Ekonom Bagi Jurus Ekonomi Tembus 8%, Jaga Konsumsi-Dorong Manufaktur
Ekonomi Indonesia disebut berpeluang tumbuh 8 persen selama konsumsi rumah tangga terjaga dan industri manufaktur bergeliat.
Ekonom UOB untuk Asean Enrico Tanuwidjaja menilai pemerintah perlu menjaga konsumsi rumah tangga. Pasalnya, konsumsi masyarakat merupakan mesin penopang separuh ekonomi RI, terutama konsumsi dari kelas menengah dan menengah ke atas.
"Jumlah middle income class cuma 25 sampai 30 persen tetapi consumption power-nya itu 55 persen dari PDB kita yang berkenaan dengan konsumsi," ujar Enrico dalam UOB Media Editors Circle 2026 Powering Indonesia's Next Engine of Growth, di Jakarta, Rabu (12/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Enrico mengakui kinerja ekonomi RI selama dua kuartal terakhir terlihat cukup baik. Tercatat, laju ekonomi mencapai 5,61 persen (yoy) pada kuartal I 2026 dan 5,29 persen (yoy) pada kuartal II 2026.
Namun, Enrico mengingatkan, pendorong kinerja ekonomi RI selama enam bulan pertama 2026 adalah konsumsi pemerintah. Berdasarkan data BPS, konsumsi fiskal tumbuh 21,81 persen (yoy) pada tiga bulan pertama tahun ini. Laju dua digit juga terjadi pada April-Juni sebesar 15,97 persen (yoy).
Kondisi ini, menurut Enrico, tidak berkelanjutan. Pasalnya, Undang-undang Keuangan Negara membatasi defisit APBN maksimal 3 persen terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Selain itu, kontribusinya terhadap laju ekonomi nasional juga masih satu digit.
Selain menjaga konsumsi masyarakat, Indonesia harus membuka lapangan kerja baru, terutama di sektor manufaktur yang menyerap banyak tenaga kerja.
Agar manufaktur bergeliat, Enrico menilai ada tiga kunci utama yakni mendorong investasi, memastikan belanja pemerintah yang berkualitas, dan menjaga stabilitas rupiah.
"Kalau rupiah stabil itu akan memberikan confidence ke pasar," ujarnya.
Tak kalah penting, sambung Enrico, pertumbuhan ekonomi juga perlu dibarengi dengan literasi keuangan masyarakat dan pendalaman pasar keuangan. Hal ini agar pertumbuhan ekonomi yang tercipta bisa memiliki ketahanan dan berkelanjutan.
Tren Konsumsi Bergeser
Di tempat yang sama, Acting Head of Consumer Banking UOB Indonesia Herman Soesatyo mengungkapkan saat ini terjadi pergeseran tren konsumsi di kalangan masyarakat.
Menurut Herman, nasabah muda lebih menaruh perhatian terhadap pengalaman yang dirasakan dibandingkan kepemilikan atas barang. Tak ayal, terlihat peningkatan minat terhadap perjalanan (travel), makanan dan minuman (dining), hiburan (entertainment), serta kesehatan dan kebugaran (wellness).
Sektor perbankan, sambung Herma, pun melakukan menyesuaikan dengan menawarkan produk yang menjawab perubahan tren konsumsi itu.
"Ekspektasi nasabah tidak sama dengan ekspektasi tiga, lima tahun lalu. Dan ini evolved dengan sangat cepat," ujar Herman di tempat yang sama.
Director and Commercial Solutions Lead Visa Indonesia Gede Widhi menambahkan, dari sisi pembayaran, preferensi konsumen terhadap digitalisasi pembayaran terus meningkat.
Hal ini positif bagi perekonomian lantaran digitalisasi pembayaran memberikan kemudahan transaksi dan membantu menciptakan efisiensi operasional.
(sfr)