Bagaimana Nasib Rupiah usai Tembus di Level Rp18 Ribu?
Pelemahan rupiah hingga menembus level Rp18.100 per dolar AS belum tentu berlanjut ke Rp18.500 dalam waktu dekat menurut analis.
Rupiah beberapa kali menyentuh level psikologis Rp18.100 per dolar AS sepanjang pekan terakhir Juli. Mata uang Garuda ditutup di level Rp18.100 per dolar AS pada 28 Juli, kemudian melemah menjadi Rp18.108 per dolar AS pada 29 Juli, sebelum menyentuh Rp18.111 per dolar AS pada 30 Juli, yang menjadi level terlemah sepanjang pekan tersebut.
Pada perdagangan Jumat (31/7), rupiah kembali menguat dan ditutup di level Rp18.022 per dolar AS, naik 89 poin atau 0,49 persen dibandingkan sehari sebelumnya.
Meski peluang merosot ke Rp18.500 terbuka, analis menilai pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global maupun respons pemerintah terhadap berbagai isu domestik.
Lihat Juga : |
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan secara jangka pendek rupiah berpeluang bertahan di bawah level Rp18.500 per dolar AS.
"Jangka pendek lebih mungkin tidak akan ke Rp18.500," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Jumat (31/7).
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah masih berasal dari faktor eksternal, terutama harga minyak dunia dan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).
Namun, ia melihat sejumlah perkembangan terakhir justru mengurangi tekanan terhadap dolar AS.
"Faktor utama masih dari eksternal, harga minyak dunia dan prospek suku bunga The Fed. Namun kalau melihat perkembangan belakangan ini, minyak walau masih tinggi, namun cukup stabil dan data ekonomi AS yang kemarin dirilis sangat negatif bagi dolar AS," kata Lukman.
Sementara itu, pengamat pasar uang Ariston Tjendra menilai peluang rupiah melemah ke Rp18.500 per dolar AS masih terbuka.
Meski demikian, kecepatan pelemahannya akan ditentukan oleh respons pemerintah terhadap berbagai kebijakan yang menjadi perhatian pelaku pasar, serta perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.
Ariston menjelaskan respons pemerintah dalam menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian domestik juga dinilai menjadi faktor penting yang menentukan arah pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan.
Di sisi lain, Ariston berpendapat apabila konflik geopolitik kembali memicu lonjakan harga energi dan inflasi global, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut dapat memperkuat dolar AS sekaligus memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
"Kecepatannya tergantung sejauh mana pemerintah menanggapi isu program-program yang disorot pasar dan situasi perang Iran-AS yang bisa mendorong kenaikan suku bunga acuan AS," pungkasnya.
(lau/pta)