Jenis perlindungan asuransi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi, tanggungan, serta risiko yang paling mungkin dihadapi.. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adi Maulana).
4. Asuransi Pelengkap Dana Darurat
Dana darurat tidak harus menjadi satu-satunya perlindungan keuangan ketika menghadapi bencana. Asuransi dapat digunakan sebagai pelengkap untuk menutup potensi kekurangan dana ketika kebutuhan yang muncul jauh lebih besar daripada tabungan yang tersedia.
Andi menyebut asuransi sebagai bentuk leverage karena dengan membayar premi yang relatif kecil, seseorang bisa mendapatkan perlindungan dengan nilai pertanggungan yang jauh lebih besar.
"Karena bencana bisa datang kapan saja, tidak peduli apakah dana darurat kita sudah terkumpul 3x penghasilan atau belum, maka kita butuh leverage yang dapat meng-cover gap kekurangan dana darurat yang masih terjadi, dan asuransi dapat menjadi leverage tersebut," jelasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena dengan membayar uang premi yang nominalnya relatif kecil, kita bisa mendapatkan coverage yang nominalnya bahkan bisa melebihi kebutuhan dana darurat kita," sambung Andi.
Menurut Andi, asuransi rumah dan kendaraan bermotor dapat dipertimbangkan apabila dana yang tersedia masih mencukupi.
"Jika dana kita masih mencukupi, bisa dilengkapi juga dengan asuransi rumah dan kendaraan bermotor," pungkas Andi.
Tidak semua orang membutuhkan produk asuransi yang sama. Jenis perlindungan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi, tanggungan, serta risiko yang paling mungkin dihadapi.
Andi menyebut asuransi kesehatan dan asuransi jiwa sebagai dua jenis perlindungan yang dapat dipertimbangkan.
Menurutnya, asuransi kesehatan dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang tidak memiliki perlindungan kesehatan atau merasa kurang nyaman hanya mengandalkan BPJS Kesehatan.
Sementara asuransi jiwa dapat dipertimbangkan untuk memberikan perlindungan bagi keluarga apabila pencari nafkah meninggal dunia.
Dandy juga mengingatkan masyarakat agar tidak membeli produk asuransi secara sembarangan. Kebutuhan dan tingkat urgensi perlindungan harus menjadi pertimbangan utama agar produk yang dibeli benar-benar memberikan manfaat.
"Untuk produk asuransinya sesuaikan juga dengan kebutuhan dan urgency sekarang apa, untuk menghindari salah beli produk asuransi," ujar Dandy.
Ia mencontohkan tulang punggung keluarga atau generasi sandwich yang memiliki banyak tanggungan dapat mempertimbangkan asuransi jiwa.
"Contoh tulang punggung keluarga atau sandwich generation perlu asuransi jiwa," katanya.
Sementara itu, masyarakat yang tidak memiliki asuransi dari kantor atau merasa perlindungan yang diberikan perusahaan belum mencukupi dapat mempertimbangkan asuransi kesehatan.
"Kalau dirasa kurang nyaman dengan fasilitas BPJS, tidak punya asuransi kantor atau asuransi dari kantor tidak cukup maka bisa mempertimbangkan asuransi kesehatan," ujar Dandy.
Andi mengatakan porsi dana yang dialokasikan untuk perlindungan asuransi dan instrumen dana darurat lainnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang.
"Prosentasenya dibandingkan dengan dalam bentuk uang yang kita investasikan ke instrumen lain bisa 50 persen : 50 persen atau disesuaikan dengan kebutuhan," kata Andi.
Dandy memberikan acuan berbeda dengan menyarankan masyarakat menyisihkan sekitar 10 persen-20 persen dari pendapatan untuk kebutuhan asuransi.
Namun, angka tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial dan kebutuhan perlindungan masing-masing.
Bencana bisa datang kapan saja dan tidak selalu bisa diprediksi. Karena itu, menyiapkan dana darurat menjadi salah satu langkah penting agar kondisi keuangan tetap terjaga saat bencana melanda.
Perencana keuangan menilai tidak ada kata pernah ada kata terlambat untuk mulai menyiapkan dana darurat, termasuk dana untuk menghadapi risiko bencana.
Lalu, bagaimana cara menyiapkannya?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Mulai Kumpulkan Dana Darurat Sekarang
Tidak perlu menunggu kondisi keuangan ideal untuk mulai menyiapkan dana darurat. Kesadaran bahwa bencana maupun kondisi darurat lainnya dapat terjadi kapan saja seharusnya menjadi pemicu untuk mulai menyisihkan penghasilan.
Perencana Keuangan Andi Nugroho mengatakan waktu yang paling tepat memulai dana darurat adalah ketika seseorang mulai menyadari bahwa risiko bencana juga dapat terjadi pada dirinya.
"Waktu yang paling tepat untuk memulainya adalah ketika kita mulai menyadari bahwa kondisi-kondisi seperti jawaban pertanyaan nomor satu itu bisa terjadi juga pada kita, maka kita mulai dari sekarang untuk menyiapkan dana darurat tersebut," kata Andi kepada CNNIndonesia.com.
Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia Dandy menambahkan kesadaran tersebut perlu segera diikuti tindakan nyata.
Menurut dia, tidak ada gunanya memahami pentingnya dana darurat jika tidak mulai menyisihkan uang untuk membentuknya.
Dana darurat berbeda dengan dana investasi yang memang ditujukan untuk mengejar keuntungan dalam jangka panjang. Karena bisa dibutuhkan sewaktu-waktu, dana darurat sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang relatif rendah risiko dan mudah dicairkan.
Andi menyebut beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan, seperti rekening bank, deposito, logam mulia, hingga reksa dana berbasis pasar uang atau pendapatan tetap.
"Selayaknya dana darurat pada umumnya, maka dana untuk bencana juga sebaiknya disimpan di instrumen investasi yang berisiko rendah dan gampang untuk dicairkan kembali," ujarnya.
Menurut Andi, karakter tersebut penting agar masyarakat dapat segera menggunakan dana ketika keadaan darurat terjadi tanpa harus khawatir nilai aset sedang turun akibat risiko investasi.
Dandy juga menyarankan dana darurat ditempatkan pada instrumen yang paling likuid, seperti rekening bank. Uang tunai juga dapat disiapkan dalam jumlah tertentu, tetapi memiliki risiko tersendiri jika disimpan terlalu banyak.
"Tempat simpan paling disarankan adalah yang paling likuid ya, bisa dimasukkan ke bank atau berupa uang tunai. Namun uang tunai berisiko kalau di keadaan mendesak," ujar Dandy.
Ia mengingatkan masyarakat tidak menggunakan instrumen berisiko tinggi seperti saham sebagai tempat menyimpan dana darurat.
"Sangat tidak disarankan untuk masukkan dana darurat ke saham atau untuk cari keuntungan ke instrumen yang high risk," ujarnya.
3. Minimal Tiga Kali Penghasilan atau Pengeluaran
Besaran dana darurat yang dibutuhkan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Namun, Andi menyebut idealnya seseorang memiliki dana darurat minimal sebesar tiga kali penghasilan bulanan.
"Jadi idealnya kita memiliki dana darurat itu minimal sebesar 3x penghasilan bulanan kita," katanya.
Sementara Dandy menggunakan acuan tiga kali pengeluaran bulanan untuk dana darurat. Artinya, kebutuhan dana darurat dapat dihitung berdasarkan pengeluaran rutin yang harus tetap dibayarkan ketika terjadi kondisi darurat.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Asuransi Sebagai Pelengkap
Jenis perlindungan asuransi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi, tanggungan, serta risiko yang paling mungkin dihadapi.. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adi Maulana).
4. Asuransi Pelengkap Dana Darurat
Dana darurat tidak harus menjadi satu-satunya perlindungan keuangan ketika menghadapi bencana. Asuransi dapat digunakan sebagai pelengkap untuk menutup potensi kekurangan dana ketika kebutuhan yang muncul jauh lebih besar daripada tabungan yang tersedia.
Andi menyebut asuransi sebagai bentuk leverage karena dengan membayar premi yang relatif kecil, seseorang bisa mendapatkan perlindungan dengan nilai pertanggungan yang jauh lebih besar.
"Karena bencana bisa datang kapan saja, tidak peduli apakah dana darurat kita sudah terkumpul 3x penghasilan atau belum, maka kita butuh leverage yang dapat meng-cover gap kekurangan dana darurat yang masih terjadi, dan asuransi dapat menjadi leverage tersebut," jelasnya.
"Karena dengan membayar uang premi yang nominalnya relatif kecil, kita bisa mendapatkan coverage yang nominalnya bahkan bisa melebihi kebutuhan dana darurat kita," sambung Andi.
Menurut Andi, asuransi rumah dan kendaraan bermotor dapat dipertimbangkan apabila dana yang tersedia masih mencukupi.
"Jika dana kita masih mencukupi, bisa dilengkapi juga dengan asuransi rumah dan kendaraan bermotor," pungkas Andi.
Tidak semua orang membutuhkan produk asuransi yang sama. Jenis perlindungan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi, tanggungan, serta risiko yang paling mungkin dihadapi.
Andi menyebut asuransi kesehatan dan asuransi jiwa sebagai dua jenis perlindungan yang dapat dipertimbangkan.
Menurutnya, asuransi kesehatan dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang tidak memiliki perlindungan kesehatan atau merasa kurang nyaman hanya mengandalkan BPJS Kesehatan.
Sementara asuransi jiwa dapat dipertimbangkan untuk memberikan perlindungan bagi keluarga apabila pencari nafkah meninggal dunia.
Dandy juga mengingatkan masyarakat agar tidak membeli produk asuransi secara sembarangan. Kebutuhan dan tingkat urgensi perlindungan harus menjadi pertimbangan utama agar produk yang dibeli benar-benar memberikan manfaat.
"Untuk produk asuransinya sesuaikan juga dengan kebutuhan dan urgency sekarang apa, untuk menghindari salah beli produk asuransi," ujar Dandy.
Ia mencontohkan tulang punggung keluarga atau generasi sandwich yang memiliki banyak tanggungan dapat mempertimbangkan asuransi jiwa.
"Contoh tulang punggung keluarga atau sandwich generation perlu asuransi jiwa," katanya.
Sementara itu, masyarakat yang tidak memiliki asuransi dari kantor atau merasa perlindungan yang diberikan perusahaan belum mencukupi dapat mempertimbangkan asuransi kesehatan.
"Kalau dirasa kurang nyaman dengan fasilitas BPJS, tidak punya asuransi kantor atau asuransi dari kantor tidak cukup maka bisa mempertimbangkan asuransi kesehatan," ujar Dandy.
Andi mengatakan porsi dana yang dialokasikan untuk perlindungan asuransi dan instrumen dana darurat lainnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang.
"Prosentasenya dibandingkan dengan dalam bentuk uang yang kita investasikan ke instrumen lain bisa 50 persen : 50 persen atau disesuaikan dengan kebutuhan," kata Andi.
Dandy memberikan acuan berbeda dengan menyarankan masyarakat menyisihkan sekitar 10 persen-20 persen dari pendapatan untuk kebutuhan asuransi.
Namun, angka tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial dan kebutuhan perlindungan masing-masing.