Harga Minyak Dunia Naik ke US$89, Pasar Ragukan Kesepakatan AS-Iran
Harga minyak dunia naik menjadi S$89,63 per barel pada perdagangan Rabu (12/8) pagi. Kenaikan terjadi di tengah memudarnya optimisme kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kenaikan harga minyak juga didorong serangan terhadap dua kapal yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik 72 sen atau 0,81 persen menjadi US$89,63 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 71 sen atau 0,85 persen menjadi US$83,91 per barel.
Kedua kontrak acuan tersebut sebelumnya ditutup menguat lebih dari US$1 pada perdagangan Selasa. Harga Brent dan WTI juga mencatat level penutupan tertinggi sejak 31 Juli.
Kenaikan tersebut memperpanjang reli setelah harga minyak melonjak sekitar 5 persen pada Senin (10/8). Penguatan terjadi setelah harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran mulai memudar.
AS dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melaporkan serangan terpisah terhadap pelayaran di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb pada Selasa (11/8).
Pejabat keamanan tinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan bahwa jalur pelayaran strategis Selat Hormuz akan tetap ditutup selama AS belum menerima sejumlah syarat Iran untuk mengakhiri perang.
Syarat tersebut antara lain pembebasan aset Iran yang dibekukan serta penghentian konflik lain di kawasan tersebut.
Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun menjadi hanya enam kapal pada Senin. Jumlah tersebut jauh di bawah rata-rata sekitar 11 kapal dalam 10 hari sebelumnya.
Sebelum perang, lalu lintas harian melalui jalur strategis tersebut mencapai rata-rata 125-140 kapal.
Untuk jangka panjang, EIA memperkirakan gangguan terhadap pasokan minyak mentah Timur Tengah sekitar 600 ribu barel per hari masih akan berlangsung hingga akhir 2027.
Perkembangan tersebut membuat pasar minyak kini menghadapi dua sentimen utama, yakni risiko gangguan pasokan akibat konflik dan ketidakpastian jalur pelayaran di Timur Tengah, serta potensi peningkatan persediaan minyak mentah AS.
(ldy/pta)