Cerita dari Ujung Jakarta: Neng Mae Raup Cuan dari Jajanan Khas Betawi

Endrapta Ibrahim Pramudhiaz | CNN Indonesia
Senin, 03 Agu 2026 14:05 WIB
Cerita dari Ujung Jakarta: Neng Mae Ubah Jajanan Tradisional Jadi Mesin Cuan
Jajanan khas Betawi dengan merek Neng Mae dibuat dari tempat sederhana, tetapi kini produk oleh-oleh itu bisa melintasi batas negara berkat digitalisasi. (Foto: CNN Indonesia/ Endrapta Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Beberapa tahun lalu, Umairoh hendak pulang ke kampung halaman suaminya di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Ia ingin membawa oleh-oleh khas Betawi, tetapi ada satu masalah yang tak ia duga sebelumnya.

Sebagai perempuan yang lahir dan besar di keluarga Betawi, Umairoh ingin membawa jajanan khas Jakarta. Sayangnya, ketika bukan musim Lebaran, makanan-makanan tradisional Betawi ternyata sulit ditemukan.

Ia kemudian meminta bantuan sang ibu untuk membuatkan akar kelapa, salah satu jajanan khas Betawi yang sangat dikenalnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari situlah sebuah pertanyaan muncul di benaknya: jika orang Jakarta asli saja kesulitan mencari oleh-oleh khas daerahnya sendiri, bagaimana dengan orang lain?

Pertanyaan itu terus mengendap hingga akhirnya melahirkan Neng Mae, sebuah UMKM yang fokus menjual jajanan tradisional Betawi.

"Saya coba validasi ke teman-teman yang merantau, benar enggak susah cari oleh-oleh Jakarta. Valid, memang susah. Akhirnya, lahir Neng Mae," kata Umairoh kepada para awak media yang sedang berkunjung ke rumah produksi Neng Mae di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (29/7).

Didirikan bersama sang suami pada 2019, Neng Mae memulai perjalanan bisnisnya dengan sangat sederhana. Produk pertamanya adalah akar kelapa yang dibuat menggunakan resep milik ibunya. Tak lama kemudian, Umairoh menggandeng seorang warga sekitar bernama Mala untuk memproduksi kacang ngumpet.

Di masa-masa awal, omzet yang diperoleh hanya sekitar Rp5 juta per bulan, itu pun pendapatan kotor. Meski begitu, bagi Umairoh, angka tersebut sudah cukup menjadi alasan untuk terus melangkah.

Ia mulai mencoba berbagai cara agar usahanya berkembang. Produk-produk Neng Mae dibawa ke bazar. Perlahan hasilnya terlihat. Pendapatan yang semula Rp5 juta meningkat menjadi sekitar Rp10 juta per bulan.

Namun, ketika usaha mulai menemukan ritmenya, pandemi Covid-19 datang. Aktivitas penjualan praktis melambat. Neng Mae hanya melayani pesanan pre-order. Selama hampir dua tahun, usaha itu berjalan tertatih-tatih sembari berusaha bertahan menghadapi situasi yang serba tidak pasti.

Alih-alih menyerah, Umairoh memilih berbenah. Pada 2021, Neng Mae melakukan rebranding. Salah satu perubahan yang dilakukan adalah mengganti kemasan produk.

Sebelumnya, mereka menggunakan kemasan berbentuk tabung. Namun, pengalaman pahit ketika produk pecah saat dikirim ke Bogor membuat mereka mencari alternatif yang lebih aman. Pilihan akhirnya jatuh pada kemasan pouch yang lebih kokoh dan praktis.

Variasi produk juga diperbanyak. Selain akar kelapa dan kacang ngumpet, Neng Mae mulai memproduksi biji ketapang, kembang goyang mini, rengginang mini, hingga kue arisah. Mereka juga menggandeng UMKM lain untuk menyediakan produk seperti bir pletok dan dodol Betawi.

Meski sudah melakukan berbagai inovasi, pertumbuhan bisnis masih berjalan lambat. Setelah rebranding pada 2021, pendapatan mereka tumbuh di angka yang sulit menutup kebutuhan opersional Neng Mae.

Pendapatan sempat bertahan di kisaran Rp10 juta per bulan, lalu naik menjadi Rp20 juta, kemudian Rp30 juta pada 2023. Setahun berikutnya omzet meningkat lagi hingga sekitar Rp40 juta per bulan.

Angka tersebut terlihat menjanjikan, tetapi di baliknya tersimpan persoalan lain.

Pada 2023, Umairoh dan suaminya memutuskan menyewa toko fisik di Rorotan. Kebutuhan produksi yang semakin besar membuat mereka membutuhkan tempat yang lebih layak untuk pengemasan sekaligus penjualan. Konsekuensinya, biaya operasional ikut membengkak.

Memasuki 2024, pendapatan yang diperoleh tidak lagi cukup untuk menutupi operasional usaha. Situasi itu membuat Umairoh sempat mempertimbangkan langkah yang pengusaha manapun tidak ingin ambil, yaitu pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya.

"Aku udah ngomong sama tim toko juga kayaknya kita mau ada PHK karena kita kayaknya sudah enggak sanggup menjalankan operasionalnya," ujar Umairoh.

Digitalisasi Jadi Titik Balik BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2