Bulog Klaim Stok Beras Aman Meski 35 Ribu Ha Sawah Terdampak El Nino
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan sekitar 35 ribu hektare (ha) sawah yang terdampak El Nino tidak akan mengganggu ketersediaan beras nasional.
Menurutnya, cadangan beras pemerintah (CBP) yang saat ini tersimpan di gudang Bulog, ditambah potensi panen yang masih berada di lahan, dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga panen raya tahun depan.
"Dengan stok yang per hari ini sudah 5,25 juta ton ditambah dengan standing crop sekitar 10 juta ton ditambah dengan horeka juga 10 juta ton maka (total) 25,257 juta ton. Sedangkan kebutuhan makan orang Indonesia itu setahun adalah 22,5 juta ton. Jadi masih lebih. Estimasi kami nanti panen di bulan Maret 2027 kita masih ada stoknya," kata Rizal di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (31/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan itu merespons paparan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang sebelumnya mengungkap sekitar 35 ribu hektare lahan pertanian mulai terdampak kekeringan akibat El Nino.
Lihat Juga : |
Meski demikian, pemerintah menilai luas lahan yang terdampak masih relatif kecil dan dapat diantisipasi melalui pompanisasi, perbaikan irigasi, serta dukungan cadangan pangan nasional.
Rizal mengatakan CBP yang saat ini mencapai 5,257 juta ton menjadi salah satu penyangga utama untuk menjaga pasokan apabila produksi sempat terganggu akibat cuaca.
Selain itu, pemerintah juga masih memiliki potensi produksi dari tanaman padi yang sedang tumbuh (standing crop) sekitar 10 juta ton, ditambah stok beras yang berada di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka) sekitar 10 juta ton.
Dengan total ketersediaan tersebut, Bulog memperkirakan kebutuhan konsumsi beras nasional yang mencapai sekitar 22,5 juta ton per tahun masih dapat dipenuhi hingga memasuki musim panen berikutnya.
Di sisi lain, Rizal mengatakan Bulog terus mengejar target penyerapan beras sesuai Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2026. Hingga 31 Juli, realisasi penyerapan beras telah mencapai 3,507 juta ton dari target 4 juta ton pada tahun ini.
"Sesuai dengan Inpres target kita adalah 4 juta ton. Kemudian untuk capaian per tanggal 31 Juli sekarang adalah 3,507 juta ton. Dan CBP kita hari ini di stok di gudang seluruh tanah air adalah 5,257 juta ton," ujarnya.
Ia optimistis target pengadaan 4 juta ton dapat tercapai lebih cepat dari akhir tahun.
"Estimasi sudah kami hitung dengan Direktur Pengadaan, di akhir September insya Allah itu 4 juta ton tembus kita capai," katanya.
Rizal mengatakan Bulog juga tetap melanjutkan penyaluran beras melalui berbagai program pemerintah, mulai dari Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), bantuan pangan, rencana penyediaan beras premium untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga pengalihan sebagian cadangan beras pemerintah menjadi beras premium.
Untuk mengantisipasi terus bertambahnya stok beras, Bulog juga mempercepat pembangunan infrastruktur penyimpanan. Rizal mengatakan pembangunan 100 gudang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun ini.
Menurut dia, proyek tersebut saat ini masih memasuki tahap lelang dan akan segera memasuki tahap peletakan batu pertama (groundbreaking). Pembangunan dilakukan di berbagai wilayah Indonesia dengan prioritas daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
"Sesuai arahan Pak Presiden dan Pak Menteri (Pertanian) untuk segera mewujudkan pembangunan 100 infrastruktur pascapanen yaitu 100 gudang dengan kelengkapannya. Sekarang sedang proses lelang, insya Allah secepatnya kita akan groundbreaking. Harapannya di Desember harus sudah ada yang jadi," ujar Rizal.
Ia mengatakan pembangunan gudang baru diperlukan untuk mengantisipasi peningkatan produksi beras, termasuk dari pengembangan program penanaman padi Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang diperkirakan mampu menghasilkan panen di atas 10 ton per hektare.
Selain memperkuat kapasitas penyimpanan, Rizal juga menyebut Bulog tengah menjajaki peluang ekspor beras ke sejumlah negara sesuai arahan Amran, di antaranya Malaysia dan beberapa negara sahabat lainnya apabila pasokan dalam negeri tetap mencukupi setelah kebutuhan nasional terpenuhi.
(del/pta)