ANALISIS

Stok Melimpah, Mengapa Beras Premium 5 Kg Malah Langka di Pasaran?

Lidya Julita Sembiring | CNN Indonesia
Selasa, 08 Sep 2026 08:01 WIB
Pekerja memanen padi menggunakan mesin Combine Harvester di area persawahan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Jumat (21/3/2025). Perum Bulog Wilayah Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) menargetkan serapan gabah petani hingga akhir Ap
Evaluasi HET hingga Setop Ekspor. (Foto: ANTARA/ARNAS PADDA)

Eliza mendorong pemerintah mengevaluasi struktur biaya beras secara menyeluruh sebelum menentukan HET. Evaluasinya dimulai dari harga gabah, biaya penggilingan, tingkat rendemen, grading, pengemasan, logistik, distributor, hingga margin ritel.

"Dari sana baru bisa diketahui apakah memang HET sudah terlalu rendah, apakah ada biaya yang tidak efisien atau justru ada margin yang terlalu besar di salah satu mata rantai," tambahnya.

Dalam jangka pendek, Eliza mengusulkan agar pemerintah melakukan penyesuaian sementara terhadap mekanisme harga beras premium sembari menunggu evaluasi HET. Salah satunya dengan mengubah istilah HET menjadi harga acuan penjualan yang dilengkapi batas kewajaran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia juga mengusulkan Bulog masuk ke pasar beras premium sebagai pesaing, bukan sebagai pengawas atau 'polisi'. Namun, intervensi tersebut harus disertai kepastian mutu premium, keberlanjutan pasokan setidaknya selama 3-4 bulan, serta harga yang mampu menutup biaya konversi beras dari cadangan pemerintah.

Eliza juga mendorong penghentian sementara ekspor beras premium selama persoalan ketersediaan di pasar domestik belum teratasi. Ekspor beras premium dengan harga sekitar Rp17 ribu per kg ketika produk serupa sulit ditemukan di sejumlah supermarket dalam negeri dapat menciptakan sinyal kebijakan yang tidak konsisten.

"Kalau mengekspor ke Malaysia di kisaran Rp17 ribu per kg selama supermarket dalam negeri kosong, itu menjadi sinyal kebijakan yang bertabrakan," tegasnya.

Senada, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai akar persoalan kelangkaan beras premium juga tidak hanya berkaitan dengan stok. Ada persoalan pada sinkronisasi antara stok, distribusi, struktur biaya, dan HET.

"Pemerintah bisa mengatakan stok beras secara nasional aman, dan itu bisa benar. Tetapi yang dibutuhkan konsumen adalah beras premium 5 kg di rak ritel, bukan stok beras yang secara agregat ada di gudang atau dalam bentuk beras medium," ujar Ronny.

Ia mengatakan terdapat indikasi harga beli di tingkat pemasok atau distributor sudah lebih tinggi daripada HET di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menempatkan peritel pada posisi sulit.

Jika peritel membeli beras dengan harga tinggi lalu menjual sesuai HET, margin mereka tertekan bahkan berpotensi mengalami kerugian. Namun, jika menjual mengikuti harga beli, peritel menghadapi risiko melanggar ketentuan HET.

"Jadi wajar kalau sebagian peritel kemudian mengurangi pembelian. Ini menciptakan situasi yang agak paradoks di mana barangnya ada, tetapi tidak seluruhnya mengalir ke kanal ritel yang harganya dibatasi," katanya.

Karena itu, Ronny menilai persoalan tersebut kurang tepat jika hanya disederhanakan sebagai pedagang yang enggan menjual beras premium. Mereka juga menghadapi struktur biaya yang nyata. Ketika harga di hulu meningkat sementara harga di hilir dibatasi, akan muncul disinsentif distribusi.

"Kalau harga di hulu naik tetapi harga di hilir dibekukan, maka yang muncul adalah disinsentif distribusi. Ini justru bisa membuat konsumen semakin sulit mendapatkan barang meskipun stok nasional secara agregat aman," ujarnya.

Ronny mengatakan pemerintah perlu melakukan tiga langkah secara simultan untuk mengatasi persoalan tersebut. Pertama, mengevaluasi HET secara berkala berdasarkan struktur biaya aktual. Evaluasi harus mencakup harga gabah, penggilingan, grading, pengemasan, transportasi, hingga margin ritel.

"HET jangan terlalu rendah dibandingkan biaya ekonomi riil, karena harga yang terlalu rendah di atas kertas bisa menghasilkan kelangkaan di lapangan," jelas Ronny.

Kedua, memastikan distribusi bukan hanya dengan menghitung jumlah stok. Pemerintah perlu memetakan titik terjadinya kesenjangan pasokan, apakah berada di penggilingan, distributor, prinsipal, atau ritel.

"Kalau stok ada tetapi tidak masuk ke kanal ritel, berarti problemnya adalah market clearing dan distribusi, bukan produksi," katanya.

Ketiga, memperkuat intervensi melalui beras stabilisasi sehingga masyarakat tetap memiliki alternatif ketika harga beras premium mengalami tekanan. Pemerintah tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan hanya dengan menekan harga beras premium. Kebijakan semacam itu justru berisiko mengurangi insentif pelaku usaha untuk memproduksi dan mendistribusikan beras.

Menurutnya, pemerintah harus menjaga tiga kepentingan sekaligus, yakni konsumen mendapatkan harga yang wajar, petani memperoleh harga yang layak, dan pelaku usaha tetap punya margin yang membuat mereka mau memproduksi serta mendistribusikan beras.

"Kalau salah satu mata rantai dipaksa menanggung seluruh beban stabilisasi, masalahnya hanya akan berpindah tempat," ujar Ronny.

Ia menilai ukuran keberhasilan kebijakan perberasan tidak cukup hanya dilihat dari berapa juta ton stok yang dimiliki pemerintah. Yang lebih penting adalah memastikan beras tersebut tersedia di lokasi yang dibutuhkan masyarakat, dalam kemasan yang dibutuhkan, dan dengan harga yang masih terjangkau.

"Stok yang besar tetapi tidak sampai ke rak ritel adalah persoalan distribusi dan desain pasar yang harus segera diperbaiki," pungkasnya.

(pta)

HALAMAN:
1 2