Bahlil Ungkap RI Masih Butuh Impor Minyak 700 Ribu Barel per Hari

CNN Indonesia
Kamis, 20 Agu 2026 05:45 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan rencana pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite untuk kelompok masyarakat desil 9 dan 10 masih dikaji.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah sekitar 700 ribu barel per hari (bph). (CNN Indonesia/ Endrapta Ibrahim).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah sekitar 700 ribu barel per hari (bph).

Hal itu lantaran tingkat lifting minyak nasional sampai saat ini hanya mampu berada di kisaran 600 ribu hingga 610 ribu bph.

Padahal, tingkat konsumsi minyak di Indonesia jauh melampaui kapasitas produksi tersebut, yakni menyentuh angka 1,5 juta hingga 1,6 juta barel. Artinya, ada 1 juta barel yang masih harus diimpor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Guna menekan ketimpangan antara konsumsi tinggi dan produksi minim, pemerintah kini mengandalkan pemberlakuan kebijakan penerapan mandatori biodiesel B50.

Skema pencampuran energi itu diklaim mampu mengonversi sekaligus menekan kebutuhan minyak mentah nasional di kisaran 300 ribu sampai 390 ribu barel, sehingga impor yang dibutuhkan berkurang menjadi sekitar 700 ribu barel per hari.

"Rata-rata kita masih membutuhkan impor kurang lebih sekitar 700 ribu barel," ujar Bahlil dalam acara Geothermal Convention & Exhibition di Jakarta International Convention Center, Rabu (19/8).

Ia mengatakan ketergantungan Indonesia terhadap impor harus segera ditekan dalam rangka menuju kedaulatan energi nasional.

Bahan bakar B50 merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran 50 persen biodiesel atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis kelapa sawit dengan 50 persen solar fosil. Kandungan biodiesel pada B50 lebih tinggi 10 persen dibandingkan B40 yang sebelumnya digunakan.

Sebelum diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli lalu, B50 telah melewati serangkaian pengujian.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi sebelumnya menjelaskan uji laboratorium dimulai sejak awal 2025.

Pengujian kemudian berlanjut pada Desember 2025 melalui penggunaan B50 pada mesin diesel di berbagai sektor, meliputi otomotif, angkutan laut, mesin dan alat pertanian, mesin serta alat berat pertambangan, kereta api hingga pembangkit listrik.

Sektor otomotif menjadi salah satu fokus utama dalam proses pengujian tersebut, termasuk melalui uji jalan dalam kondisi operasional harian untuk memastikan kesiapan implementasi B50.

Pengujian terus berlangsung hingga tahun ini sebelum akhirnya B50 dinyatakan memenuhi persyaratan dan resmi diluncurkan pada Juli lalu.

Hasil pengujian menunjukkan kualitas B100 sebagai bahan campuran B50 telah memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan, terutama pada parameter kadar air, monogliserida, dan kestabilan oksidasi sesuai rekomendasi Komite Teknis Bioenergi Cair.

Secara rinci, kadar air ditetapkan maksimum 300 ppm, lebih rendah dibandingkan B40 yang mencapai 320 ppm. Kandungan monogliserida menjadi maksimum 0,47 persen massa dari sebelumnya 0,5 persen massa pada B40.

Sementara itu, kestabilan oksidasi meningkat menjadi minimal 900 menit, lebih tinggi dibandingkan ketentuan minimal 720 menit pada B40.

[Gambas:Video CNN]

(dhz/sfr)