Harga Minyak Dunia Mendidih ke US$91 usai Harapan Damai AS-Iran Redup

CNN Indonesia
Selasa, 18 Agu 2026 10:33 WIB
Harga minyak dunia melesat ke US$91 per barel pada Selasa (18/8), didorong meredupnya harapan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. (Foto: iStock/bomboman)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia melesat naik ke US$91 per barel pada perdagangan Selasa (18/8), didorong meredupnya harapan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko gangguan pasokan energi di tengah konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 27 sen atau 0,3 persen menjadi US$91,14 per barel. Brent sebelumnya telah menyentuh level tertinggi sejak 30 Juli pada perdagangan Senin (17/8).

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 42 sen menjadi US$85,04 per barel. WTI sempat menguat lebih dari 1 persen dalam sesi sebelumnya hingga mencapai US$85,37 per barel, level tertinggi sejak 31 Juli.

Kenaikan harga terjadi setelah prospek kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah dinilai semakin menjauh.

Iran mengatakan akan mengambil sikap militer yang lebih ofensif setelah upaya negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen dengan AS mengalami kebuntuan.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan beralih ke posisi yang sepenuhnya ofensif karena perundingan dengan AS tidak mengalami kemajuan.

Pernyataan tersebut muncul setelah Washington menegaskan tidak akan memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara.

Perkembangan tersebut juga membuat kemajuan menuju pembicaraan damai dan pembukaan kembali lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz kembali terhenti.

Analis Pasar Utama KCM Tim Waterer mengatakan kondisi hubungan AS-Iran yang semakin tidak stabil menjadi salah satu faktor utama yang mendorong harga minyak pada awal pekan.

"Kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz masih belum terlihat, dan jumlah pelayaran masih sangat terbatas," ujar Waterer.

Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar karena merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Berdasarkan data pelacakan kapal Kpler, hanya lima kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Sabtu setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker.

Tidak ada kapal yang tercatat melintas pada Minggu, dibandingkan 31 kapal pada akhir pekan sebelumnya.

Risiko pasokan juga meningkat setelah kelompok Houthi Yaman mengklaim telah menyerang sebuah kapal militer Arab Saudi dan empat kapal pengawal di Laut Merah menggunakan rudal.

Waterer mengatakan risiko gangguan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb menjadi perhatian utama pasar minyak saat ini.

"Kedua titik tersebut bukan sekadar kekhawatiran sekunder. Keduanya berada di pusat narasi risiko pasokan saat ini," katanya.

Di sisi lain, Iran masih melakukan negosiasi dengan Oman terkait pengelolaan lalu lintas di Selat Hormuz. Teheran menyatakan pembicaraan tersebut hampir mencapai kesepakatan.

Namun, Presiden AS Donald Trump merespons proses negosiasi tersebut dengan ancaman akan menyerang Oman, yang selama ini merupakan salah satu mitra keamanan AS di kawasan Teluk.

Di tengah memburuknya prospek perdamaian, masih terdapat sedikit harapan diplomasi. Sejumlah laporan media menyebut Trump telah membuka komunikasi melalui jalur belakang dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Pasar juga menantikan data persediaan minyak mentah AS. Jajak pendapat awal Reuters pada Senin memperkirakan stok minyak mentah dan produk olahan AS kemungkinan turun pada pekan lalu.

(ldy/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK