Bos BGN Bantah MBG Habiskan APBN, Singgung Pupuk hingga Sekolah Rusak
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono membantah anggapan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menghabiskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Awalnya, Sudaryono bercerita dirinya gemas saat menemukan narasi dan komentar di sosial media bahwa MBG menguras anggaran negara.
"Saya gemes juga tuh lihat komentar di sosial media seolah-olah kan MBG ini menghabiskan anggaran negara," cerita Sudaryono dalam konferensi pers di kantor BGN, Jakarta Pusat, Jumat (31/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, kata dia, berbagai persoalan pembangunan seperti sektor pertanian, fasilitas sekolah, hingga kesejahteraan guru honorer sudah menjadi pekerjaan rumah pemerintah sejak lama, sebelum ada program MBG.
Sudaryono mencontohkan sektor pertanian terkait ketersediaan pupuk dan perbaikan irigasi. Menurutnya, masalah kelangkaan pupuk dan kerusakan jaringan irigasi sudah terjadi sejak dulu saat MBG belum dianggarkan.
Menurutnya, saat ini pemerintah tetap mencukupi kuota pupuk, memberikan diskon harga, hingga mengucurkan dana revitalisasi irigasi belasan triliun rupiah selama lima tahun ke depan, meski anggaran MBG dialokasikan.
"Dulu tidak ada MBG, artinya tidak ada anggaran yang kepakai untuk MBG, itu pupuknya kurang. Dan bahkan sekarang sudah anggarannya dipakai MBG, itu kemudian pupuknya dicukupi, harganya diskon," ujar Sudaryono.
"Dulu tidak ada MBG, itu banyak jaringan irigasi rusak loh. Sekarang ada MBG, ada revitalisasi irigasi Rp12 triliun, Rp14 triliun sampai dengan 5 tahun ini dibereskan semua," lanjutnya.
Lihat Juga : |
Sudaryono menekankan pemerintah menargetkan perbaikan hingga ratusan ribu gedung sekolah yang rusak secara bertahap, serta menaikkan kesejahteraan guru honorer.
"Anda harusnya bertanya dong dulu ke mana? Yang sekolah rusak itu dulu duit yang untuk MBG mestinya dari kemarin-kemarin dong. Harusnya sekolah sudah bagus semua, kan enggak," kata Sudaryono.
"Ada dipakai MBG, sekolahnya sekarang diperbaiki sama pemerintah. Tahun ini 90 ribu dan akan selesai 300 ribu atau hampir 400 ribu sekolah ini akan diperbaiki semua," tambahnya.
Sebelumnya, Sudaryono juga telah menepis anggapan bahwa MBG menggerus anggaran negara dan mengorbankan perbaikan sekolah.
Bantahan itu disampaikan di tengah viralnya sebuah foto yang memperlihatkan kondisi para siswa di SDN Tanggirejo, Grobogan, Jawa Tengah, yang sedang menyantap MBG di depan ruang kelas yang atapnya rusak.
Sudaryono menegaskan pemerintah justru terus meningkatkan jumlah sekolah yang direvitalisasi di tengah pelaksanaan program tersebut.
Ia menyebut pemerintah telah merenovasi lebih dari 16 ribu sekolah sepanjang 2025. Sementara, tahun ini, jumlah sekolah yang ditargetkan diperbaiki mencapai lebih dari 70 ribu unit.
"Tahun ini yang mau direnovasi itu lebih dari 70 ribu, bahkan Pak Mendikdasmen pernah mengutarakan bisa jadi hampir 90 ribu sekolah. Yang itu langsung dari pemerintah pusat," ujar Sudaryono ditemui di kantornya, Rabu (29/7).
Ia mengatakan narasi yang menyebut anggaran negara habis untuk membiayai MBG tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Menurut Sudaryono, berbagai program prioritas pemerintah tetap berjalan bersamaan.
"Kan ada semacam anggapan bahwa anggaran negara ini habis karena MBG. Pada kenyataannya ada MBG, yang dulu pupuk tidak cukup, sekarang pupuknya cukup. Bahkan harganya didiskon 20 persen," imbuhnya.
Selain itu, pemerintah juga tetap meningkatkan anggaran revitalisasi irigasi dari Rp12 triliun pada tahun lalu, meningkat menjadi Rp14 triliun pada tahun ini, dan akan terus berlanjut pada tahun depan.
Sudaryono menilai kondisi sekolah rusak bukan disebabkan oleh hadirnya program MBG. Karena itu, sambung Sudaryono, tidak tepat jika kondisi bangunan sekolah dibandingkan dengan dapur MBG yang baru dibangun.
"Dulu enggak ada MBG, sekolah itu rusak memang sebelum ada program MBG. Ini sekarang oleh Presiden (Prabowo Subianto) diperbaiki," katanya.
(fln/pta)
