Bos BGN Minta Guru Makan MBG Bareng Siswa di Kelas

CNN Indonesia
Senin, 10 Agu 2026 16:40 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono meminta guru ikut menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama siswa di kelas. (CNN Indonesia/Dela Naufalia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono meminta guru ikut menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama siswa di kelas.

Sudaryono juga meminta guru berperan dalam mengedukasi siswa mengenai kebersihan dan tata tertib makan sekaligus memastikan makanan yang dibagikan dalam kondisi layak dikonsumsi.

Permintaan itu disampaikan Sudaryono dalam rapat koordinasi bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti serta jajaran BGN pusat dan daerah yang membahas pelaksanaan program MBG di sekolah.

Ia mengatakan guru selama ini turut mendampingi siswa dalam proses pembagian MBG, mulai dari mengantre, mengambil makanan, hingga mengajak siswa mencuci tangan dan berdoa sebelum makan.

"Namun sekali lagi saya ingin dan menginginkan dan memohon dengan kesediaannya kepada bapak-ibu guru, untuk menu MBG-nya dimakan bersama-sama dengan siswa. Tujuannya tadi disampaikan oleh Bapak Menteri (Abdul Mu'ti) adalah untuk supaya sebagai ajang edukasi, menjadi tempat untuk mengedukasi siswa tadi. Apakah cuci tangan, berdoa dan proses tata krama ini," ujar Sudaryono dikutip dari unggahan Instagram resminya, Senin (10/8).

Menurut Sudaryono, makan bersama di kelas dapat menjadi sarana bagi guru untuk mengajarkan kebiasaan makan yang baik kepada siswa. Guru juga diminta berperan sebagai pemeriksa terakhir secara organoleptik untuk menilai apakah makanan layak dibagikan kepada siswa.

"Selain itu juga di situ bapak-ibu guru sebagai perannya kami mohon sebagai organoleptik yang terakhir. Manakala (makanan MBG) tidak layak, itu kemudian wajib hukumnya tidak dibagikan," ujar Sudaryono.

BGN juga akan menerapkan aturan baru mulai pekan depan. Setiap ompreng MBG akan diberi tanda atau peringatan mengenai batas waktu makanan tersebut harus dikonsumsi.

Sudaryono meminta guru tidak mengonsumsi makanan yang sudah melewati batas waktu tersebut. Hal yang sama berlaku bagi siswa.

"Kemudian juga harus, kemudian kalau memang jamnya di dalam ompreng itu sudah melebihi jam yang tertera di dalam omprengnya, kami minta bapak-ibu guru tidak boleh mengonsumsi dan apalagi peserta didiknya atau anak didiknya, siswanya juga tidak boleh mengonsumsi manakala sudah melawati batas dari jam yang ditentukan," ujar Sudaryono.

Ia mengakui aturan tersebut menambah peran guru dalam pelaksanaan MBG. Namun, Sudaryono mengatakan peran tersebut sekaligus menjadi bagian dari fungsi pendidikan dan pemeriksaan makanan sebelum disantap siswa.

Sudaryono juga menyoroti kebiasaan sejumlah siswa membawa pulang makanan MBG untuk diberikan kepada keluarga. Ia memahami alasan tersebut karena bagi sebagian siswa di daerah pelosok, lauk seperti telur, ayam, dan ikan tidak selalu tersedia dalam menu sehari-hari.

"Banyak di antara peserta didik kita ini ternyata hatinya baik. Saya sendiri berasal dari satu desa, saya paham sekali itu bahwa telur, ayam, ikan ini adalah barang yang bagi sebagian orang khusus yang di pelosok ini adalah barang yang jarang dia makan sehari-hari," ujar Sudaryono.

Menurut Sudaryono, ada siswa yang sengaja menyisihkan makanan karena teringat keluarganya di rumah, kemudian membungkus dan membawanya pulang. Namun, ia meminta kebiasaan tersebut dihentikan karena makanan MBG dapat mengalami penurunan kualitas apabila terlalu lama disimpan.

"Kemudian dia bungkus, dia bawa pulang. Jadi kami mohon sesuai dengan petunjuk teknis bapak-ibu (guru) semua, itu sebaiknya tidak dibawa pulang," katanya.

Sudaryono mengatakan kebiasaan membawa pulang makanan juga disebut berkaitan dengan sejumlah kasus keracunan. Dalam beberapa kasus, menurut dia, anggota keluarga di rumah ikut mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG yang dibawa pulang siswa.

"Ini menjadi satu kes keracunan di beberapa titik bapak-ibu guru adalah itu. Bahkan yang keracunan bukannya siswanya, tapi bapak-ibu orang tua di rumah ikut keracunan karena makanan yang dibawa pulang tadi. Sekali lagi, keamanan itu menjadi yang paling utama dulu," ujar Sudaryono.

Karena itu, ia meminta sekolah mencatat siswa yang membawa pulang MBG dan memberi tahu orang tua mengenai risiko mengonsumsi makanan yang sudah melewati batas waktu.

"Itu saya berharap, itu kemudian dicatat nama siswanya dan orang tuanya dikasih tahu. Maksud saya dikasih tahu untuk bahwa ini makanan rawan loh, kalau dimakan bisa menimbulkan sakit perut, bisa menimbulkan keracunan, karena kalau dibawa pulang sudah rusak," imbuh Sudaryono.

(del/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK