Bos BGN Ancam Tutup Dapur MBG Sebabkan Keracunan

CNN Indonesia
Kamis, 06 Agu 2026 09:05 WIB
Kepala BGN Sudaryono menegaskan SPPG alias dapur program MBG yang menyebabkan kasus keracunan akan langsung disuspensi dan diinvestigasi. (CNN Indonesia/Dela Naufalia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan kasus keracunan akan langsung disuspensi dan diinvestigasi.

Jika terbukti melanggar standar operasional maupun persyaratan keamanan pangan, Bos BGN itu menyatakan tidak akan ragu menghentikan operasional dapur tersebut.

"Setiap kejadian itu satu dapurnya disuspensi. Makanannya kemudian dicek di laboratorium oleh Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan. Kemudian SPPG-nya kami copot, dan kami investigasi sebetulnya keracunannya karena apa," ujar Sudaryono dalam konferensi pers di Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (5/8).

Menurut Sudaryono, BGN kini mengategorikan setiap kasus keracunan dalam program MBG sebagai persoalan yang sangat serius karena menyangkut keselamatan penerima manfaat, terutama anak-anak.

Ia menegaskan target pemerintah bukan sekadar menurunkan jumlah kasus, melainkan menghilangkannya sama sekali.

"Keracunan ini menjadi suatu hal yang fatal. Ini nyawa seseorang, ini kesehatan seseorang, ini keamanan seorang anak yang harus kita jamin. Zero tolerance sama keracunan. Target saya bagaimana caranya nol kasus keracunan," ujarnya.

Sudaryono mengatakan hasil evaluasi sementara menunjukkan sebagian kasus dipicu pelanggaran prosedur operasional standar (SOP), terutama terkait waktu pengolahan makanan yang terlalu jauh dari jadwal penyajian.

Ia mencontohkan kasus di Papua, di mana berdasarkan catatan operasional dapur, makanan mulai dimasak sejak pagi hari sebelumnya untuk disajikan keesokan harinya menjelang siang.

"Di Papua kita lihat dari log dapurnya, memang memulai masaknya kecepatan. Kalau enggak salah jam 7 atau setengah 8 (malam) hari sebelumnya untuk diberi makan di hari berikutnya jam 11 (siang). Itu sudah melanggar. Termasuk yang di Semarang juga sama, mulai masak jam 9 malam. Sekarang tinggal bagaimana masalah kedisiplinan ini," ujarnya.

Selain faktor kelalaian, BGN juga membuka kemungkinan adanya unsur lain di balik kasus keracunan. Jika dalam investigasi ditemukan indikasi kesengajaan atau sabotase, kasus tersebut akan diserahkan kepada aparat penegak hukum.

"Kalau memang ada unsur-unsur lain, misalnya ada unsur kesengajaan, sabotase, kami tidak segan-segan untuk diperiksa oleh pihak kepolisian. Kalau salah ngapain dibela," ujar Sudaryono.

Meski demikian, Sudaryono menegaskan setiap kasus akan diperiksa secara menyeluruh dengan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah.

Sudaryono mencontohkan terdapat kasus di mana makanan MBG telah diproduksi dan didistribusikan sesuai prosedur, tetapi kemudian dibungkus dan dibawa pulang oleh siswa untuk dikonsumsi bersama keluarga.

Akibatnya, bukan hanya siswa yang mengalami gangguan kesehatan, tetapi juga anggota keluarganya. Menurut dia, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi melalui edukasi kepada peserta didik.

Karena itu, BGN akan memperkuat fungsi edukasi di sekolah melalui guru yang bertugas sebagai person in charge (PIC) program MBG.

Selain mendampingi pelaksanaan makan bersama, guru juga diharapkan mengingatkan siswa mengenai tata cara konsumsi makanan, termasuk agar makanan MBG tidak dibawa pulang.

Dalam kesempatan sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pihaknya langsung turun setiap kali muncul laporan dugaan keracunan dalam program MBG.

Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium pada salah satu kasus, ditemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada beberapa jenis makanan yang disajikan.

"Begitu ada keracunan, tim Kementerian Kesehatan sudah turun. Laporannya sudah ada, hasil lab-nya juga sudah ada. Memang kami identifikasi ada beberapa makanan yang terdapat bakteri E. coli, bukan hanya semangka, tetapi juga beberapa makanan lain," kata Budi.

Ia mengatakan pihaknya juga telah mengidentifikasi titik permasalahan dalam proses pengolahan makanan dan menyampaikan hasil evaluasi tersebut kepada BGN sebagai bahan perbaikan.

"Kami juga sudah melihat masalahnya ada di proses yang mana dan sudah memberikan masukan ke BGN mengenai masalah-masalah yang terjadi di SPPG tersebut," ujarnya.

Belakangan, dugaan keracunan dalam program MBG kembali menjadi sorotan setelah ratusan siswa di SMKN 6 Semarang dan puluhan siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, mengalami gejala seperti mual, pusing, hingga lemas usai mengonsumsi makanan MBG.

Penyebab pasti kedua kejadian tersebut masih dalam proses penyelidikan dan pemeriksaan laboratorium oleh pihak berwenang.

(del/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK