Investor China Pilih Malaysia dan Singapura untuk Amankan Aset

CNN Indonesia
Jumat, 11 Sep 2026 10:43 WIB
Konglomerat Asia agresif pindahkan kekayaan ke Singapura dan Malaysia. Singapura jadi safe haven, adapun Malaysia memikat investor China lewat properti murah. (FOTO:REUTERS/Hasnoor Hussain).
Jakarta, CNN Indonesia --

Para konglomerat di kawasan Asia kian agresif memindahkan portofolio kekayaan mereka ke Singapura dan Malaysia. Kedua negara tersebut kini menjadi dua destinasi utama penampung 'uang panas' serta aset fisik seperti emas yang dialihkan dari Timur Tengah dan China.

CEO Malayan Bank Bhd (Maybank) Singapura Alvin Lee mengungkapkan adanya pergeseran signifikan peta investasi orang kaya Asia. Salah satunya terlihat dari eksodus modal dan aset emas dalam jumlah besar dari Dubai menuju Singapura.

"Singapura akan terus memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi kekayaan offshore. Dengan adanya konflik di Timur Tengah, banyak uang yang sebelumnya meninggalkan Singapura menuju Dubai kini kembali," ujar Lee, Selasa (8/9) dilansir CNBC.

Selain dana simpanan, pengiriman emas fisik dari Dubai ke Singapura juga mencatatkan rekor secara historis. Lee menilai Singapura konsisten mengambil keuntungan saat krisis regional maupun global melanda berkat statusnya sebagai safe haven, stabilitas politik, perlindungan hukum yang kuat, serta rezim pajak yang ramah investor.

Di sisi lain, investor kawakan asal China mulai melirik Malaysia sebagai basis baru ekspansi bisnis dan tempat tinggal keluarga. Alasannya, faktor efisiensi harga dan valuasi properti yang relatif lebih murah dibanding Singapura.

Sebagai informasi, data Hurun Global Rich List mencatat China mengantongi 1.110 miliarder, mengungguli Amerika Serikat yang memiliki sekitar 1.000 miliarder.

"Kami melihat semakin banyak orang China membeli properti di Malaysia, baik untuk penggunaan pribadi maupun bisnis. Kuala Lumpur, Melaka, dan Penang menjadi kawasan yang sangat menarik bagi mereka," tutur Lee.

Ia menambahkan kelompok superkaya ini terus mendiversifikasi portofolio ke aset fisik, terutama properti dan logam mulia di tengah ketidakpastian pasar finansial.

Meskipun melandai dari rekor tertingginya di awal tahun, harga emas masih tertahan di level tinggi US$4.400 per troy ounce.

Bahkan, Analisis Goldman Sachs memproyeksikan harga emas berpeluang melesat hingga menembus US$4.900 per troy ounce pada akhir tahun didorong oleh masifnya aksi beli dari sejumlah bank sentral global.

(fln/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK