Kolaborasi Pertamina Olah Sampah di Jabar Jadi Hidrogen Rendah Karbon

Pertamina | CNN Indonesia
Jumat, 31 Jul 2026 20:33 WIB
(Foto: dok Pertamina)
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina (Persero) berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) untuk memanfaatkan sampah menjadi hidrogen rendah karbon, biomethane, dan biofuel.

Kolaborasi itu menandai pembangunan ekosistem hidrogen terintegrasi, yang mendukung transisi energi dan penyelesaian persoalan sampah di Jabar. Kerja sama yang diresmikan dengan penandatanganan di Bandung pada Rabu (29/7) ini mencakup berbagai bidang kerja sama strategis, mulai dari pengembangan energi baru dan terbarukan, pengelolaan lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini mengatakan, salah satu fokus utama kerja sama adalah rencana pemanfaatan methane dari sampah di TPA Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat.

Biogas yang berasal dari sampah, selanjutnya dipurifikasi menjadi biomethane yang kemudian diproses menjadi hidrogen. Upaya tersebut merupakan bagian dari pengembangan ekosistem waste to energy.

"Kerja sama ini mencakup berbagai bidang, salah satunya pengelolaan sampah di kawasan TPA Sarimukti. Sampah yang diolah nantinya akan menghasilkan biogas, kemudian dikembangkan menjadi hidrogen dan biomethane," ujar Emma.

Menurut Emma, pengembangan proyek tersebut merupakan sinergi Pertamina Group agar tercipta rantai nilai energi bersih yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

"Program ini akan dikerjakan bersama Subholding Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dan Subholding Gas. Masing-masing memiliki peran dan tanggung jawab mulai dari penyediaan feedstock, pengolahan, pembangunan infrastruktur, hingga distribusi dan komersialisasi produk energi," katanya.

Emma menjelaskan, kolaborasi tersebut juga melibatkan mitra internasional, termasuk Hyundai dari Korea Selatan, sebagai bagian dari upaya mempercepat pengembangan teknologi energi low carbon. Bagi Pertamina, kolaborasi ini sangat strategis dalam pengembangan energi low carbon, khususnya hidrogen.

"Program ini kami harapkan menjadi percontohan dalam membangun ekosistem hidrogen di Indonesia. Apabila implementasinya berjalan dengan baik, model bisnis ini dapat diperluas dan direplikasi di berbagai daerah," ujarnya.

Sebagai perusahaan energi, Pertamina ditegaskan memiliki tanggung jawab untuk memastikan seluruh aktivitas usaha berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

"Harapan kami, kolaborasi ini memberikan manfaat bagi kedua belah pihak sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat sebagai bagian dari komitmen Pertamina terhadap community development dan pembangunan berkelanjutan," imbuh Emma.

Pada kesempatan yang sama, Pemprov Jabar juga melakukan groundbreaking Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan TPPAS Legok Nangka.

Saat beroperasi, fasilitas tersebut dirancang mampu mengolah sekitar 2.000 ton sampah per hari menjadi energi listrik berkapasitas sekitar 40 MW, sekaligus mendukung pengembangan hidrogen dan biomethane sebagai energi bersih. Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat mengurangi beban TPPAS Sarimukti sebagai lokasi utama pengelolaan sampah di kawasan Bandung Raya.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung mengatakan, pembangunan PSEL Legok Nangka merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat penyediaan energi bersih sekaligus menyelesaikan persoalan sampah.

"Kami berharap pembangunan fasilitas ini dapat berjalan sesuai rencana sehingga dapat segera beroperasi. Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih baik, meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, sekaligus menghasilkan energi bersih secara berkelanjutan melalui pemanfaatan energi baru terbarukan," ujar Yuliot.

Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2029 dengan kapasitas pembangkit sekitar 40 MW, yang diperkirakan mampu menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja. Proyek ini disebut dapat mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sampah menjadi energi dan bahan bakar terbarukan.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi optimistis, pembangunan PSEL Legok Nangka dapat semakin memperkuat posisi Jabar sebagai salah satu pusat pengembangan energi bersih di Indonesia.

Ia menyatakan, pengembangan fasilitas serupa akan diperluas ke sejumlah kawasan lain, sehingga persoalan sampah dapat ditangani secara lebih optimal, serta meningkatkan pasokan energi bersih di Jabar.

"Dengan hadirnya fasilitas pengolahan sampah menjadi energi ini, Jawa Barat akan semakin memperkuat posisinya sebagai provinsi penghasil energi bersih terbesar di Indonesia," tutup Dedi.

(rea/rir)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK