Bahlil Kenang Didemo 1,5 Bulan Gara-gara Larangan Ekspor Bijih Nikel
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membagikan pengalamannya saat menghadapi gelombang demonstrasi selama 1,5 bulan ketika awal penerapan kebijakan larangan ekspor bijih nikel.
Kisah tersebut pun ia tuangkan dalam satu dari 10 buku yang baru saja diluncurkan. Bahlil menceritakan momen itu terjadi pada 2019, saat ia baru empat hari menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Ia langsung mendapat perintah dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan untuk segera merumuskan kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel.
"Di awal-awal, mulanya Bapak Presiden Jokowi dan Pak Luhut, empat hari kemudian memerintahkan saya, Kepala BKPM, saya tidak mau tahu caranya, larang ekspor nikel," ujar Bahlil dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku "10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia" di Jakarta Pusat, Jumat (7/8).
Bahlil mengaku sempat kebingungan saat menerima perintah tersebut. Menurutnya, kewenangan seharusnya berada di bawah Kementerian ESDM.
"Saya ini seperti baru selesai taruna, tiba-tiba disuruh untuk perang di lapangan. Aturan pun kita belum tahu," ujar Bahlil.
Ia kemudian mendatangi Menteri Sekretaris Negara saat itu, Pratikno, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung, untuk menanyakan apakah ada dasar hukum pelarangan tersebut.
"Kemudian saya datang ke guru saya, mentor, yaitu Pak Mensesneg, waktu itu Pak Pratikno sama Pak Pram. Saya tanyanya kepada mereka apakah ada aturan yang memungkinkan untuk melarang ekspor mikir ini? Kata beliau, ya itu pintar-pintar kamu saja," ujar Bahlil.
Berbekal arahan tersebut, Bahlil mengumpulkan seluruh pengusaha nikel, industri penambang, dan eksportir. Rapat itu menghasilkan keputusan untuk menghentikan ekspor bijih nikel meski tanpa ada surat keputusan menteri.
Keputusan itu langsung memicu aksi protes yang panjang. Ketika Bahlil melaporkan hal tersebut kepada Luhut, ia justru diminta untuk menghadapi demonstrasi itu sendirian.
"Waktu itu kita dihajar terus. Saya didemo 1,5 bulan. Kata Opung, Lil, kau aja dulu hadapilah. Jadi junior ini paling tidak enak sekali. 1,5 bulan saya didemo, karena kita mantan tukang demo saya pikir mungkin ini bagian daripada olahan mereka," ujar Bahlil.
Selain urusan nikel, Bahlil turut mengenang keberhasilannya mengeksekusi proyek ekosistem baterai kendaraan listrik senilai US$8,6 miliar. Saat itu, ia ditugaskan untuk bernegosiasi dengan perwakilan dari China, Jepang, dan Korea Selatan.
"Jadi pulang, goal US$8,6 miliar tereksekusi tanpa bahasa Inggris. Tidak ada bahasa Inggris. Jangan tanya saya bahasa Inggris saya berapa. Saya pulang, saya lapor sama Presiden Jokowi," ujar Bahlil.
Namun, ia mengaku sempat menceritakan kepada Jokowi kalau dia malu saat bernegosiasi. Ia malu lantaran harus bernegosiasi dengan menteri-menteri luar negeri, sementara ia hanya dengan menyandang jabatan Kepala Badan.
"Saya ketemunya itu sama Menkonya, saya cuma kepala badan. Sekalipun di negara kita tahu kepala badan itu setingkat menteri," ujar Bahlil.
Pengalaman itu disebut Bahlil sebagai cikal bakal berdirinya Kementerian Investasi yang saat ini digabungkan dengan BKPM. Kini nomenklaturnya menjadi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang dipimpin oleh Rosan Roeslani.
"Jadi Pak Rosan, mohon maaf, sebagian hak cipta saya ada di BKPM. Sejak 2021, feeling saya, Kementerian Investasi itu harus menjadi Kementerian Investasi dan Hilirisasi. Makanya Deputi Hilirisasi sudah ada sejak tahun 2021," ujar Bahlil.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani yang hadir dalam acara tersebut turut memberikan apresiasi atas rekam jejak pendahulunya. Ia bangga atas pengalaman panjang Bahlil yang mampu tertuang menjadi 10 buku sekaligus.
"Orang biasanya meluncurkan buku satu, ini langsung 10. Buku ini saya yakin akan menjadi inspirasi bagi anak-anak muda, bagi anak-anak yang mungkin tadinya di banyak daerah, di banyak tempat, melihat bahwa keberhasilan itu bisa datang apabila kita memang selalu berani melangkah dengan niat yang baik, insyaallah itu bisa terwujud," ujar Rosan.