Bos DSI Ungkap Jurus Hentikan Kebocoran Nilai Ekspor Komoditas RI
PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) membidik praktik under-invoicing dan transfer pricing yang dinilai berpotensi menyebabkan kebocoran nilai dari ekspor komoditas Indonesia.
Direktur Utama Danantara Sumberdaya Indonesia Luke Thomas Mahony mengatakan tengah menyiapkan strategi untuk mencegah kebocoran nilai tersebut dengan meningkatkan transparansi data perdagangan komoditas Indonesia.
Menurutnya, DSI akan memanfaatkan data yang telah tersedia dalam sistem kementerian dan menambahkan analisis untuk mengidentifikasi indikasi atau anomali transaksi yang perlu ditindaklanjuti oleh kementerian terkait.
"Pada akhirnya, kami dibentuk untuk menangani under-invoicing transfer pricing," ujar Luke dalam Indonesia Economic Forum 2026: The Future of Indonesia's Exports, Senin (7/9).
Ia menjelaskan DSI akan melihat secara lebih menyeluruh aktivitas ekspor Indonesia, mulai dari komoditas yang diekspor, negara tujuan, kualitas produk, harga, hingga bagaimana nilai dari transaksi tersebut ditangkap di Indonesia.
"Kita perlu memahami apa yang kita ekspor, ke mana ekspor tersebut pergi, bagaimana kualitasnya, berapa harganya, dan bagaimana nilainya ditangkap," kata Luke.
Menurut Luke, data pemerintah yang sudah ada akan dilengkapi dengan perspektif pasar komersial. Salah satunya melalui informasi mengenai proses negosiasi antara pembeli dan penjual, penetapan harga, serta harga referensi yang digunakan dalam transaksi.
Dengan menggabungkan data dari berbagai ekosistem tersebut, DSI berharap dapat meningkatkan transparansi dan kepercayaan terhadap pasar komoditas Indonesia sekaligus membantu pemerintah membuat keputusan komersial dan kebijakan yang lebih tepat.
"Nilai tambah DSI adalah melapisinya dengan perspektif pasar yang lebih komersial," tuturnya.
Lihat Juga :ERUPSI ANAK KRAKATAU Penerbangan Internasional ke Soetta Dialihkan ke 5 Bandara Alternatif |
Luke menegaskan DSI tidak dibentuk untuk menggantikan fungsi pemerintah maupun regulator. DSI akan berperan sebagai pelengkap dengan menjembatani data dan informasi antara pemerintah dengan pasar komersial.
Ia mengatakan keberhasilan DSI nantinya tidak hanya diukur dari kemampuan menghentikan under-invoicing dan kebocoran nilai, tetapi juga dari kemampuan meningkatkan permintaan terhadap komoditas Indonesia.
"Kesuksesan bagi saya adalah ketika produsen bisa memproduksi lebih banyak, ada permintaan yang lebih besar terhadap komoditas dari Indonesia, yang kemudian menambah likuiditas, mendorong investasi, dan kita mendapatkan harga yang lebih tinggi untuk komoditas kita," jelas Luke.
(ldy/ins)