Harga Minyak Dunia Lumer ke US$79,08 Pagi Ini Berkat Sinyal Damai

CNN Indonesia
Kamis, 06 Agu 2026 10:15 WIB
Ancaman tersebut muncul ketika kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim telah meluncurkan serangan rudal terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di dekat pelabuhan Yanbu di Laut Merah serta kapal tanker lain di Teluk Aden. Hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Arab Saudi mengenai insiden tersebut. (FOTO:AFP/IAN TIMBERLAKE).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Kamis (6/8), setelah pelaku pasar mencermati perkembangan perundingan antara Iran dan Oman yang dinilai berpotensi membuka jalan menuju kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Optimisme tersebut memicu harapan berakhirnya konflik yang telah berlangsung selama lima bulan sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 37 sen atau 0,5 persen menjadi US$79,08 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi 53 sen atau 0,7 persen ke level US$74,69 per barel.

Pada perdagangan sebelumnya, Brent ditutup menguat tipis, sedangkan WTI berakhir sedikit lebih rendah.

Ekonom Nomura Securities Yuki Takashima mengatakan tekanan jual muncul setelah muncul laporan bahwa pembicaraan antara Iran dan Oman menunjukkan perkembangan positif.

Menurutnya, harga minyak saat ini pada dasarnya telah kembali ke level ketika AS dan Iran menandatangani perjanjian damai sementara pada 17 Juni lalu. Investor kini menanti apakah kedua negara mampu mencapai kesepakatan final yang benar-benar mengakhiri konflik.

Perkembangan terbaru menunjukkan Iran dan Oman tengah membahas proposal untuk mengakhiri konflik AS-Iran.

Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz sudah dekat, tetapi para pejabat AS berulang kali menegaskan Washington tidak akan menyetujui Iran mengendalikan akses menuju jalur perdagangan energi terpenting di dunia tersebut.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik masih membayangi pasar. Iran memperingatkan negara-negara Teluk bahwa setiap serangan baru dari AS ke wilayahnya akan dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi strategis di kawasan.

Ancaman tersebut muncul ketika kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim telah meluncurkan serangan rudal terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di dekat pelabuhan Yanbu di Laut Merah serta kapal tanker lain di Teluk Aden. Hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Arab Saudi mengenai insiden tersebut.

Takashima menilai ancaman serangan Houthi terhadap jalur pelayaran di Laut Merah masih menjadi faktor yang membatasi optimisme pasar terhadap normalisasi distribusi energi di Timur Tengah. Selama risiko keamanan masih tinggi, gangguan terhadap rantai pasok minyak global dinilai belum sepenuhnya berakhir.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mendapat sentimen negatif dari kenaikan stok minyak mentah AS.

(ldy/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK