Perhatikan Hal-hal Ini Bila Ingin Investasi Bitcoin saat Harga Tinggi
Laurent Nabila Zahra Tanjung | CNN Indonesia
Sabtu, 19 Sep 2026 09:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Perencana keuangan menyampaikan seujumlah hal yang perlu diperhatikan sebelum masuk berinvestasi di intrumen Bitcoin. Ilustrasi. (iStockphoto).
Jakarta, CNN Indonesia --
HargaBitcoin menguat setelah bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya pada Rabu (16/9).
Kondisi tersebut menjadi perhatian investor mengingat aset kripto selama ini dikenal memiliki volatilitas yang tinggi dan sensitif terhadap perubahan kondisi likuiditas serta kebijakan moneter global.
Mengutip detikfinance, pada Kamis (17/9) sekitar pukul 12.06 WIB, harga Bitcoin berada di kisaran US$76.442 atau sekitar Rp1,35 miliar dengan asumsi kurs Rp17.749 per dolar AS. Harga tersebut naik 1,05 persen dalam 24 jam terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapitalisasi pasar Bitcoin tercatat sekitar US$1,53 triliun, sedangkan volume perdagangan dalam 24 jam terakhir mencapai US$30,34 miliar. Jumlah Bitcoin yang beredar sekitar 20,08 juta BTC dari batas maksimum 21 juta BTC.
Lantas, dengan harga Bitcoin yang kembali naik, apakah investor pemula masih memiliki ruang untuk masuk? Atau justru lebih baik menunggu harga terkoreksi?
Sebelum memutuskan membeli, ada sejumlah hal yang perlu dipersiapkan investor, mulai dari kondisi arus kas, dana darurat, utang, hingga kemampuan menghadapi risiko penurunan harga yang tajam.
Masuk Secara Bertahap
Perencana Keuangan International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Aidil Akbar Madjid mengatakan investor pemula masih dapat mulai berinvestasi di Bitcoin meski harganya sudah naik.
Namun, ia mengingatkan investor untuk tidak mencoba menebak waktu terbaik masuk pasar.
"Masih bisa masuk, tapi untuk pemula jangan timing the market, masalahnya kita tidak tahu kapan koreksi akan terjadi. Masuk secara bertahap saja, dan jangan FOMO," ujar Aidil kepada CNNIndonesia.com, Jumat (18/9).
Aidil menyarankan investor pemula menggunakan metode dollar cost averaging (DCA), yakni membeli aset secara bertahap dalam jumlah tertentu dan dalam periode yang telah ditentukan.
"Untuk pemula selalu pilih DCA atau DCA plus tambahan cadangan, karena untuk kripto ketika jatuh bisa sampai lebih dari 70 persen dari posisi all time high mereka sebelumnya. Dan fokus pada kripto besar, terutama Bitcoin," katanya.
Selain itu, Aidil turut mengingatkan kemampuan menghadapi penurunan harga juga harus diperhitungkan sejak awal.
"FOMO ini musuh nomor satu bagi pemula di kripto. Drawdown harus kuat secara finansial dan psikologis ketika harga dibanting," ujarnya.
Ia memberikan ilustrasi, apabila seorang investor memiliki alokasi Bitcoin sebesar 5 persen dari total portofolio dan harga Bitcoin kemudian turun 70 persen, dampaknya terhadap keseluruhan portofolio sekitar 3,5 persen jika aset lain tidak berubah.
"Besaran eksposur Bitcoin atau kripto berbanding total portofolio jadi kalau pemula punya 5 persen di Bitcoin dan harganya drop sebesar 70 persen maka dari total portofolionya hanya drop dari 5 persen ke 2 persen, floating loss di 3 persen," jelas Aidil.
Karena itu, Aidil menyarankan investor membeli Bitcoin menggunakan uang dingin, yakni dana yang memang siap menanggung risiko kerugian dan tidak dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurut Aidil, sebelum masuk ke aset kripto, kondisi keuangan pribadi harus dipastikan sehat.
Investor setidaknya harus memiliki arus kas yang tidak minus, dana darurat yang mencukupi, serta tidak memiliki utang konsumtif, terutama utang dengan bunga tinggi.
Selain itu, investor perlu memiliki tujuan keuangan dan tujuan investasi yang jelas. Kesiapan mental juga penting karena harga aset kripto dapat bergerak sangat tajam.
"Secara perencana keuangan sudah aman dulu, cashflow sehat dan tidak minus, emergency fund sudah terpenuhi, utang konsumtif sudah lunas dulu terutama yang berbunga tinggi, punya tujuan keuangan dan tujuan investasi, siap mental kalau tiba-tiba harga turun dan rugi," ujarnya.
Ia juga menyarankan kebutuhan pokok dan dana darurat dipastikan aman sebelum investor mulai mengalokasikan dana ke aset kripto.
Menurut Aidil, besaran dana darurat idealnya disesuaikan dengan kondisi keluarga. Untuk investor lajang tanpa tanggungan, dana darurat idealnya setara tiga bulan kebutuhan bulanan.
Sementara itu, orang dengan satu tanggungan idealnya memiliki dana darurat enam bulan kebutuhan bulanan.
Adapun bagi mereka yang memiliki dua atau lebih tanggungan, dana darurat idealnya mencapai 12 bulan kebutuhan bulanan.
Selain itu, Aidil mengingatkan kripto merupakan instrumen dengan volatilitas yang sangat tinggi, bahkan dapat lebih tinggi dibandingkan saham. Karena itu, investor yang ingin masuk ke aset tersebut perlu memiliki profil risiko agresif.
Setelah fondasi keuangan terpenuhi, investor baru dapat menentukan porsi aset kripto dalam portofolionya. Aidil mengatakan besaran alokasi tersebut perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.
"Untuk pemula akan sangat tergantung dari poin sebelumnya dan profil risiko. Kalau konservatif mungkin bisa sampai 3 persen dari total portofolio, moderat bisa sampai 5 persen dari total portofolio, agresif bisa sampai 10 persen dari total portofolio," jelasnya.
Menurut dia, alokasi tersebut dapat berubah apabila investor sudah terbiasa menghadapi volatilitas aset kripto dan memilih aset dengan fundamental yang kuat untuk investasi jangka panjang.
Untuk strategi pembelian, investor juga sebaiknya memiliki instrumen investasi lain seperti saham, obligasi, reksa dana, emas, atau dolar untuk menjaga diversifikasi portofolio.
"Terakhir beli karena memang sudah paham dan mengerti, bukan beli karena ikut-ikutan atau dengar sana-sini dipengaruhi orang," katanya.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Analisis Teknikal
Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho mengatakan investor dapat mempertimbangkan kondisi tren harga untuk menentukan waktu masuk ke Bitcoin.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah analisis teknikal.
Menurut Andy, analisis teknikal dapat membantu investor melihat apakah harga masih berada dalam tren kenaikan atau justru berpotensi mengalami koreksi.
"Untuk mengetahui timing yang tepat apakah sebaiknya kita masuk membeli meskipun harga sedang naik, maka kita bisa menganalisanya melalui analisis teknikal. Dari situ kita bisa memprediksi apakah sebaiknya kita tunggu dulu agar harganya terkoreksi dulu, atau justru bisa membeli karena dalam masa uptrend," kata Andy kepada CNNIndonesia.com secara terpisah.
Andy menekankan investor harus memastikan dana yang digunakan merupakan uang dingin. Investor juga tidak disarankan menggunakan uang hasil utang untuk membeli aset kripto.
Menurutnya, investor perlu memiliki modal yang sesuai dengan kemampuan finansial serta memahami bahwa pasar kripto memiliki volatilitas yang sangat tinggi dan dapat bergerak secara ekstrem.
"Memastikan bahwa kita memiliki profil risiko yang agresif, karena pasar kripto volatilitasnya sangat tinggi dan bisa ekstrem. Memastikan uang yang akan kita investasikan merupakan uang dingin, bukan uang yang sebenarnya masih kita butuhkan untuk cashflow sehari-hari," ujarnya.
"Jangan berinvestasi menggunakan uang hasil berhutang," lanjut Andy.
Andy juga mengatakan kebutuhan sehari-hari dan pos pengeluaran lain, termasuk dana darurat, harus terpenuhi sebelum seseorang mulai berinvestasi.
"Ya, salah satu prinsip berinvestasi adalah kita baru berinvestasi setelah semua kebutuhan dan pos pengeluaran lain terpenuhi, termasuk di dalamnya untuk dana darurat," katanya.
Untuk investor pemula, Andy menyebut alokasi aset kripto dapat dimulai hingga maksimal 30 persen dari total aset investasi.
Angka tersebut merupakan pandangannya dan tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko serta kondisi keuangan masing-masing investor.
Sementara untuk metode pembelian, Andy juga menyarankan strategi DCA. Menurutnya, pembelian secara bertahap dapat membantu investor mengantisipasi risiko sekaligus membiasakan diri dengan dinamika pasar kripto.
"Strategi DCA akan jadi strategi lebih aman dalam mengantisipasi risiko investasi, sekaligus membiasakan investor pemula dalam merasakan vibes dan dinamika pasar kripto sedikit demi sedikit," ujarnya.
Andy menilai risiko terbesar bagi investor yang membeli setelah harga naik adalah kemungkinan harga turun secara tajam dalam waktu singkat. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kerugian besar apabila investor menjual ketika harga sedang jatuh.
"Risiko terbesarnya adalah setelah membeli aset kripto, harga justru terjun bebas dalam waktu singkat sehingga menimbulkan potensi kerugian yang sangat besar bila dijual," katanya.
Menurut Andy, salah satu tanda seseorang sudah siap masuk ke Bitcoin adalah mampu tetap tenang ketika harga aset yang dimilikinya turun. Investor juga seharusnya tidak mudah panik maupun terbawa rumor pasar.
"Yang penting tetap enak makan dan enak tidur meskipun harga kripto yang dibelinya sedang turun," ujarnya.
Selain itu, investor perlu melakukan analisis secara mandiri sebelum membeli atau menjual dan tidak sekadar mengikuti pendapat orang lain.
"Melakukan analisa mandiri sebelum memutuskan membeli atau menjual, jadi bukan hanya menelan mentah-mentah analisa dari orang lain," ujar Andy.
HargaBitcoin menguat setelah bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya pada Rabu (16/9).
Kondisi tersebut menjadi perhatian investor mengingat aset kripto selama ini dikenal memiliki volatilitas yang tinggi dan sensitif terhadap perubahan kondisi likuiditas serta kebijakan moneter global.
Mengutip detikfinance, pada Kamis (17/9) sekitar pukul 12.06 WIB, harga Bitcoin berada di kisaran US$76.442 atau sekitar Rp1,35 miliar dengan asumsi kurs Rp17.749 per dolar AS. Harga tersebut naik 1,05 persen dalam 24 jam terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapitalisasi pasar Bitcoin tercatat sekitar US$1,53 triliun, sedangkan volume perdagangan dalam 24 jam terakhir mencapai US$30,34 miliar. Jumlah Bitcoin yang beredar sekitar 20,08 juta BTC dari batas maksimum 21 juta BTC.
Lantas, dengan harga Bitcoin yang kembali naik, apakah investor pemula masih memiliki ruang untuk masuk? Atau justru lebih baik menunggu harga terkoreksi?
Sebelum memutuskan membeli, ada sejumlah hal yang perlu dipersiapkan investor, mulai dari kondisi arus kas, dana darurat, utang, hingga kemampuan menghadapi risiko penurunan harga yang tajam.
Masuk Secara Bertahap
Perencana Keuangan International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Aidil Akbar Madjid mengatakan investor pemula masih dapat mulai berinvestasi di Bitcoin meski harganya sudah naik.
Namun, ia mengingatkan investor untuk tidak mencoba menebak waktu terbaik masuk pasar.
"Masih bisa masuk, tapi untuk pemula jangan timing the market, masalahnya kita tidak tahu kapan koreksi akan terjadi. Masuk secara bertahap saja, dan jangan FOMO," ujar Aidil kepada CNNIndonesia.com, Jumat (18/9).
Aidil menyarankan investor pemula menggunakan metode dollar cost averaging (DCA), yakni membeli aset secara bertahap dalam jumlah tertentu dan dalam periode yang telah ditentukan.
"Untuk pemula selalu pilih DCA atau DCA plus tambahan cadangan, karena untuk kripto ketika jatuh bisa sampai lebih dari 70 persen dari posisi all time high mereka sebelumnya. Dan fokus pada kripto besar, terutama Bitcoin," katanya.
Selain itu, Aidil turut mengingatkan kemampuan menghadapi penurunan harga juga harus diperhitungkan sejak awal.
"FOMO ini musuh nomor satu bagi pemula di kripto. Drawdown harus kuat secara finansial dan psikologis ketika harga dibanting," ujarnya.
Ia memberikan ilustrasi, apabila seorang investor memiliki alokasi Bitcoin sebesar 5 persen dari total portofolio dan harga Bitcoin kemudian turun 70 persen, dampaknya terhadap keseluruhan portofolio sekitar 3,5 persen jika aset lain tidak berubah.
"Besaran eksposur Bitcoin atau kripto berbanding total portofolio jadi kalau pemula punya 5 persen di Bitcoin dan harganya drop sebesar 70 persen maka dari total portofolionya hanya drop dari 5 persen ke 2 persen, floating loss di 3 persen," jelas Aidil.
Karena itu, Aidil menyarankan investor membeli Bitcoin menggunakan uang dingin, yakni dana yang memang siap menanggung risiko kerugian dan tidak dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurut Aidil, sebelum masuk ke aset kripto, kondisi keuangan pribadi harus dipastikan sehat.
Investor setidaknya harus memiliki arus kas yang tidak minus, dana darurat yang mencukupi, serta tidak memiliki utang konsumtif, terutama utang dengan bunga tinggi.
Selain itu, investor perlu memiliki tujuan keuangan dan tujuan investasi yang jelas. Kesiapan mental juga penting karena harga aset kripto dapat bergerak sangat tajam.
"Secara perencana keuangan sudah aman dulu, cashflow sehat dan tidak minus, emergency fund sudah terpenuhi, utang konsumtif sudah lunas dulu terutama yang berbunga tinggi, punya tujuan keuangan dan tujuan investasi, siap mental kalau tiba-tiba harga turun dan rugi," ujarnya.
Ia juga menyarankan kebutuhan pokok dan dana darurat dipastikan aman sebelum investor mulai mengalokasikan dana ke aset kripto.
Menurut Aidil, besaran dana darurat idealnya disesuaikan dengan kondisi keluarga. Untuk investor lajang tanpa tanggungan, dana darurat idealnya setara tiga bulan kebutuhan bulanan.
Sementara itu, orang dengan satu tanggungan idealnya memiliki dana darurat enam bulan kebutuhan bulanan.
Adapun bagi mereka yang memiliki dua atau lebih tanggungan, dana darurat idealnya mencapai 12 bulan kebutuhan bulanan.
Selain itu, Aidil mengingatkan kripto merupakan instrumen dengan volatilitas yang sangat tinggi, bahkan dapat lebih tinggi dibandingkan saham. Karena itu, investor yang ingin masuk ke aset tersebut perlu memiliki profil risiko agresif.
Setelah fondasi keuangan terpenuhi, investor baru dapat menentukan porsi aset kripto dalam portofolionya. Aidil mengatakan besaran alokasi tersebut perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.
"Untuk pemula akan sangat tergantung dari poin sebelumnya dan profil risiko. Kalau konservatif mungkin bisa sampai 3 persen dari total portofolio, moderat bisa sampai 5 persen dari total portofolio, agresif bisa sampai 10 persen dari total portofolio," jelasnya.
Menurut dia, alokasi tersebut dapat berubah apabila investor sudah terbiasa menghadapi volatilitas aset kripto dan memilih aset dengan fundamental yang kuat untuk investasi jangka panjang.
Untuk strategi pembelian, investor juga sebaiknya memiliki instrumen investasi lain seperti saham, obligasi, reksa dana, emas, atau dolar untuk menjaga diversifikasi portofolio.
"Terakhir beli karena memang sudah paham dan mengerti, bukan beli karena ikut-ikutan atau dengar sana-sini dipengaruhi orang," katanya.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Analisis Teknikal hingga Tanda Investor Siap Investasi di Bitcoin
Perencana keuangan menyampaikan seujumlah hal yang perlu diperhatikan sebelum masuk berinvestasi di intrumen Bitcoin. Ilustrasi. (iStockphoto).
Analisis Teknikal
Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho mengatakan investor dapat mempertimbangkan kondisi tren harga untuk menentukan waktu masuk ke Bitcoin.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah analisis teknikal.
Menurut Andy, analisis teknikal dapat membantu investor melihat apakah harga masih berada dalam tren kenaikan atau justru berpotensi mengalami koreksi.
"Untuk mengetahui timing yang tepat apakah sebaiknya kita masuk membeli meskipun harga sedang naik, maka kita bisa menganalisanya melalui analisis teknikal. Dari situ kita bisa memprediksi apakah sebaiknya kita tunggu dulu agar harganya terkoreksi dulu, atau justru bisa membeli karena dalam masa uptrend," kata Andy kepada CNNIndonesia.com secara terpisah.
Andy menekankan investor harus memastikan dana yang digunakan merupakan uang dingin. Investor juga tidak disarankan menggunakan uang hasil utang untuk membeli aset kripto.
Menurutnya, investor perlu memiliki modal yang sesuai dengan kemampuan finansial serta memahami bahwa pasar kripto memiliki volatilitas yang sangat tinggi dan dapat bergerak secara ekstrem.
"Memastikan bahwa kita memiliki profil risiko yang agresif, karena pasar kripto volatilitasnya sangat tinggi dan bisa ekstrem. Memastikan uang yang akan kita investasikan merupakan uang dingin, bukan uang yang sebenarnya masih kita butuhkan untuk cashflow sehari-hari," ujarnya.
"Jangan berinvestasi menggunakan uang hasil berhutang," lanjut Andy.
Andy juga mengatakan kebutuhan sehari-hari dan pos pengeluaran lain, termasuk dana darurat, harus terpenuhi sebelum seseorang mulai berinvestasi.
"Ya, salah satu prinsip berinvestasi adalah kita baru berinvestasi setelah semua kebutuhan dan pos pengeluaran lain terpenuhi, termasuk di dalamnya untuk dana darurat," katanya.
Untuk investor pemula, Andy menyebut alokasi aset kripto dapat dimulai hingga maksimal 30 persen dari total aset investasi.
Angka tersebut merupakan pandangannya dan tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko serta kondisi keuangan masing-masing investor.
Sementara untuk metode pembelian, Andy juga menyarankan strategi DCA. Menurutnya, pembelian secara bertahap dapat membantu investor mengantisipasi risiko sekaligus membiasakan diri dengan dinamika pasar kripto.
"Strategi DCA akan jadi strategi lebih aman dalam mengantisipasi risiko investasi, sekaligus membiasakan investor pemula dalam merasakan vibes dan dinamika pasar kripto sedikit demi sedikit," ujarnya.
Andy menilai risiko terbesar bagi investor yang membeli setelah harga naik adalah kemungkinan harga turun secara tajam dalam waktu singkat. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kerugian besar apabila investor menjual ketika harga sedang jatuh.
"Risiko terbesarnya adalah setelah membeli aset kripto, harga justru terjun bebas dalam waktu singkat sehingga menimbulkan potensi kerugian yang sangat besar bila dijual," katanya.
Menurut Andy, salah satu tanda seseorang sudah siap masuk ke Bitcoin adalah mampu tetap tenang ketika harga aset yang dimilikinya turun. Investor juga seharusnya tidak mudah panik maupun terbawa rumor pasar.
"Yang penting tetap enak makan dan enak tidur meskipun harga kripto yang dibelinya sedang turun," ujarnya.
Selain itu, investor perlu melakukan analisis secara mandiri sebelum membeli atau menjual dan tidak sekadar mengikuti pendapat orang lain.
"Melakukan analisa mandiri sebelum memutuskan membeli atau menjual, jadi bukan hanya menelan mentah-mentah analisa dari orang lain," ujar Andy.