Peter Thiel, Bertaruh dari PayPal ke Medan Perang Berharta Rp616 T
Putri Kartika Utami | CNN Indonesia
Minggu, 13 Sep 2026 10:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Jadi Pengacara, Lalu 'Melayani' CIA (Foto: AFP/INA FASSBENDER)
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, Thiel melanjutkan studi ke Stanford Law School dan lulus pada 1992.
Ia sempat menjadi pengacara di sebuah firma hukum usai lulus. Namun, karier itu ternyata merupakan salah satu fase paling tidak membahagiakan dalam hidupnya, sehingga hanya bertahan 7 bulan.
Kemudian, Thiel banting setir menjadi trader derivatif yang memperdagangkan opsi mata uang di Credit Suisse. Di sana, ia kembali menghadapi persoalan yang sama seperti ketika menjadi pengacara: merasa hari-harinya suram. Hal itu mendorongnya meninggalkan New York sepenuhnya dan kembali ke Silicon Valley.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kegagalannya sebagai pengacara dan trader membuatnya mencari jalur profesional lain. Di kepalanya, Thiel selalu bertanya-tanya, perusahaan bernilai apa yang belum dibangun oleh siapa pun.
Sebab menurutnya, dunia masih dipenuhi berbagai rahasia yang belum ditemukan. Pola pikir ini cukup menjelaskan mengapa investasi Thiel begitu sering mencakup proyek-proyek yang sekilas tampak mustahil dan tak lazim.
Misalnya saja, SpaceX yang berfokus merevolusi teknologi roket dan wahana antariksa. Ada lagi Seasteading Institute, proyek menciptakan hunian permanen di perairan internasional.
Thiel juga mendanai penelitian perusahaan seperti Halcyon, perusahaan bioteknologi yang tertarik membaca keseluruhan rangkaian DNA manusia, serta Methuselah Foundation, yang berupaya membalikkan proses penuaan manusia.
Tak heran, mayoritas portofolio investasi Thiel terdiri atas proyek riset atau perusahaan yang berupaya menciptakan inovasi terhadap praktik-praktik yang sudah usang, bahkan praktik yang sebelumnya belum pernah ada. Ia mau terobosan.
Dengan dukungan modal dari teman dan keluarga, Thiel berhasil mengumpulkan US$1 juta atau Rp17,7 miliar (asumsi kurs Rp17.644) dan mendirikan Thiel Capital dan memulai kariernya di bidang modal ventura pada pertengahan 1990-an.
Thiel sempat gagal saat menginvestasikan US$100 ribu atau Rp1,8 miliar di proyek kalender berbasis web milik temannya, Luke Nosek.
Pada 1998, Thiel bersama sejumlah orang mendirikan Confinity, perusahaan yang dirancang untuk menangani kesenjangan sistem pembayaran. Meski saat itu kartu kredit dan ATM tengah berkembang, tak semua pelaku usaha memperoleh izin dan perangkat yang diperlukan untuk menerima pembayaran dengan kartu kredit. Akibatnya, konsumen kerap kesulitan karena pembayaran terbatas pada uang tunai atau cek pribadi.
Thiel bersama Nosek dan Max Levchin ingin menciptakan semacam dompet digital sebagai jembatan yang memudahkan transaksi. Maka munculah PayPal pada 1999. Nokia Ventures dan Deutsche Bank langsung menanam modal jutaan dolar. Kala itu, Thiel menjabat sebagai CEO.
Moncernya bisnis PayPal menuai protes dari perbankan. Mereka mengajukan keluhan ke otoritas pengawas keuangan FDIC bahwa PayPal seharusnya diatur sebagai bank. Setelah melalui negosiasi, FDIC mengklasifikasikan PayPal sebagai perusahaan yang bergerak di bidang transfer uang, bukan bank. Keputusan yang menguntungkan PayPal.
PayPal yang fokus pada layanan transfer uang melalui internet pun maju pesat, terutama berkat transaksi di eBay. Pada 2001, PayPal melayani 6,5 juta pelanggan di 26 negara.
Pada 2002, eBay mengakuisisi PayPal senilai US$1,5 miliar atau setara Rp26,4 triliun. Pembelian jumbo itu membuat Thiel jadi miliuner.
Berbekal duit penjualan PayPal, ia berinvestasi di sejumlah perusahaan rintisan, salah satunya Facebook yang saat itu belum dikenal, pada 2004. Thiel juga mendirikan perusahaan hedge fund, Clarium Capital Management.
Masih di 2004, Thiel bersama sejumlah pihak mendirikan Palantir Technologies, perusahaan perangkat lunak yang bergerak di bidang analisis data. Nama Palantir terinspirasi dari sebuah batu ajaib di The Lord of the Rings. Batu itu yang digunakan untuk berkomunikasi dan memantau wilayah yang jauh.
Investor awal Palantir adalah in-Q-Tel, cabang modal ventura milik Central Intelligence Agency (CIA) AS. Investasinya US$2 juta atau setara Rp35,2 miliar.
Pada 2005, Thiel mendirikan Founders Fund, perusahaan modal ventura yang kemudian berinvestasi di sejumlah perusahaan seperti Airbnb, Lyft, dan SpaceX milik Elon Musk.
Forbes menaksir kekayaan Thiel mencapai US$35 miliar atau setara Rp616 triliun. Pundi-pundi itu berasal dari berbagai investasi di startup, yang paling bernilai adalah SpaceX dan Stripe. Palantir juga jadi motor utama kekayaan Thiel.
Segudang Kontroversi
Pada 2007, kehidupan pribadi Thiel menjadi sorotan setelah blog teknologi milik Gawker menerbitkan artikel yang menyebut dirinya homoseksual. Thiel mengecam perusahaan media daring tersebut, meski pada akhirnya secara terbuka mengumumkan dirinya gay.
Pada 2016 terungkap bahwa setelah artikel tersebut diterbitkan, Thiel mendanai sejumlah gugatan hukum terhadap Gawker. Salah satu yang paling terkenal adalah gugatan yang diajukan pegulat profesional Hulk Hogan, yang berhasil menggugat Gawker karena pelanggaran privasi setelah media tersebut menerbitkan rekaman video seksual yang menampilkan dirinya.
Penyelesaian perkara tersebut berujung pada penjualan perusahaan media Gawker dan penutupan situs utamanya.
Kontroversi lainnya saat Thiel secara terbuka mendukung politikus Partai Republik Donald Trump di Pilpres 2016. Ia menyumbangkan dana dan berpidato dalam konvensi partai tersebut.
Bisnis Thiel, Palantir, juga diguncang badai kritik. Keterlibatan Palantir dengan CIA, FBI hingga NSA menuai kecaman, terutama mengingat pandangan politik Thiel yang menganut paham libertarian. Produk Palantir juga mendukung sistem deportasi imigran milik badan penegak imigrasi AS, ICE. Perusahaan mengantongi kontrak bernilai miliaran dolar dengan berbagai lembaga pemerintah AS.
Pada 2024, Palantir mengumumkan kemitraan strategis dengan Kementerian Pertahanan Israel. Kontrak inilah yang dikritik publik karena dinilai berkontribusi atas genosida Zionis di Gaza dan yang terbaru, Lebanon.
Open Intel, platform yang memantau keterlibatan perusahaan yang teribat genosida di Gaza, mengatakan Palantir telah merekrut mantan anggota Unit 8200, divisi intelijen siber elite Israel. Palantir menggabungkan komunikasi yang disadap, citra satelit, dan berbagai data lainnya untuk membantu pasukan Israel menyusun daftar target militer.
Palantir juga kecipratan berbagai proyek pemerintah AS usai Trump menang Pilpres 2024. Saham perusahaan yang meroket. Wapres AS JD Vance pernah bekerja untuk Thiel. Para pendiri perusahaan juga donatur kakap para kandidat MAGA.
Filantropi
Di luar bisnis, ia aktif di filantropi melalui Thiel Foundation. Yayasan tersebut mendukung tiga proyek, yakni Breakout Labs, Thiel Fellowship, dan Imitatio. Slogan Thiel Foundation ditampilkan secara mencolok di webistenya: Kami mendukung para pemikir berani yang mengejar kebenaran yang belum diakui.
Thiel Fellowship adalah pendanaan beasiswa untuk bagi 20 orang berusia di bawah 20 tahun. Setiap peserta mendapatkan US$100 ribu untuk meninggalkan kuliah dan memulai usaha mereka sendiri.
Program beasiswa ini diluncurkan pada 2011, program tersebut bertujuan memberikan jalur alternatif kepada anak muda selain jalur konvensional melanjutkan kuliah setelah lulus SMA. Namun, sebagian orang menentang ini karena dianggap mendorong mahasiswa 'cabut' kuliah.
Meski demikian, para peserta Thiel Fellowship tetap dapat berkuliah setelah menyelesaikan masa fellowship selama dua tahun. Beberapa peserta bahkan menilai pengalaman tersebut memberi mereka wawasan berharga mengenai bagaimana bisnis beroperasi di dunia nyata. Peserta juga dipasangkan dengan seorang mentor dan mendapatkan akses ke jaringan kontak Thiel untuk membantu mereka mewujudkan visi kewirausahaan masing-masing.
Pada 2011, Thiel Fellowship dengan menerima 30 peserta setiap tahun serta menaikkan batas usia peserta menjadi 22 tahun.
Proyek kedua, Breakout Labs, juga diluncurkan pada 2011. Breakout Labs terutama mencari proyek riset yang dianggap 'terlalu maju' untuk zamannya bagi sumber pendanaan tradisional. Fokusnya antara lain penelitian umur panjang manusia, pengembangan alat ukur ilmiah baru, rekayasa jaringan tubuh, serta perangkat lunak pengenalan bahasa manusia oleh komputer.
Proyek ketiga Thiel Foundation adalah Imitatio, yang berfokus pada penelitian dan penerapan teori mimetik René Girard, filsuf yang paling berpengaruh terhadap pemikiran Thiel.
Imitatio mengembangkan pemikiran tersebut dengan menerjemahkan karya-karya mengenai teori mimetik ke berbagai bahasa, menerbitkan dan melestarikan tulisan Girard, serta publikasi baru mengenai teori mimetik, sekaligus mendukung penelitian yang bertujuan memahami perilaku manusia melalui teori tersebut.
Dari PayPal hingga Palantir, Peter Thielmembangun kerajaan bisnis dengan satu pola yang berulang, yakni bertaruh. Ia selalu masuk lebih awal, mengambil risiko besar, lalu menunggu taruhan itu menggandakan nilainya.
Thiel bertaruh membangun PayPal, ketika internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia nekat jadi investor Facebook saat jejaring sosial itu di fase awal.
Thiel kemudian membangun Palantir yang mengubah data menjadi bisnis bernilai ratusan miliar dolar, meski juga kontroversial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepiawaian Thiel bertaruh pada bisnis yang di masa depan cemerlang itu berhasil membawanya dari investor teknologi itu dari Silicon Valley, ke Gedung Putih hingga medan perang. Tentu keberhasilan itu pararel dengan segudang kontroversi yang menyertainya.
Peter Andreas Thiel lahir pada 11 Oktober 1967 di Frankfurt, Jerman. Ia putra pasangan dari pasangan Klaus dan Susanne Thiel.
Ayahnya seorang insinyur kimia, yang kemudian bekerja di bidang manajemen untuk berbagai perusahaan pertambangan. Pekerjaan tersebut membuat ia dan keluarga kerap berpindah tempat tinggal. Saat Thiel berusia 1 tahun, keluarganya hijrah ke Amerika Serikat (AS).
Sebelum akhirnya menetap permanen di AS pada 1977, keluarga ini sempat tinggal di Afrika Selatan dan Swakopmund, sebuah kota kecil bernuansa Jerman di pesisir wilayah yang saat itu bernama Afrika Barat Daya (kini Namibia).
Saat di Afrika, Peter Thiel dan adiknya, Patrick, bersekolah di sekolah dasar yang menerapkan disiplin ketat. Sekolah itu mewajibkan seragam dan menerapkan hukuman berupa pemukulan telapak tangan siswa dengan penggaris.
Pengalaman tersebut menumbuhkan ketidaksukaan Thiel terhadap keseragaman dan sistem yang terlalu mengatur, yang kelak tercermin dalam dukungannya yang kuat terhadap individualisme dan libertarianisme saat dewasa.
Saat Thiel berusia 9 tahun, keluarganya kembali ke Cleveland, AS, karena pekerjaan sang ayah. Setahun kemudian, mereka pindah ke Foster City, sebuah kota yang dibangun secara terencana di sebelah utara Stanford dan berada di kawasan Teluk San Francisco.
Pada masa itu, istilah Silicon Valley memang belum banyak digunakan untuk menyebut wilayah antara San Francisco dan San Jose. Namun, di kawasan sudah ada sejumlah perusahaan teknologi besar seperti HP, Varian, Fairchild Semiconductor, dan Intel.
Pada saat yang sama, Stanford juga berkembang menjadi salah satu universitas terkemuka AS, terutama dalam bidang sains dan teknologi.
Jadi, boleh dibilang Thiel tumbuh di tengah kawasan yang menjadi pusat perkembangan teknologi. Sejak kecil hingga dewasa muda, ia menyaksikan langsung kemunculan komputer pribadi dan berbagai inovasi teknologi.
Di sekolah, Thiel dikenal jago matematika dan catur. Ia pernah menduduki peringkat ketujuh nasional untuk kategori pemain catur di bawah usia 13 tahun. Saat duduk di bangku SMA, ia juga memimpin tim matematika sekolahnya dalam kompetisi memperebutkan kejuaraan tingkat distrik.
Thiel remaja juga merupakan pembaca fanatik karya fiksi ilmiah, terutama tulisan Isaac Asimov dan Robert Heinlein, serta karya fantasi J.R.R. Tolkien. Dunia imajinatif dalam karya-karya tersebut ikut membentuk keyakinannya terhadap kekuatan teknologi.
Thiel bahkan pernah mengaku membaca ulang Trilogi The Lord of the Rings karya Tolkien lebih dari 10 kali. Siapa sangka, film fiksi ini sangat memengaruhinya, bahkan nama perusahaan yang ia bangun di masa depan pun terinpirasi dari buku ini.
Lewat bacaannya, Thiel mulai memikirkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperbaiki masa depan, sekaligus berpotensi membawa dampak buruk.
Thiel memilih melanjutkan pendidikan di Stanford University yang 'dekat' rumah mengingat keluarganya kerap berpindah tempat. Ia mempelajari filsafat dan meraih gelar sarjana pada 1989.
Selama kuliah, ia terlibat dalam berbagai perdebatan serta diskusi politik. Salah satu isu yang paling menarik perhatiannya adalah perdebatan mengenai politik identitas dan political correctness di Stanford pada era 1980-an.
Perdebatan bermula dari kritik sekelompok mahasiswa yang menyerukan penghapusan mata kuliah wajib Western Culture. Mereka menilai program itu kurikulumnya tidak cukup beragam dan multikultural, karena hanya menampilkan karya-karya laki-laki kulit putih.
Merespons kritik itu, pihak kampus membentuk tim khusus untuk mengevaluasi. Akhirnya, Stanford mengganti mata kuliah Western Culture dengan mata kuliah baru bernama Culture, Ideas and Values, yang lebih menekankan keberagaman.
Namun, keputusan tersebut memicu respons keras dari mahasiswa lain, termasuk Thiel. Pada 1987, bersama sejumlah mahasiswa Stanford yang memiliki pandangan serupa, ia mendirikan surat kabar mahasiswa konservatif-libertarian bernama The Stanford Review.
Pendirian media tersebut juga mendapat dukungan finansial serta bimbingan dari Irving Kristol, salah satu pelopor neokonservatisme. The Stanford Review berupaya menantang apa yang mereka pandang sebagai berkembangnya bias liberal dan political correctness dalam perubahan kurikulum universitas.
Lalu pada 1995, Peter dan David Sacks menerbitkan buku yang mereka tulis bersama berjudul The Diversity Myth: "Multiculturalism" and the Politics of Intolerance at Stanford. Subtansinya, mengkritik keras kurikulum multikultural di universitas dan memandangnya sebagai bagian dari pertarungan melawan peradaban Barat.
Jadi Pengacara, Lalu 'Melayani' CIA
Jadi Pengacara, Lalu 'Melayani' CIA (Foto: AFP/INA FASSBENDER)
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, Thiel melanjutkan studi ke Stanford Law School dan lulus pada 1992.
Ia sempat menjadi pengacara di sebuah firma hukum usai lulus. Namun, karier itu ternyata merupakan salah satu fase paling tidak membahagiakan dalam hidupnya, sehingga hanya bertahan 7 bulan.
Kemudian, Thiel banting setir menjadi trader derivatif yang memperdagangkan opsi mata uang di Credit Suisse. Di sana, ia kembali menghadapi persoalan yang sama seperti ketika menjadi pengacara: merasa hari-harinya suram. Hal itu mendorongnya meninggalkan New York sepenuhnya dan kembali ke Silicon Valley.
Kegagalannya sebagai pengacara dan trader membuatnya mencari jalur profesional lain. Di kepalanya, Thiel selalu bertanya-tanya, perusahaan bernilai apa yang belum dibangun oleh siapa pun.
Sebab menurutnya, dunia masih dipenuhi berbagai rahasia yang belum ditemukan. Pola pikir ini cukup menjelaskan mengapa investasi Thiel begitu sering mencakup proyek-proyek yang sekilas tampak mustahil dan tak lazim.
Misalnya saja, SpaceX yang berfokus merevolusi teknologi roket dan wahana antariksa. Ada lagi Seasteading Institute, proyek menciptakan hunian permanen di perairan internasional.
Thiel juga mendanai penelitian perusahaan seperti Halcyon, perusahaan bioteknologi yang tertarik membaca keseluruhan rangkaian DNA manusia, serta Methuselah Foundation, yang berupaya membalikkan proses penuaan manusia.
Tak heran, mayoritas portofolio investasi Thiel terdiri atas proyek riset atau perusahaan yang berupaya menciptakan inovasi terhadap praktik-praktik yang sudah usang, bahkan praktik yang sebelumnya belum pernah ada. Ia mau terobosan.
Dengan dukungan modal dari teman dan keluarga, Thiel berhasil mengumpulkan US$1 juta atau Rp17,7 miliar (asumsi kurs Rp17.644) dan mendirikan Thiel Capital dan memulai kariernya di bidang modal ventura pada pertengahan 1990-an.
Thiel sempat gagal saat menginvestasikan US$100 ribu atau Rp1,8 miliar di proyek kalender berbasis web milik temannya, Luke Nosek.
Pada 1998, Thiel bersama sejumlah orang mendirikan Confinity, perusahaan yang dirancang untuk menangani kesenjangan sistem pembayaran. Meski saat itu kartu kredit dan ATM tengah berkembang, tak semua pelaku usaha memperoleh izin dan perangkat yang diperlukan untuk menerima pembayaran dengan kartu kredit. Akibatnya, konsumen kerap kesulitan karena pembayaran terbatas pada uang tunai atau cek pribadi.
Thiel bersama Nosek dan Max Levchin ingin menciptakan semacam dompet digital sebagai jembatan yang memudahkan transaksi. Maka munculah PayPal pada 1999. Nokia Ventures dan Deutsche Bank langsung menanam modal jutaan dolar. Kala itu, Thiel menjabat sebagai CEO.
Moncernya bisnis PayPal menuai protes dari perbankan. Mereka mengajukan keluhan ke otoritas pengawas keuangan FDIC bahwa PayPal seharusnya diatur sebagai bank. Setelah melalui negosiasi, FDIC mengklasifikasikan PayPal sebagai perusahaan yang bergerak di bidang transfer uang, bukan bank. Keputusan yang menguntungkan PayPal.
PayPal yang fokus pada layanan transfer uang melalui internet pun maju pesat, terutama berkat transaksi di eBay. Pada 2001, PayPal melayani 6,5 juta pelanggan di 26 negara.
Pada 2002, eBay mengakuisisi PayPal senilai US$1,5 miliar atau setara Rp26,4 triliun. Pembelian jumbo itu membuat Thiel jadi miliuner.
Berbekal duit penjualan PayPal, ia berinvestasi di sejumlah perusahaan rintisan, salah satunya Facebook yang saat itu belum dikenal, pada 2004. Thiel juga mendirikan perusahaan hedge fund, Clarium Capital Management.
Masih di 2004, Thiel bersama sejumlah pihak mendirikan Palantir Technologies, perusahaan perangkat lunak yang bergerak di bidang analisis data. Nama Palantir terinspirasi dari sebuah batu ajaib di The Lord of the Rings. Batu itu yang digunakan untuk berkomunikasi dan memantau wilayah yang jauh.
Investor awal Palantir adalah in-Q-Tel, cabang modal ventura milik Central Intelligence Agency (CIA) AS. Investasinya US$2 juta atau setara Rp35,2 miliar.
Pada 2005, Thiel mendirikan Founders Fund, perusahaan modal ventura yang kemudian berinvestasi di sejumlah perusahaan seperti Airbnb, Lyft, dan SpaceX milik Elon Musk.
Forbes menaksir kekayaan Thiel mencapai US$35 miliar atau setara Rp616 triliun. Pundi-pundi itu berasal dari berbagai investasi di startup, yang paling bernilai adalah SpaceX dan Stripe. Palantir juga jadi motor utama kekayaan Thiel.
Segudang Kontroversi
Pada 2007, kehidupan pribadi Thiel menjadi sorotan setelah blog teknologi milik Gawker menerbitkan artikel yang menyebut dirinya homoseksual. Thiel mengecam perusahaan media daring tersebut, meski pada akhirnya secara terbuka mengumumkan dirinya gay.
Pada 2016 terungkap bahwa setelah artikel tersebut diterbitkan, Thiel mendanai sejumlah gugatan hukum terhadap Gawker. Salah satu yang paling terkenal adalah gugatan yang diajukan pegulat profesional Hulk Hogan, yang berhasil menggugat Gawker karena pelanggaran privasi setelah media tersebut menerbitkan rekaman video seksual yang menampilkan dirinya.
Penyelesaian perkara tersebut berujung pada penjualan perusahaan media Gawker dan penutupan situs utamanya.
Kontroversi lainnya saat Thiel secara terbuka mendukung politikus Partai Republik Donald Trump di Pilpres 2016. Ia menyumbangkan dana dan berpidato dalam konvensi partai tersebut.
Bisnis Thiel, Palantir, juga diguncang badai kritik. Keterlibatan Palantir dengan CIA, FBI hingga NSA menuai kecaman, terutama mengingat pandangan politik Thiel yang menganut paham libertarian. Produk Palantir juga mendukung sistem deportasi imigran milik badan penegak imigrasi AS, ICE. Perusahaan mengantongi kontrak bernilai miliaran dolar dengan berbagai lembaga pemerintah AS.
Pada 2024, Palantir mengumumkan kemitraan strategis dengan Kementerian Pertahanan Israel. Kontrak inilah yang dikritik publik karena dinilai berkontribusi atas genosida Zionis di Gaza dan yang terbaru, Lebanon.
Open Intel, platform yang memantau keterlibatan perusahaan yang teribat genosida di Gaza, mengatakan Palantir telah merekrut mantan anggota Unit 8200, divisi intelijen siber elite Israel. Palantir menggabungkan komunikasi yang disadap, citra satelit, dan berbagai data lainnya untuk membantu pasukan Israel menyusun daftar target militer.
Palantir juga kecipratan berbagai proyek pemerintah AS usai Trump menang Pilpres 2024. Saham perusahaan yang meroket. Wapres AS JD Vance pernah bekerja untuk Thiel. Para pendiri perusahaan juga donatur kakap para kandidat MAGA.
Di luar bisnis, ia aktif di filantropi melalui Thiel Foundation. Yayasan tersebut mendukung tiga proyek, yakni Breakout Labs, Thiel Fellowship, dan Imitatio. Slogan Thiel Foundation ditampilkan secara mencolok di webistenya: Kami mendukung para pemikir berani yang mengejar kebenaran yang belum diakui.
Thiel Fellowship adalah pendanaan beasiswa untuk bagi 20 orang berusia di bawah 20 tahun. Setiap peserta mendapatkan US$100 ribu untuk meninggalkan kuliah dan memulai usaha mereka sendiri.
Program beasiswa ini diluncurkan pada 2011, program tersebut bertujuan memberikan jalur alternatif kepada anak muda selain jalur konvensional melanjutkan kuliah setelah lulus SMA. Namun, sebagian orang menentang ini karena dianggap mendorong mahasiswa 'cabut' kuliah.
Meski demikian, para peserta Thiel Fellowship tetap dapat berkuliah setelah menyelesaikan masa fellowship selama dua tahun. Beberapa peserta bahkan menilai pengalaman tersebut memberi mereka wawasan berharga mengenai bagaimana bisnis beroperasi di dunia nyata. Peserta juga dipasangkan dengan seorang mentor dan mendapatkan akses ke jaringan kontak Thiel untuk membantu mereka mewujudkan visi kewirausahaan masing-masing.
Pada 2011, Thiel Fellowship dengan menerima 30 peserta setiap tahun serta menaikkan batas usia peserta menjadi 22 tahun.
Proyek kedua, Breakout Labs, juga diluncurkan pada 2011. Breakout Labs terutama mencari proyek riset yang dianggap 'terlalu maju' untuk zamannya bagi sumber pendanaan tradisional. Fokusnya antara lain penelitian umur panjang manusia, pengembangan alat ukur ilmiah baru, rekayasa jaringan tubuh, serta perangkat lunak pengenalan bahasa manusia oleh komputer.
Proyek ketiga Thiel Foundation adalah Imitatio, yang berfokus pada penelitian dan penerapan teori mimetik René Girard, filsuf yang paling berpengaruh terhadap pemikiran Thiel.
Imitatio mengembangkan pemikiran tersebut dengan menerjemahkan karya-karya mengenai teori mimetik ke berbagai bahasa, menerbitkan dan melestarikan tulisan Girard, serta publikasi baru mengenai teori mimetik, sekaligus mendukung penelitian yang bertujuan memahami perilaku manusia melalui teori tersebut.