akan semakin memperoleh banyak manfaat jika semakin meningkatkan produksi biji kakaonya," tutup Michel.

(rea/rir)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK