Bos Danantara Dorong DP Kredit Motor Listrik Nol Persen

CNN Indonesia
Jumat, 14 Agu 2026 09:48 WIB
Rosan menyebut Danantara tengah mengupayakan DP kredit motor listrik bisa nol persen, berbunga lebih rendah dan tenor lebih panjang. (Foto: Sekretariat Presiden)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia tengah mengupayakan syarat uang muka (down payment/DP) kredit motor listrik nasional bisa nol persen.

Skema tersebut disiapkan dengan menawarkan pembiayaan berbunga lebih rendah dan tenor lebih panjang.

CEO BPI Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan perbankan dan lembaga keuangan di bawah Danantara untuk menyiapkan skema tersebut. DP yang saat ini disebut sekitar 10 persen akan dicoba ditekan, bahkan dihapus.

"Dari perbankan kami untuk memberikan pendanaan dengan suku bunga lebih rendah, jangka waktu lebih panjang, dan kita akan membuat agar DP-nya yang selama ini masih ada, kalau menurut informasi dari perbankan kami itu ada 10 persen, kita akan coba reduce bahkan akan kita coba hilangkan sehingga minat masyarakat untuk membeli motor listrik ini bisa berjalan dengan cepat, dengan baik," kata Rosan dalam peluncuran Motor Listrik Nasional (Molinas) di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8).

Menurut Rosan, skema pembiayaan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong ekosistem motor listrik nasional. Pasalnya, pasar kendaraan roda dua di Indonesia masih sangat besar, sementara porsi motor listrik dalam penjualan tahunan masih kecil.

Saat ini terdapat sekitar 140 juta motor di Indonesia. Penjualan motor baru mencapai sekitar 6 juta-7 juta unit per tahun, tetapi pembelian motor listrik baru sekitar 60 ribu-70 ribu unit atau hanya 1 persen.

"Dan apalagi kalau kita lihat potensinya sekarang, kalau boleh kami laporkan, ada kurang lebih 140 juta motor yang ada di Indonesia dengan setiap tahunnya pembeliannya adalah 6 sampai 7 juta motor. Tetapi yang membeli motor listrik kurang lebih hanya 60 sampai 70 ribu. Jadi hanya 1 persen," ujar Rosan.

Rosan memperkirakan kondisi tersebut menunjukkan ruang pertumbuhan pasar motor listrik masih terbuka. Ia menyebut potensi market size sektor tersebut mencapai sekitar US$170 miliar atau sekitar Rp3.039 triliun (asumsi kurs Rp17.877 per dolar AS).

Selain pembiayaan, Danantara akan mendorong penggunaan baterai berbasis nikel untuk motor listrik nasional. Rosan mengatakan langkah tersebut sejalan dengan posisi Indonesia sebagai negara dengan cadangan nikel yang besar serta kemampuan untuk mengembangkan rantai produksi baterai di dalam negeri.

"Terutama kita lihat baterai untuk listrik nasional ini kita akan dorong secara penuh untuk menggunakan nickel based. Karena nikel kita ketahui bersama 46 persen reserve nikel di dunia itu ada di Indonesia," katanya.

Pengembangan rantai produksi tersebut akan diarahkan dari pengolahan nikel menjadi cell battery dan battery pack hingga digunakan dalam produksi motor listrik nasional.

Rosan mengatakan saat ini ada sekitar 10 perusahaan nasional yang telah memenuhi kriteria Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari Kementerian Perindustrian. Danantara juga akan bekerja sama dengan PT Len Industri dan Profesor Sigit untuk mendorong standardisasi internasional.

Pengembangan tersebut diarahkan agar industri motor listrik tidak hanya berkembang di pasar domestik, tetapi juga mampu bersaing di tingkat regional dan global.

Peluncuran Ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas) dilakukan Presiden Prabowo Subianto di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA) di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8).

Molinas tidak hanya mencakup produksi kendaraan, tetapi juga dirancang meliputi rantai ekosistem dari manufaktur, komponen dan baterai, infrastruktur pengisian daya serta battery swapping, pembiayaan, distribusi, layanan purnajual hingga penyerapan pasar.

PT Len Industri ditunjuk sebagai lead integrator untuk mengoordinasikan kolaborasi para pemangku kepentingan dalam ekosistem tersebut.

Pengembangan motor listrik nasional juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM impor dengan meningkatkan pemanfaatan energi listrik domestik.

(del/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK