Jakarta, CNN Indonesia --
Beberapa tahun lalu, Umairoh hendak pulang ke kampung halaman suaminya di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Ia ingin membawa oleh-oleh khas Betawi, tetapi ada satu masalah yang tak ia duga sebelumnya.
Sebagai perempuan yang lahir dan besar di keluarga Betawi, Umairoh ingin membawa jajanan khas Jakarta. Sayangnya, ketika bukan musim Lebaran, makanan-makanan tradisional Betawi ternyata sulit ditemukan.
Ia kemudian meminta bantuan sang ibu untuk membuatkan akar kelapa, salah satu jajanan khas Betawi yang sangat dikenalnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari situlah sebuah pertanyaan muncul di benaknya: jika orang Jakarta asli saja kesulitan mencari oleh-oleh khas daerahnya sendiri, bagaimana dengan orang lain?
Pertanyaan itu terus mengendap hingga akhirnya melahirkan Neng Mae, sebuah UMKM yang fokus menjual jajanan tradisional Betawi.
"Saya coba validasi ke teman-teman yang merantau, benar enggak susah cari oleh-oleh Jakarta. Valid, memang susah. Akhirnya, lahir Neng Mae," kata Umairoh kepada para awak media yang sedang berkunjung ke rumah produksi Neng Mae di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (29/7).
Didirikan bersama sang suami pada 2019, Neng Mae memulai perjalanan bisnisnya dengan sangat sederhana. Produk pertamanya adalah akar kelapa yang dibuat menggunakan resep milik ibunya. Tak lama kemudian, Umairoh menggandeng seorang warga sekitar bernama Mala untuk memproduksi kacang ngumpet.
Di masa-masa awal, omzet yang diperoleh hanya sekitar Rp5 juta per bulan, itu pun pendapatan kotor. Meski begitu, bagi Umairoh, angka tersebut sudah cukup menjadi alasan untuk terus melangkah.
Ia mulai mencoba berbagai cara agar usahanya berkembang. Produk-produk Neng Mae dibawa ke bazar. Perlahan hasilnya terlihat. Pendapatan yang semula Rp5 juta meningkat menjadi sekitar Rp10 juta per bulan.
Namun, ketika usaha mulai menemukan ritmenya, pandemi Covid-19 datang. Aktivitas penjualan praktis melambat. Neng Mae hanya melayani pesanan pre-order. Selama hampir dua tahun, usaha itu berjalan tertatih-tatih sembari berusaha bertahan menghadapi situasi yang serba tidak pasti.
Alih-alih menyerah, Umairoh memilih berbenah. Pada 2021, Neng Mae melakukan rebranding. Salah satu perubahan yang dilakukan adalah mengganti kemasan produk.
Sebelumnya, mereka menggunakan kemasan berbentuk tabung. Namun, pengalaman pahit ketika produk pecah saat dikirim ke Bogor membuat mereka mencari alternatif yang lebih aman. Pilihan akhirnya jatuh pada kemasan pouch yang lebih kokoh dan praktis.
Variasi produk juga diperbanyak. Selain akar kelapa dan kacang ngumpet, Neng Mae mulai memproduksi biji ketapang, kembang goyang mini, rengginang mini, hingga kue arisah. Mereka juga menggandeng UMKM lain untuk menyediakan produk seperti bir pletok dan dodol Betawi.
Meski sudah melakukan berbagai inovasi, pertumbuhan bisnis masih berjalan lambat. Setelah rebranding pada 2021, pendapatan mereka tumbuh di angka yang sulit menutup kebutuhan opersional Neng Mae.
Pendapatan sempat bertahan di kisaran Rp10 juta per bulan, lalu naik menjadi Rp20 juta, kemudian Rp30 juta pada 2023. Setahun berikutnya omzet meningkat lagi hingga sekitar Rp40 juta per bulan.
Angka tersebut terlihat menjanjikan, tetapi di baliknya tersimpan persoalan lain.
Pada 2023, Umairoh dan suaminya memutuskan menyewa toko fisik di Rorotan. Kebutuhan produksi yang semakin besar membuat mereka membutuhkan tempat yang lebih layak untuk pengemasan sekaligus penjualan. Konsekuensinya, biaya operasional ikut membengkak.
Memasuki 2024, pendapatan yang diperoleh tidak lagi cukup untuk menutupi operasional usaha. Situasi itu membuat Umairoh sempat mempertimbangkan langkah yang pengusaha manapun tidak ingin ambil, yaitu pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya.
"Aku udah ngomong sama tim toko juga kayaknya kita mau ada PHK karena kita kayaknya sudah enggak sanggup menjalankan operasionalnya," ujar Umairoh.
Di tengah tekanan tersebut, ia mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai karyawan perusahaan, pada 2025 Umairoh mengundurkan diri dari pekerjaannya demi fokus sepenuhnya mengembangkan Neng Mae.
Ia sadar umur Neng Mae tidak akan lama jika dibiarkan begini. Terlebih, saat itu kompetitor dia sudah berada sekian langkah di depan mereka.
Keputusan itu menjadi titik balik. Dengan latar belakang sebagai business intelligence analyst, Umairoh mulai mempelajari lebih dalam pola penjualan digital di Shopee.
"Akhirnya saya pelajarin tentang Shopee, terutama karena channel terbesar Neng Mae di Shopee," ujar Umairoh.
Di e-commerce, ia tidak hanya berjualan, tetapi juga mencoba memahami cara kerja algoritma, perilaku konsumen, efektivitas iklan, hingga pola belanja pelanggan.
Berbekal data yang tersedia di Shopee Seller Dashboard, ia mulai mengambil berbagai keputusan bisnis yang lebih terukur.
Hasilnya datang dengan angka yang sulit dibayangkan. Pendapatan Neng Mae melonjak hingga sekitar 300 persen berkat digitalisasi.
Dari kondisi yang sebelumnya hanya berada di kisaran Rp25 juta hingga Rp30 juta per bulan, omzet mereka melesat mendekati Rp90 juta. Tak lama kemudian, tepatnya pada September 2025, Nengmae berhasil mencatatkan omzet tiga digit pertamanya.
Sejak saat itu, pendapatan bulanan mereka relatif stabil di atas Rp100 juta. Pada bulan-bulan normal, omzet berkisar antara Rp100 juta hingga Rp125 juta. Ketika musim ramai seperti Ramadan dan Lebaran tiba, angka tersebut dapat meningkat hingga Rp160 juta sampai Rp180 juta.
Lonjakan permintaan itu turut mengubah skala produksi. Saat ini, jika pada hari biasa mereka memproduksi sekitar 10 hingga 20 kilogram untuk setiap varian per pekan, saat musim puncak jumlahnya bisa melonjak menjadi 50 hingga 70 kilogram per varian.
Sebagian besar produk kini banyak terjual melalui platform digital. Sekitar 50 hingga 60 persen penjualan berasal dari e-commerce, salah satunya Shopee, sedangkan sisanya berasal dari toko fisik dan pemesanan dalam jumlah besar oleh perusahaan maupun instansi.
Bagi Umairoh, data menjadi kompas yang membantu menentukan arah bisnis.
Dari data tersebut, ia bisa mengetahui performa produk dan iklan yang dia pasang. Berbekal itu pula ia juga bisa membandingkan produk mana yang harus dipertahankan, mana yang mendapatkan perilaku sebaliknya.
Bahkan, berbekal data dari Shopee, ia bisa menentukan hari libur Neng Mae. Dari data yang disediakan, ia dapat mengetahui dalam sebulan di hari apa dan jam berapa saja tokonya sepi pembeli.
"Kayaknya kalau enggak ada Shopee Sheller Dashboard mungkin aku masih buta dan enggak tahu apa yang harus dilakukan sekarang," ujar Umairoh.
[Gambas:Photo CNN]
Berdayakan Warga Sekitar
Perjalanan Neng Mae tidak berhenti di pasar lokal. Produk-produk mereka pernah dikirim ke Jepang dan Malaysia melalui pesanan dalam jumlah besar. Kini, mereka juga tengah menjajaki pasar ekspor yang lebih luas melalui Shopee Export.
Ekspor melalui Shopee Export dinilai lebih mudah karena Umairoh tak perlu berkoordinasi secara langsung dengan pembeli di luar negeri. Ada tim dari Shopee yang menangani hal tersebut.
Di balik setiap kemasan jajanan yang dikirim ke luar negeri, tersimpan cerita para perempuan di Rorotan yang ikut tumbuh bersama Neng Mae.
Saat ini, sekitar 12 orang terlibat dalam proses produksi. Salah satunya adalah Mala, perempuan yang sejak awal diajak Umairoh memproduksi kacang ngumpet.
Di rumah produksinya yang sederhana, Mala mengolah jajanan tradisional menggunakan peralatan yang jauh dari kata mewah. Sebuah kompor kecil, wajan besar, dan peralatan memasak sederhana menjadi saksi perjalanan mereka. Namun dari tempat sederhana itulah lahir produk yang kini telah melintasi batas negara.
Bagi Umairoh, keberhasilan Neng Mae tidak hanya diukur dari besarnya omzet. Ada kepuasan tersendiri ketika usaha yang ia bangun mampu membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar.
Keinginan untuk memberi manfaat bagi banyak orang menjadi alasan yang terus ia pegang sejak awal merintis usaha.
"Ini klise, tapi benar-benar dari dulu pengen banget bisa jadi manfaat buat banyak orang," ujar Umairoh.
Kini, setelah melewati masa sulit pandemi, tantangan operasional, hingga perjuangan beradaptasi dengan dunia digital, Neng Mae memasuki babak baru.
Umairoh memiliki mimpi yang terdengar sederhana, tetapi tidak kecil. Ia ingin menjadikan Neng Mae sebagai ikon oleh-oleh Jakarta.
Ia membayangkan suatu hari nanti orang yang datang ke Ibu Kota akan langsung teringat pada jajanan Betawi milik Neng Mae sebagaimana orang mengingat bakpia ketika berkunjung ke Yogyakarta.
"Lima tahun dari sekarang kami bukan hanya ingin cuma jualan oleh-oleh, tapi benar-benar ingin jadi brand-nya Jakarta, ikonnya Jakarta. Jadi, setiap orang ke Jakarta ingatnya sama Neng Mae," ujar Umairoh.
Untuk menuju ke situ, ia sebenarnya sudah mulai menjajaki berbagai langkah seperti mendistribusikan produk Neng Mae melalui ritel modern ternama dan juga sejumlah hotel. Selain itu, ia juga ingin memiliki toko di tengah kota Jakarta.
"Cita-cita terbesar kami ingin punya toko di tengah kota sih karena kan Neng Mae susah banget dijangkau (lokasinya). Di ujung banget nih," ujar Umairoh.
Dari sebuah sudut di Rorotan, Jakarta Utara, akar kelapa, biji ketapang, hingga kembang goyang kini tidak lagi sekadar camilan tradisional.
Di tangan Umairoh dan para perempuan yang bekerja bersamanya, jajanan-jajanan itu telah menjelma menjadi cerita tentang ketekunan, keberanian beradaptasi, dan keyakinan bahwa warisan budaya juga bisa tumbuh menjadi mesin cuan di era digital.
[Gambas:Video CNN]