TAIPAN

Peter Thiel, Bertaruh dari PayPal ke Medan Perang Berharta Rp616 T

Putri Kartika Utami | CNN Indonesia
Minggu, 13 Sep 2026 10:00 WIB
Kepiawaian Peter Thiel bertaruh pada bisnis 'masa depan' membawanya dari investor teknologi itu dari Silicon Valley, ke Gedung Putih hingga medan perang. (Foto: Alya Hendrahmi/CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dari PayPal hingga Palantir, Peter Thiel membangun kerajaan bisnis dengan satu pola yang berulang, yakni bertaruh. Ia selalu masuk lebih awal, mengambil risiko besar, lalu menunggu taruhan itu menggandakan nilainya.

Thiel bertaruh membangun PayPal, ketika internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia nekat jadi investor Facebook saat jejaring sosial itu di fase awal.

Thiel kemudian membangun Palantir yang mengubah data menjadi bisnis bernilai ratusan miliar dolar, meski juga kontroversial.

Kepiawaian Thiel bertaruh pada bisnis yang di masa depan cemerlang itu berhasil membawanya dari investor teknologi itu dari Silicon Valley, ke Gedung Putih hingga medan perang. Tentu keberhasilan itu pararel dengan segudang kontroversi yang menyertainya.

Peter Andreas Thiel lahir pada 11 Oktober 1967 di Frankfurt, Jerman. Ia putra pasangan dari pasangan Klaus dan Susanne Thiel.

Ayahnya seorang insinyur kimia, yang kemudian bekerja di bidang manajemen untuk berbagai perusahaan pertambangan. Pekerjaan tersebut membuat ia dan keluarga kerap berpindah tempat tinggal. Saat Thiel berusia 1 tahun, keluarganya hijrah ke Amerika Serikat (AS).

Sebelum akhirnya menetap permanen di AS pada 1977, keluarga ini sempat tinggal di Afrika Selatan dan Swakopmund, sebuah kota kecil bernuansa Jerman di pesisir wilayah yang saat itu bernama Afrika Barat Daya (kini Namibia).

Saat di Afrika, Peter Thiel dan adiknya, Patrick, bersekolah di sekolah dasar yang menerapkan disiplin ketat. Sekolah itu mewajibkan seragam dan menerapkan hukuman berupa pemukulan telapak tangan siswa dengan penggaris.

Pengalaman tersebut menumbuhkan ketidaksukaan Thiel terhadap keseragaman dan sistem yang terlalu mengatur, yang kelak tercermin dalam dukungannya yang kuat terhadap individualisme dan libertarianisme saat dewasa.

Saat Thiel berusia 9 tahun, keluarganya kembali ke Cleveland, AS, karena pekerjaan sang ayah. Setahun kemudian, mereka pindah ke Foster City, sebuah kota yang dibangun secara terencana di sebelah utara Stanford dan berada di kawasan Teluk San Francisco.

Pada masa itu, istilah Silicon Valley memang belum banyak digunakan untuk menyebut wilayah antara San Francisco dan San Jose. Namun, di kawasan sudah ada sejumlah perusahaan teknologi besar seperti HP, Varian, Fairchild Semiconductor, dan Intel.

Pada saat yang sama, Stanford juga berkembang menjadi salah satu universitas terkemuka AS, terutama dalam bidang sains dan teknologi.

Jadi, boleh dibilang Thiel tumbuh di tengah kawasan yang menjadi pusat perkembangan teknologi. Sejak kecil hingga dewasa muda, ia menyaksikan langsung kemunculan komputer pribadi dan berbagai inovasi teknologi.

Di sekolah, Thiel dikenal jago matematika dan catur. Ia pernah menduduki peringkat ketujuh nasional untuk kategori pemain catur di bawah usia 13 tahun. Saat duduk di bangku SMA, ia juga memimpin tim matematika sekolahnya dalam kompetisi memperebutkan kejuaraan tingkat distrik.

Thiel remaja juga merupakan pembaca fanatik karya fiksi ilmiah, terutama tulisan Isaac Asimov dan Robert Heinlein, serta karya fantasi J.R.R. Tolkien. Dunia imajinatif dalam karya-karya tersebut ikut membentuk keyakinannya terhadap kekuatan teknologi.

Thiel bahkan pernah mengaku membaca ulang Trilogi The Lord of the Rings karya Tolkien lebih dari 10 kali. Siapa sangka, film fiksi ini sangat memengaruhinya, bahkan nama perusahaan yang ia bangun di masa depan pun terinpirasi dari buku ini.

Lewat bacaannya, Thiel mulai memikirkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperbaiki masa depan, sekaligus berpotensi membawa dampak buruk.

Thiel memilih melanjutkan pendidikan di Stanford University yang 'dekat' rumah mengingat keluarganya kerap berpindah tempat. Ia mempelajari filsafat dan meraih gelar sarjana pada 1989.

Selama kuliah, ia terlibat dalam berbagai perdebatan serta diskusi politik. Salah satu isu yang paling menarik perhatiannya adalah perdebatan mengenai politik identitas dan political correctness di Stanford pada era 1980-an.

Perdebatan bermula dari kritik sekelompok mahasiswa yang menyerukan penghapusan mata kuliah wajib Western Culture. Mereka menilai program itu kurikulumnya tidak cukup beragam dan multikultural, karena hanya menampilkan karya-karya laki-laki kulit putih.

Merespons kritik itu, pihak kampus membentuk tim khusus untuk mengevaluasi. Akhirnya, Stanford mengganti mata kuliah Western Culture dengan mata kuliah baru bernama Culture, Ideas and Values, yang lebih menekankan keberagaman.

Namun, keputusan tersebut memicu respons keras dari mahasiswa lain, termasuk Thiel. Pada 1987, bersama sejumlah mahasiswa Stanford yang memiliki pandangan serupa, ia mendirikan surat kabar mahasiswa konservatif-libertarian bernama The Stanford Review.

Pendirian media tersebut juga mendapat dukungan finansial serta bimbingan dari Irving Kristol, salah satu pelopor neokonservatisme. The Stanford Review berupaya menantang apa yang mereka pandang sebagai berkembangnya bias liberal dan political correctness dalam perubahan kurikulum universitas.

Lalu pada 1995, Peter dan David Sacks menerbitkan buku yang mereka tulis bersama berjudul The Diversity Myth: "Multiculturalism" and the Politics of Intolerance at Stanford. Subtansinya, mengkritik keras kurikulum multikultural di universitas dan memandangnya sebagai bagian dari pertarungan melawan peradaban Barat.

Jadi Pengacara, Lalu 'Melayani' CIA


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :