Aksi Sarulla Menyulap Air Sisa Pengeboran Jadi Raksasa Energi Listrik
Industri panas bumi di Indonesia umumnya hanya fokus mencari uap panas bertekanan tinggi untuk memutar turbin pembangkit. Namun, di pedalaman Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Sarulla Operations Limited (SOL) menempuh jalan berbeda dengan mendobrak cara lama.
Alih-alih membuang air panas sisa pengeboran atau biasa disebut brine ke dalam perut bumi, kompleks pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Sarulla justru menyulap cairan tersebut menjadi sumber energi raksasa.
Lewat penerapan teknologi biner (binary system / Ormat Energy Converter), mereka berhasil mendapatkan energi dari sisa fluida yang selama ini kerap dianggap limbah.
Sebagai informasi, proyek megah berkapasitas total 330 megawatt ini membentang di dua wilayah kerja utama, yakni Silangkitang (SIL) dan Namora I Langit (NIL). Dari kedua lapangan inilah suplai fluida panas bumi ditarik untuk kemudian diolah oleh unit-unit pembangkit yang terintegrasi.
General Manager Sarulla Operation Ltd. (SOL), Eddiyanto menjelaskan bahwa karakteristik sumur di wilayah kerja Sarulla didominasi oleh fluida cair atau wet steam, di mana porsi brine jauh lebih besar dibandingkan uap murninya.
"Karakteristik sumur kita didominasi oleh brine hingga 70 persen sampai 80 persen, sedangkan uapnya hanya sekitar 20 persen sampai 30 persen," ujar Eddiyanto dalam paparannya kepada peserta Field Trip Sarulla Geothermal Power Plant, Sabtu (22/8).
Kondisi inilah yang mendorong Sarulla mengandalkan sistem biner berskala masif. Berbeda dengan PLTP konvensional yang hanya memanfaatkan uap kering, sistem biner di Sarulla merangkul seluruh potensi yang ada di dalam bumi.
Dalam praktiknya, teknologi biner tidak langsung memutar turbin menggunakan air panas dari bumi. Sistem ini menggunakan cairan kerja khusus, yakni pentana yang memiliki titik didih rendah dalam siklus tertutup (closed-loop).
Uap tekanan rendah dan brine bersuhu tinggi bertindak sebagai penukar panas (heat exchanger) untuk memanaskan dan mengekspansikan gas pentana tersebut.
SIL Site Manager Sarulla Operation Ltd. (SOL) Zulham Anwar memaparkan bahwa keunikan sistem biner terletak pada kapasitas masifnya dalam menangani volume cairan. Secara teknis, volume brine yang masif justru mendominasi efisiensi total pembangkit.
"Untuk unit biner brine, vaporizer kita mampu menerima laju alir hingga 1.500 ton per jam. Di mana setiap 100 ton brine sudah bisa menghasilkan satu megawatt," ungkap Zulham.
Ia menambahkan angka tersebut menunjukkan efisiensi yang sangat masif jika dikalkulasikan dengan total volume fluida yang ditarik dari dalam sumur setiap harinya.
Kombinasi antara pemanfaatan uap sisa dan brine bersuhu sekitar 185°C ini membuat Sarulla mampu membangkitkan tambahan daya hingga mendongkrak total kapasitas hingga ratusan megawatt yang menyuplai sistem kelistrikan Sumatera.
Kendati demikian, pengoperasian teknologi biner ini bukan tanpa tantangan. Zulham menyebutkan bahwa faktor lingkungan eksternal, seperti fluktuasi suhu harian (ambient temperature), turut memengaruhi kinerja optimal dari sistem pendingin kondensor (air-cooled condenser) yang digunakan.
"Di siang hari yang terik, ketika suhu lingkungan meningkat, efisiensi sistem biner kita mengalami tantangan karena proses pendinginan di kondensor tidak seoptimal saat pagi atau malam hari yang udaranya lebih dingin," jelas Zulham.
Meski demikian, terobosan yang dicatatkan Sarulla membuka babak baru dalam peta jalan energi bersih nasional. Di tengah tuntutan transisi energi yang makin mendesak, langkah Sarulla membuktikan bahwa optimalisasi limbah dari perut bumi bisa menjadi kunci untuk mendulang kapasitas listrik yang jauh lebih besar dan efisien.
(ins)