Danantara Masuk KSSK, Adakah Peran yang Berubah?

Laurent Nabila Zahra Tanjung | CNN Indonesia
Rabu, 29 Jul 2026 07:20 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kedua dari kiri) bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua dari kanan), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi (kiri), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin
Presiden Prabowo melibatkan Danantara dalam KSSK untuk memperkuat stabilitas keuangan. Kondisi ini kemudian mendapat respons dari pengamat Tanah Air. (FOTO:CNN Indonesia/ Laurent Nabila).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Prabowo Subianto memutuskan melibatkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia dalam forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Selama ini, forum yang bertugas menjaga stabilitas sistem keuangan nasional tersebut hanya beranggotakan empat regulator, yakni Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan keterlibatan lembaganya bertujuan agar setiap keputusan KSSK tak hanya mempertimbangkan aspek fiskal dan moneter, tetapi juga berdampak langsung terhadap perekonomian dan dunia usaha. Bahkan, Presiden meminta koordinasi dilakukan dalam format "KSSK plus Danantara".

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apa urgensi Danantara dilibatkan dalam forum stabilitas keuangan? Apakah kehadirannya akan memperkuat koordinasi kebijakan, atau justru memunculkan persoalan baru terkait independensi regulator dan potensi konflik kepentingan?

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai keterlibatan Danantara dalam KSSK dapat dipahami apabila pemerintah ingin membawa informasi mengenai sektor riil dan investasi strategis ke dalam pembahasan stabilitas ekonomi.

Menurut dia, proyek BUMN, pembiayaan investasi, obligasi korporasi negara, hingga eksposur perbankan terhadap proyek besar dapat memberikan dampak terhadap likuiditas, risiko kredit, pasar Surat Berharga Negara (SBN), serta sentimen investor.

[Gambas:Youtube]

"Danantara perlu dilibatkan dalam forum stabilitas sistem keuangan hanya jika pemerintah ingin membawa informasi sektor riil dan investasi strategis ke meja KSSK," kata Syafruddin kepada CNNIndonesia.com.

Namun, ia mengingatkan kebutuhan informasi tidak sama dengan pemberian kewenangan. Menurutnya, KSSK selama ini terdiri dari empat lembaga karena masing-masing memiliki mandat publik sebagai regulator.

"Kebutuhan informasi tidak sama dengan kebutuhan kewenangan. KSSK selama ini berisi Kemenkeu, BI, OJK, dan LPS karena keempat lembaga itu memegang mandat publik yang saling melengkapi," ujarnya.

Syafruddin mengatakan posisi Danantara berbeda dengan anggota KSSK lainnya karena lembaga tersebut bukan regulator, melainkan pengelola investasi negara.

Untuk itu, ia menilai keterlibatan Danantara seharusnya bersifat terbatas dan tidak masuk dalam pengambilan keputusan.

"Pelibatannya hanya layak jika bersifat teknis, terbatas, non-voting, dan berbasis agenda spesifik. Jika posisinya meluas, forum stabilitas akan terlihat bergeser dari forum regulator menjadi forum campuran antara regulator dan pengelola investasi negara," jelasnya.

Menurut Syafruddin, ada tiga alasan yang membuat Danantara dianggap relevan untuk masuk dalam pembahasan stabilitas ekonomi, yakni besarnya aset yang dikelola, keterhubungannya dengan BUMN, serta potensi dampak investasinya terhadap pasar keuangan.

"Dalam ekonomi yang makin bergantung pada proyek strategis, hilirisasi, infrastruktur, energi, dan pembiayaan BUMN, kegagalan proyek besar dapat menjalar ke bank, obligasi, pasar modal, nilai tukar, dan fiskal," katanya.

Meski demikian, ia menilai besarnya peran Danantara juga membuat aspek tata kelola harus menjadi perhatian. Sebab, lembaga yang memiliki kepentingan terhadap aset atau proyek tertentu tidak boleh ikut menentukan kebijakan stabilitas yang dapat memengaruhi nilai portofolionya sendiri.

"Danantara boleh membawa data risiko, tetapi tidak boleh membawa kepentingan portofolio ke ruang keputusan KSSK," ujar Syafruddin.

Ia juga membandingkan posisi Danantara dengan Temasek di Singapura. Menurutnya, Temasek tetap dipisahkan dari otoritas moneter meskipun dimiliki oleh pemerintah Singapura.

Add as a preferred
source on Google
Keputusan Selayaknya Tetap Berada di Regulator BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2