Profil Hui Ka Yan, Taipan Properti China yang Divonis Bui Seumur Hidup
Konglomerat pendiri raksasa properti China Evergrande Group, Hui Ka Yan, divonis hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan China pada Kamis (20/8). Vonis itu dijatuhkan setelah Hui mengaku bersalah pada April 2026 lalu atas delapan dakwaan berat, termasuk penipuan dan penyuapan.
Lantas bagaimana profil Hui Ka Yan hingga kejatuhannya?
Dilansir dari berbagai sumber, Hui Ka Yan lahir di Henan, China dan tumbuh di garis kemiskinan. Ayahnya merupakan pensiunan tentara yang berpartisipasi dalam perang China-Jepang II pada 1930an hingga 1940an, sebelum akhirnya mencari penghidupan dari berdagang. Sementara, ibunya meninggal saat ia berusia 8 bulan.
Hui dibesarkan oleh neneknya dari pihak ayah. Setelah lulus SMA, dia sempat bekerja di pabrik semen, bahkan berhasil menjadi pemimpin tim produksi.
Namun, perjalanan hidupnya berubah setelah ia masuk ke dunia bisnis properti. Ia mendirikan Evergrande di Guangzhou pada 1996.
Bermodalkan utang besar, Hui memperluas bisnisnya secara agresif ke berbagai wilayah di China, sebelum akhirnya membawa perusahaan tersebut ke bursa efek.
Di bawah kepemimpinannya, Evergrande bertumbuh menjadi salah satu pengembang properti terbesar di China, memiliki ribuan proyek di berbagai wilayah China dan nilai perusahaan di bursa yang pernah melampaui US$50 miliar atau senilai Rp884,25 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.685 per dollar).
Evergrande melakukan ekspansi agresif yang ditopang utang ke berbagai sektor di luar bisnis properti.
Pada 2010, Hui mengakuisisi klub sepak bola Guangzhou dan menamainya Guangzhou Evergrande. Ia berinvestasi besar pada pemain dan pelatih berskala internasional. Meskipun hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang sepak bola, ia berhasil membawa tim tersebut meraih tiga gelar liga.
Setelah bertahun-tahun membangun kerajaan bisnis yang merambah dari properti, otomotif, hingga sepak bola, Hui kemudian menjadi salah satu orang terkaya di China.
Bahkan, Hui sempat dinobatkan menjadi orang terkaya di Asia. Pada masa tersebut, Hui juga aktif membangun relasi dengan sejumlah tokoh bisnis terkenal di China.
Ia menjadi orang terkaya di Asia menurut Forbes pada 2017 dengan kekayaan US$45,3 miliar. Kekayaannya kemudian diperkirakan turun drastis hingga sekitar US$$3 miliar pada 2023.
Model ekspansi perusahaan sangat bergantung pada pinjaman. Perusahaan terus memperluas bisnisnya dengan menggunakan utang sebagai sumber pendanaan, tidak hanya untuk properti tetapi juga untuk berbagai sektor lainnya.
Bersambung ke halaman berikutnya...