Krisis Energi Belum Usai, IMF Ingatkan Risiko Utang dan Inflasi
Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan ekonomi global untuk menjaga tingkat utang dan defisit tetap terkendali dengan menyusun rencana penanganan masalah fiskal di tengah krisis energi yang belum berakhir.
Managing Director IMF Kristalina Georgieva menilai ekonomi global masih mampu menghadapi tekanan krisis energi imbas perang Iran, bahkan lebih baik dari proyeksi sebelumnya. Meskipun begitu, kondisi fiskal kian memburuk di sejumlah wilayah.
Georgieva mengatakan perekonomian global saat ini menghadapi tarik-menarik tekanan pasokan energi di kawasan Teluk, sementara itu terjadi lonjakan investasi artificial intelligence (AI).
"Guncangan energi belum berakhir," ujar Georgieva dalam konferensi pers pertemuan para menteri keuangan negara-negara G20 dilansir dari Reuters, Selasa (25/8).
Ia juga membeberkan beberapa faktor yang menyebabkan ekonomi global masih bertahan dari guncangan krisis energi imbas penutupan Selat Hormuz. Diantaranya penggunaan cadangan minyak dan gas, peningkatan pasokan energi dari luar kawasan Teluk, hingga penurunan permintaan energi.
Selain itu, peningkatan kapasitas energi terbarukan dan penggunaan kembali batu bara di sejumlah wilayah turut menopang ekonomi global dari guncangan krisis energi.
Di lain sisi, investasi AI di Amerika Serikat (AS) turut menopang laba perusahaan dan konsumsi masyarakat. Tak sampai di situ, sejumlah negara juga turut meningkatkan pembangunan pusat data serta pasokan perangkat keras AI.
Meskipun demikian, Georgieva memperingatkan risiko tingginya utang, inflasi yang sulit turun, serta ketegangan perdagangan berpotensi mengancam prospek ekonomi global ke arah negatif.
IMF juga memperingatkan kenaikan kembali harga minyak dapat memengaruhi inflasi dan membuat pemerintah menerapkan kebijakan moneter yang ketat. Kondisi tersebut bisa berujung pada meningkatnya biaya pembayaran utang, hingga menekan aktivitas ekonomi.
Sementara itu, tren harga minyak dunia jenis Brent berada di kisaran US$80 per barel hingga US$90 per barel. Angka tersebut cenderung turun dibandingkan rekor US$118 per barel pada musim semi lalu.
IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini ke level 3 persen per Juli 2026, lantaran krisis energi dan risiko inflasi yang masih menghantui ekonomi global. Lembaga keuangan global tersebut dijadwalkan memperbarui proyeksi pada Oktober 2026 di Bangkok.
(lil/ins)