Tarif Impor ke Pembeli Minyak Rusia Ancam Hubungan Dagang AS-India

CNN Indonesia
Kamis, 17 Sep 2026 21:45 WIB
India melayangkan peringatan keras kepada AS bahwa ancaman tarif impor hingga 100 persen bagi pembeli minyak Rusia bisa merusak hubungan bilateral kedua negara. Ilustrasi. (AFP/JEWEL SAMAD).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah India melayangkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) bahwa ancaman tarif impor hingga 100 persen bagi pembeli minyak Rusia berpotensi merusak hubungan bilateral kedua negara.

Mengutip Reuters, New Delhi menegaskan komitmennya untuk tetap melindungi kepentingan ekonomi dan keamanan energi rakyatnya.

Pernyataan tegas tersebut dirilis Kementerian Luar Negeri India pada Kamis (17/9), selang beberapa jam setelah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) sanksi luas yang menyasar negara-negara pembeli energi Rusia.

Aturan baru tersebut memberikan wewenang kepada Presiden AS Donald Trump untuk menjatuhkan tarif setinggi langit kepada pembeli utama minyak dan gas Rusia, termasuk India dan Tiongkok untuk memutus sumber pembiayaan perang Moskow.

Kini, RUU itu tinggal menunggu tanda tangan Trump untuk resmi menjadi Undang-Undang (UU).

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Luar Negeri India menyatakan telah berulang kali mengangkat isu ini dengan pihak AS dalam beberapa bulan terakhir.

New Delhi mengaku sudah menyampaikan implikasi serius dari aturan ini terhadap pasar energi global maupun hubungan antarnegara.

"Pihak India juga telah menegaskan tekadnya untuk mengambil semua langkah yang diperlukan guna melindungi kepentingan perdagangan dan ekonominya," demikian pernyataan resmi kementerian tersebut.

Pemerintah India menambahkan bahwa pemerintah akan bekerja sama erat dengan sektor industri dan perdagangan untuk menghadapi dampak aturan ini.

Sebagai importir minyak terbesar ketiga di dunia, India merupakan salah satu pembeli utama minyak mentah Rusia sejak Moskow digempur sanksi ekonomi besar-besaran oleh negara-negara Barat menyusul invasi ke Ukraina pada 2022.

Hingga kini, New Delhi konsisten menolak tekanan internasional untuk menghentikan impor energi dari Rusia. Pihaknya berargumentasi bahwa skala populasi dan perekonomian domestik yang masif menuntut pasokan energi yang aman, terjangkau, serta dapat diandalkan dari berbagai sumber berdasarkan dinamika pasar.

(fln/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK