Profil Hui Ka Yan, Taipan Properti China yang Divonis Bui Seumur Hidup

CNN Indonesia
Sabtu, 22 Agu 2026 07:41 WIB
A general view shows the Evergrande Center building in Shanghai on September 22, 2021. (Photo by Hector RETAMAL / AFP)
Kejatuhan Hui Ka Yan terjadi setelah raksasa properti Evergrande kolaps menyusul penerapan kebijakan "Three Red Lines". (AFP/HECTOR RETAMAL).

Kejatuhan Hui Kayan

Kejatuhan Hui dimulai ketika pemerintah China menerapkan regulasi yang ketat terkait batas utang bagi pengembang properti pada 2020. Kebijakan tersebut merupakan upaya pemerintah untuk menekan praktik ekspansi yang terlalu bergantung pada utang dan dinilai berpotensi mengancam stabilitas ekonomi.

Regulasi tersebut dikenal sebagai "Three Red Lines". Aturan tersebut menetapkan tiga batas utama bagi pengembang properti, yakni rasio utang terhadap aset kurang dari 70 persen, rasio gearing bersih kurang dari 100 persen, dan rasio kas terhadap pinjaman jangka pendek setidaknya 1.

Berdasarkan regulasi tersebut pemerintah China berusaha untuk membatasi ketergantungan perusahaan properti terhadap utang, menekan spekulasi di pasar properti, serta mencegah risiko gagal bayar dan krisis keuangan yang lebih luas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibat regulasi tersebut, Evergrande mengalami kesulitan memenuhinya. Perusahaan mulai menjual properti dengan potongan harga yang besar sebagai upaya untuk bertahan sebelum akhirnya gagal membayar utang pada 2021.

Jatuhnya Evergrande menjadi salah satu kasus krisis yang melanda China di bidang properti sejak 2020. Saat regulasi baru mulai berjalan, perusahaan-perusahaan properti yang secara keseluruhan menyumbang sekitar 40 persen penjualan rumah di China mengalami gagal bayar, sementara pengembang besar lainnya seperti Country Garden juga kesulitan memenuhi kewajiban utangnya.

Evergrande kemudian menjalani penyelidikan resmi dan Hui ditahan oleh otoritas pada September 2023 karena diduga melakukan tindak pidana. Kini persoalan Evergrande tidak lagi hanya menyangkut masalah keuangan, tetapi juga menjadi kasus kriminal.

Sanksi terhadap Hui terus bertambah dalam beberapa bulan setelah penahanannya. Pada Maret 2024, regulator sekuritas China menjatuhkan denda terhadap Hui senilai 47 juta yuan atau senilai Rp123,66 miliar (asumsi kurs Rp2.631 per yuan) serta melarangnya dari pasar sekuritas seumur hidup.

Regulator menemukan unit domestik Evergrande membesar-besarkan pendapatannya lebih dari 213 miliar yuan pada 2019 dan 350 miliar yuan pada 2020. Angka tersebut masing-masing mewakili sekitar setengah dan hampir 79 persen dari total penjualan yang dilaporkan perusahaan pada tahun tersebut.

Hui dinyatakan bersalah bersama Evergrande atas sejumlah kasus keuangan, termasuk membesar-besarkan aset, menyembunyikan utang, serta mengambil deposit publik secara ilegal.

Pengadilan mengatakan dari 2016 sampai 2021 Hui dan Evergrande terlibat dalam penipuan keuangan berskala besar yang dilakukan secara terus-menerus dengan membesar-besarkan aset dan menyembunyikan utang.

Pada April 2026, Hui mengaku bersalah dan menyatakan penyesalan atas delapan dakwaan berat, termasuk menerima deposit publik secara ilegal, penipuan penggalangan dana, pemberian pinjaman secara ilegal, penerbitan sekuritas secara curang, gagal mengungkapkan informasi penting, penyuapan perusahaan, penyalahgunaan dana, dan penggelapan dana.

Dalam persidangan, dijelaskan bahwa perusahaan menerima dana dari calon pemilik rumah, tetapi dana tersebut tidak digunakan sebagaimana mestinya. Dana dialihkan ke proyek baru sehingga membuat ratusan proyek mandek.

Pengadilan di Shenzhen, China, pun menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Hui. pada 20 Agustus 2026

Hui dinyatakan bersalah atas delapan tindak pidana, termasuk penipuan penggalangan dana, penyalahgunaan dana, pemberian pinjaman secara ilegal, penipuan sekuritas, hingga penyuapan.

Pemerintah juga memerintahkan penyitaan seluruh aset pribadi Hui. Sementara itu, Evergrande didenda 8,82 miliar yuan dan anak usaha utamanya, Hengda Real Estate, didenda 7 miliar yuan karena kecurangan penerbitan sekuritas.

Selain dihukum penjara, hak politik Hui juga dicabut seumur hidup. Sementara itu, sejumlah eksekutif Evergrande lainnya divonis hukuman penjara antara 6-18 tahun serta denda sejumlah uang.

Vonis tersebut menjadi akhir dari perjalanan bisnis Hui yang sebelumnya membawa dirinya menjadi salah satu orang terkaya di Asia.

Jatuhnya Evergrande juga berdampak lebih luas terhadap industri properti China. Krisis perusahaan menjadi salah satu contoh paling nyata dari masalah yang melanda sektor properti setelah pemerintah memperketat pembiayaan berbasis utang.

Dampaknya turut meluas hingga ke sektor shadow banking di China dan memunculkan kekhawatiran bagi investor dalam negeri maupun luar negeri.

(lil/sfr)

HALAMAN:
1 2