Mendag Buka Suara soal Beras Premium 5 Kg Langka

CNN Indonesia
Rabu, 02 Sep 2026 15:39 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat ditemui di Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Rabu (2/9).
Mendag Budi Santoso mengonfirmasi kelangkaan beras premium 5 kg di pasar. Ia berkoordinasi dengan Bulog untuk pasokan dan mengatasi kenaikan harga. (FOTO:CNN Indonesia/Muhammad Falah Nafis).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso buka suara soal beras premium kemasan 5 kilogram (kg) yang langka di sejumlah pasar dan ritel modern di beberapa daerah.

Pria yang akrab disapa Busan itu mengatakan saat ini beras premium produksi Perum Bulog telah hadir di sejumlah pasar dan ritel.

"Beras sekarang kan ada dari premium juga dari Bulog ya, sekarang saya pikir sudah mulai masuk di ritel. Kalau enggak salah namanya B-Food ya, kemudian juga ada beras medium yang nanti masuk dari Bulog masuk di ritel modern," ujar Busan saat ditemui di Kementerian Perdagangan Jakarta Pusat, Rabu (2/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Busan memastikan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Perum Bulog agar bisa terus memasok beras premium ke Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) serta Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo).

"Aprindo kan yang jualan jadi kita koordinasi terus supaya justru supaya Bulog itu bisa memasok ke Aprindo, Hippindo, asosiasinya ya, di minimarket maupun di ritel modern. Jadi kita terus supaya produk-produk itu diisi dari Bulog," tuturnya.

Sebelumnya, beras premium kemasan 5 kg langka di sejumlah pasar Palembang, Sumatera Selatan. Tak hanya di pasar tradisional, kondisi serupa juga terlihat di sejumlah ritel modern yang mulai membatasi pembelian konsumen.

[Gambas:Youtube]

Mengutip Detiksumbagsel, di pasar tradisional seperti pasar 10 Ulu, beras kemasan lima kg dari sejumlah merek premium sulit ditemukan. Pedagang lebih banyak menyediakan beras ukuran 20 Kg dan dalam ukuran kiloan untuk memenuhi permintaan pembeli.

"Sudah hampir sekitar dua bulanan ini beras lima kg langka. Penyebab langka ini karena harga tidak sesuai dan harga plastik kan naik sehingga produsen berhenti memproduksi beras 5 kg," kata Mansyur, salah satu pedagang manisan di pasar 10 Ulu.

Sementara di ritel modern, stok yang menipis membuat pembelian mulai dibatasi. Kondisi ini terlihat di salah satu gerai SuperIndo kawasan Sukarami Palembang.

Seorang pegawai mengatakan konsumen hanya diperbolehkan membeli maksimal satu kemasan beras per hari. Kebijakan tersebut diterapkan karena stok yang tersedia terbatas.

"Stoknya sedikit, makanya pembelian dibatasi," ujarnya, Selasa (1/9).

Kondisi lebih kosong terlihat di salah satu gerai minimarket kawasan KM 7 Palembang. Beras lima Kg sudah lama tidak mendapat pasokan.

"Memang stok beras sudah lama kosong, sampai sekarang belum diisi lagi," kata pegawai gerai tersebut.

Selain di Palembang, kelangkaan beras premium juga terjadi di Kota Malang, Jawa Timur. Harga beras jenis premium di sejumlah pasar tradisional Malang melambung tinggi. Saat ini, harga beras kualitas super tersebut telah menyentuh angka Rp 80 ribu per kemasan 5 kilogram.

Kenaikan harga ini dikeluhkan para pedagang karena terjadi secara bertahap dalam kurun waktu satu bulan terakhir, diiringi dengan pasokan distributor yang kian menipis.

Salah seorang pedagang beras di Pasar Bunulrejo, Kota Malang, Supriyono mengungkapkan bahwa harga kulakan beras premium terus merangkak naik dari harga sebelumnya yang berkisar antara Rp76.500 hingga Rp77 ribu per 5 kilogram. Kenaikan ini berdampak merata pada hampir seluruh merek beras premium yang banyak diminati konsumen.

"Naiknya bertahap, sekarang harga kulakan Rp 80 ribu rata semua beras premium. Mereknya Lahap, Mentari, Bintang, dan Lombok. Harga kulak awalnya Rp 76.500 sampai Rp 77 ribu," ujar Supriyono kepada wartawan, Rabu (19/8) dikutip Detikjatim.

Supriyono menjelaskan, pemicu utama melonjaknya harga di tingkat pedagang adalah minimnya pasokan dari pihak distributor. Ia mengaku harus merogoh kocek lebih dalam sekaligus kesulitan untuk mendapatkan persediaan barang.

"Harga naik karena barang di distributor enggak ada, kita carinya susah," tutur Supriyono.

Kondisi kelangkaan dan tingginya harga beras di lapangan ini membuat pedagang kebingungan. Pasalnya, klaim pemerintah mengenai panen raya yang menghasilkan surplus produksi beras dinilai tidak sejalan dengan realitas yang dialami para pedagang di pasar.

"Katanya Pak Presiden panen raya surplus. Tapi berasnya enggak ada, beras ke mana? Wong panen raya kok berasnya naik malahan," celetuk Supriyono heran.

(fln/ins)