Neraca Dagang RI Kembali Defisit US$450 Juta pada Juni 2026

CNN Indonesia
Senin, 03 Agu 2026 12:38 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (25/6/2019).  Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2019 mengalami surplus sebesar 210 juta dolar AS dengan nilai ekspor mencapai 14,
BPS mencatat neraca dagang RI kembali defisit pada Juni 2026 sebesar US$450 juta. Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Juni 2026 surplus US$3,58 miliar. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 defisit US$450 juta. Artinya, neraca defisit dua bulan beruntun setelah kinerja minus US$1,6 miliar pada Mei 2026.

Namun, secara kumulatif Januari-Juni 2026 masih tercatat surplus US$3,58 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan defisit bulan lalu berasal dari komoditas migas sebesar US$3,49 miliar, sementara nonmigas surplus sebesar US$3,04 miliar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Defisit pada Juni 2026 terutama disebabkan oleh defisit pada komoditas migas, yaitu defisit sebesar US$3,49 miliar dengan komoditas utama penyumbang defisit pada migas yaitu hasil minyak dan juga minyak mentah," ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (3/8).

Defisit terjadi karena kinerja ekspor yang tercatat US$25,46 miliar lebih rendah dibandingkan impor yang tercatat sebesar US$25,91 miliar per Juni 2026.

Sementara itu, secara kumulatif, komoditas penyumbang defisit yakni mesin dan peralatan mekanik (HS 84) defisit sebesar US$15,93 miliar, mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) defisit US$7,98 miliar, serta plastik dan barang dari plastik (HS 39) defisit US$4,72 miliar US.

Berdasarkan negaranya, penyumbang defisit terbesar adalah China senilai US$14,26 miliar, Australia minus US$3,97 miliar, dan Prancis minus US$1,49 miliar.

[Gambas:Video CNN]

(fln/sfr)