Freeport Pastikan Perencanaan Tambang Komprehensif dan Terstruktur
PT Freeport Indonesia (PTFI) memastikan kegiatan penambangan dilakukan melalui perencanaan yang komprehensif, terstruktur, dan berbasis analisis mendalam sehingga target produksi perusahaan tidak ditetapkan secara sembarangan.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan proyeksi produksi perusahaan hingga akhir 2026 maupun target peningkatan produksi pada tahun depan disusun berdasarkan proses perencanaan jangka panjang yang terus diperbarui secara berkala.
"Tahun depan itu akan bisa mencapai 1,3 miliar pound tembaga dan juga 1 juta ounces emas," ujar Tony dalam acara CNN Indonesia TV.
Menurut Tony, seluruh target produksi disusun berdasarkan proses forecast yang mengacu pada analisis teknis, pemodelan, serta rencana tambang (mine plan) yang telah dirancang secara berurutan.
"Semua kami melakukan perencanaan yang kami sebut dengan forecast. Ini semuanya berdasarkan suatu analisa, suatu modeling yang jelas, suatu mine plan yang terstruktur. Mine plan ini harus dilakukan secara sequence," katanya.
Tony menjelaskan karakteristik tambang bawah tanah membuat proses produksi tidak dapat dipercepat begitu saja untuk mengejar target yang lebih tinggi. Seluruh tahapan penambangan harus mengikuti urutan yang telah dirancang dalam rencana tambang.
"Enggak bisa kemudian, 'oh kok kita produksi lebih tinggi saja sekarang'. Enggak bisa seperti itu. Semuanya sudah terencana dan itu berdasarkan mine plan kita," jelasnya.
Meski optimistis target produksi dapat tercapai, Tony mengakui masih terdapat sejumlah tantangan operasional yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah proses pembersihan sisa lumpur yang masih membatasi akses di area tambang bawah tanah.
Selain itu, perusahaan juga tengah melakukan modifikasi pada sejumlah titik pengambilan bijih (draw point) karena kondisi material yang lebih basah dibandingkan perkiraan awal.
"Kita harus memodifikasi beberapa peralatan supaya bisa menampung bijih tersebut yang basah itu dengan baik supaya bisa disalurkan ke kereta listrik tanpa awak di bawah tanah dengan lebih efektif dan efisien," imbuhnya.
Tony menegaskan target produksi yang diumumkan bukan merupakan angka yang muncul dalam waktu singkat. PTFI secara rutin mengevaluasi dan memperbarui proyeksi produksinya setiap tiga bulan sebagai bagian dari rencana pengembangan jangka panjang perusahaan.
"Kita selalu secara berkala melakukan revisi forecast kita setiap tiga bulan. Ini tentu adalah bagian dari rencana jangka panjang yang sudah kita set up. Bahkan sampai tahun 2041 kita sudah lakukan planning kita," pungkasnya.
(ldy/sfr)