Airlangga Kasih PR ke Maman: Kredit UMKM Harus Tembus Rp2.000 T
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman untuk mendorong penyaluran kredit usaha 'wong cilik' hingga Rp2.000 triliun sepanjang 2026.
Airlangga mengatakan target tersebut dinaikkan dari realisasi kredit UMKM sektor perbankan yang saat ini berada di kisaran Rp1.500 triliun. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total kredit UMKM perbankan hingga Juni 2026 mencapai Rp1.519,35 triliun.
"Kalau target yang disampaikan total kredit kita kan Rp9.000 triliun, tadi laporannya Pak Maman Rp1.500 triliun. Sebetulnya, idealnya itu kan 30 persen. Tapi, kalau 30 persen kan berarti Rp3.000 triliun," kata Airlangga dalam UMKM Finance Summit 2026 di Jakarta, Selasa (11/8).
Menurut Airlangga, target ideal 30 persen dari total kredit perbankan memang setara sekitar Rp3.000 triliun. Namun, Airlangga menilai kenaikan dari Rp1.500 triliun menjadi Rp3.000 triliun dinilai terlalu besar untuk dikejar dalam waktu singkat.
"Loncat dari Rp1.500 triliun ke Rp3.000 triliun itu kan loncat 100 persen. Gimana kalau kita turunkan ke Pak Maman Rp2.000 triliun. Jadi, saya bilang ini saja yang saya ingin sampaikan di summit, naik ke Rp2.000 triliun," ujarnya.
Airlangga mengatakan tantangan berikutnya adalah mendorong pembiayaan bagi UMKM di luar skema Kredit Usaha Rakyat (KUR). Tahun ini, pemerintah menyiapkan KUR sekitar Rp370 triliun hingga Rp400 triliun.
Menurutnya, pembiayaan UMKM perlu diperluas ke segmen usaha yang membutuhkan kredit dengan nilai lebih besar, sehingga pelaku UMKM dapat naik kelas.
"Kalau kita dari KUR kan siram Rp370 triliun sampai Rp400 triliun. Jadi, sisanya itu yang bukan kredit yang di bawah Rp500 juta atau bahkan Rp10 miliar, tapi itu naik sampai Rp50 miliar ke atas. Nah, inilah PR tambahan untuk Pak Maman," jelas Airlangga.
Kendati, Airlangga mengingatkan peningkatan penyaluran kredit juga harus diikuti dengan pengelolaan risiko oleh perbankan.
Dalam hal ini, pemerintah perlu memastikan ekspansi pembiayaan UMKM tetap sehat seiring dengan dorongan untuk meningkatkan akses kredit.
Berdasarkan data OJK, total pembiayaan UMKM lintas sektor jasa keuangan mencapai Rp1.948,72 triliun pada Juni 2026. Angka tersebut tumbuh 2,16 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Dari total tersebut, kredit UMKM yang disalurkan melalui sektor perbankan mencapai Rp1.519,35 triliun. Nilai tersebut setara dengan 16,73 persen dari total kredit perbankan dan tumbuh 1,05 persen yoy.
Adapun rasio kredit bermasalah (NPL) UMKM tercatat sebesar 4,54 persen.
(lau/sfr)