Laba KAI Turun 73 Persen Jadi Rp314 M per Juni 2026

CNN Indonesia
Senin, 03 Agu 2026 11:33 WIB
PT KAI mencatat penurunan laba bersih 73 persen di semester I 2026, meski pendapatan tumbuh 6,61 persen. (FOTO:CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI membukukan penurunan laba bersih pada periode Januari-Juni 2026 meski pendapatan dan kinerja operasional perusahaan tetap tumbuh.

Berdasarkan laporan keuangan unaudited KAI Group, laba tahun berjalan tercatat sebesar Rp314,03 miliar, turun sekitar 73 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp1,18 triliun.

Di sisi lain, pendapatan KAI Group justru meningkat 6,61 persen menjadi Rp17,96 triliun pada semester I 2026, dari Rp16,85 triliun pada semester I 2025.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti penguatan bisnis inti perusahaan. Laba bruto naik 18,81 persen menjadi Rp6,79 triliun, sedangkan laba usaha meningkat 25,79 persen menjadi Rp4,66 triliun.

"Pertumbuhan pendapatan dan laba usaha menjadi modal penting bagi KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan, kesiapan sarana dan prasarana, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kinerja bisnis yang kuat juga mendukung keberlanjutan pengembangan layanan penumpang dan barang," kata Anne dalam keterangan resmi, Minggu (2/8).

Menurut KAI, penurunan laba bersih bukan disebabkan melemahnya bisnis utama perusahaan, melainkan meningkatnya pencatatan bagian rugi bersih dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan.

Nilai rugi bersih dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan meningkat dari Rp948,20 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp3 triliun pada semester I 2026.

Dampaknya, laba sebelum pajak turun menjadi Rp842,69 miliar dari sebelumnya Rp1,86 triliun, sementara laba tahun berjalan menyusut menjadi Rp314,03 miliar.

Di tengah penurunan laba bersih tersebut, aktivitas operasional KAI terus tumbuh. Sepanjang paruh pertama 2026, KAI Group melayani 258,99 juta pelanggan atau naik 7,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 240,81 juta pelanggan.

Dari jumlah tersebut, sekitar 235,14 juta pelanggan atau 90,79 persen merupakan pengguna layanan yang mencakup skema Public Service Obligation (PSO), kereta api perintis, penugasan pemerintah, serta layanan komersial.

Anne mengatakan besarnya porsi layanan tersebut menunjukkan peran KAI sebagai penyedia transportasi publik yang didukung berbagai program pemerintah.

"Kepercayaan Pemerintah melalui PSO, KA Perintis, dan berbagai penugasan memberi ruang bagi KAI untuk melayani masyarakat secara lebih luas. KAI menjaga agar layanan tersebut tetap selamat, andal, tertib, dan sesuai kebutuhan pelanggan," ujarnya.

Selain angkutan penumpang, bisnis logistik juga menjadi penopang pertumbuhan perusahaan. Selama enam bulan pertama 2026, KAI mengangkut 32,5 juta ton barang, terdiri atas 26,53 juta ton batu bara dan 5,96 juta ton komoditas nonbatu bara.

Perseroan juga memperkuat kapasitas angkutan barang dengan mendatangkan 1.080 gerbong datar di Sumatra serta mengembangkan layanan KA Brumbung Cargo yang mampu mengangkut hingga 800 ton per rangkaian. Sementara itu, volume angkutan peti kemas mencapai sekitar 2,62 juta ton pada semester I tahun ini.

Dari sisi neraca keuangan, total aset KAI Group per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp104,79 triliun. Total liabilitas turun menjadi Rp65,11 triliun dari Rp66,14 triliun pada akhir 2025, sedangkan ekuitas meningkat menjadi Rp39,69 triliun.

Aset lancar perusahaan juga naik menjadi Rp21,04 triliun, sementara kewajiban jangka pendek turun menjadi Rp15,17 triliun. Dengan demikian, aset lancar KAI masih berada di atas kewajiban jangka pendek yang harus dipenuhi.

Ke depan, KAI menyatakan akan melanjutkan transformasi bisnis bersama BPI Danantara Indonesia melalui peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, penguatan tata kelola, modernisasi sarana dan layanan, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia.

(del/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK