Kementan Klaim RI Swasembada Gula Konsumsi pada 2026

CNN Indonesia
Rabu, 19 Agu 2026 09:05 WIB
Kementan mengklaim Indonesia telah mencapai swasembada gula konsumsi pada 2026, lebih cepat dari target awal yang ditetapkan pada 2027. (Foto: CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Pertanian (Kementan) mengklaim Indonesia telah mencapai swasembada gula konsumsi (Gula Krista Putih) pada 2026. Capaian ini lebih cepat dari target awal yang ditetapkan pada 2027.

Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Kementerian Pertanian Abdul Roni Angkat mengatakan swasembada gula bisa dicapai lebih cepat setelah pemerintah menjalankan bongkar ratoon plus. Ini adalah program peremajaan tanaman tebu tua untuk diganti dengan bibit baru.

"Tahun 2026 ini kita boleh berbangga bahwa tahun 2026 ini kita bisa membuat gula konsumsi itu swasembada," ujar Ronny saat berbincang dengan CNN Indonesia TV, Selasa (18/8) malam.

Menurutnya, pada 2025 pemerintah merencanakan swasembada gula konsumsi bisa dicapai dalam dua tahun yakni 2027. Namun, dengan berbagai langkah dilakukan akhirnya bisa maju ke tahun ini.

"Jadi pada saat kita mencanangkan untuk gula konsumsi swasembada 2025, 2 tahun kemudian swasembada 2027, ternyata 2026 kita sudah bisa swasembada gula putih," imbuhnya.

Roni mengatakan produksi gula konsumsi nasional tahun ini ditaksir mencapai 3,018 juta ton. Angka tersebut telah melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang berada di kisaran 2,84 juta ton per tahun.

"Artinya kita surplus. Artinya program bongkar ratoon yang sudah kita jalankan tahun 2025 sampai sekarang, 2026, kita targetnya 130 ribu hektare selesai," jelas Roni.

Ke depannya, Kementan memfokuskan empat hal agar produksi tebu semakin melimpah. Pertama, memberikan benih unggul yang saat ini sulit didapatkan petani.

"Pengadaan benih unggul itu kita sediakan. Satu hektarnya kalau hitungan kita 60 ribu mata. Itu berdasarkan kalkulasi standar dari riset teman-teman P3GI ya. Nah kita berikan bantuan benih tebu satu hektare," katanya.

Kedua, pemerintah memberikan subsidi untuk pupuk khusus tebu yakni ZA. Ketiga, petani tebu juga bisa mengajukan KUR hingga Rp500 juta tanpa melalaui BI Checking.

Keempat, pemerintah meminta asosiasi gula hingga pengusaha gula menjadi pembeli (off taker) produksi petani tebu.

"Itu kita minta asosiasi gula, plus juga dengan teman-teman dari industri kita sama-sama untuk mengawal ini. Supaya gulanya dia yang beli," tegasnya.

Meski produksi gula konsumsi telah melampaui kebutuhan, peningkatan produksi ke depan dinilai akan tetap bergantung pada ketersediaan bahan baku tebu.

Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Dyan Garneta mengatakan kapasitas industri gula nasional sebenarnya masih mencukupi untuk mengolah tambahan produksi tebu. Saat ini terdapat sekitar 59 pabrik gula aktif yang menggiling tebu dari petani dengan total kapasitas produksi sekitar 4 juta ton.

Dengan produksi gula konsumsi yang ditaksir sekitar 3 juta ton pada 2026, masih terdapat ruang kapasitas pengolahan sekitar 1 juta ton.

"Jadi masih ada ruang 25 persen lagi untuk bisa di-improve. Masih kita bisa menggiling 1 juta ton lagi," kata Dyan.

Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Mahmudi mengatakan peningkatan produksi juga sangat bergantung pada perbaikan produktivitas tanaman tebu. Ia mengungkapkan berdasarkan data 2024, sekitar 86 persen tebu rakyat perlu dilakukan bongkar ratoon atau peremajaan.

Menurut Mahmudi, tanaman tebu mengalami penurunan produktivitas setelah melewati siklus sekitar empat tahun. Kondisi tersebut juga diikuti penurunan rendemen yang signifikan. Karena itu, tanaman lama perlu diganti dengan varietas baru yang lebih produktif.

"Kalau dibongkar tadi, apa percepatan yang bisa saya publik awam bayangkan? Tebu ini kan memang secara siklusnya, setelah empat tahun, itu terjadi penurunan produktivitas, dan juga terjadi penurunan rendemen yang sangat signifikan," katanya.

Selain peremajaan, penataan varietas juga menjadi pekerjaan rumah. Mahmudi mengatakan komposisi varietas tebu saat ini belum ideal untuk mendukung kebutuhan musim giling.

Tebu membutuhkan waktu sekitar 150 hari untuk digiling. Namun, varietas masa awal yang idealnya sekitar 30 persen dari total tanaman saat ini baru mencapai sekitar 7,5 persen.

Dengan program bongkar ratoon yang disertai penataan varietas, produktivitas dan rendemen diharapkan meningkat, bahkan pada pabrik gula yang masih menggunakan fasilitas lama.

Di sisi lain, keberhasilan mencapai swasembada gula konsumsi belum otomatis membuat seluruh kebutuhan industri gula nasional terbebas dari impor.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Dwi Purnomo Putranto mengatakan Indonesia masih memiliki sekitar 11 pabrik gula rafinasi yang selama ini mengandalkan bahan baku impor.

Menurutnya, peningkatan produksi gula domestik harus diikuti dengan roadmap yang jelas untuk mengintegrasikan pasokan dari industri gula nasional dengan pabrik rafinasi yang telah beroperasi.

"Seiring dengan kenaikan produksi di pabrik gula dalam negeri, tentunya ini harus ada suatu roadmap bagaimana pengisian industri yang sudah eksis di dalam negeri dengan bahan baku yang ada," pungkas Dwi.

(ldy/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK