Harga Bitcoin Naik ke US$86 Ribu, Crypto Winter Berakhir?

CNN Indonesia
Selasa, 22 Sep 2026 08:55 WIB
Harga Bitcoin naik menembus US$86 ribu kemarin (21/9), level tertinggi sejak akhir Januari. Investor kini tengah menilai apakah crypto winter berakhir. (Foto: istockphoto/studiocasper)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga Bitcoin naik menembus level US$86 ribu per koin kemarin, Senin (21/9), melanjutkan reli tajam yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Kemarin, Bitcoin sempat menyentuh US$86.349 per keping, level tertinggi sejak akhir Januari.

Investor kini tengah menilai apakah crypto winter yang dimulai setelah Bitcoin mencetak rekor tertinggi di atas US$126 ribu pada Oktober 2025 lalu telah berakhir. Crypto winter merupakan periode ketika harga aset digital tersebut mengalami tekanan berkepanjangan.

"Saya memang berpikir ini sudah berakhir. Ini adalah crypto spring, bunga krokus mulai bermekaran," kata CIO Bitwise Matt Hougan kepada CNBC dalam program Squawk Box Europe yang tayang kemarin.

"Saya pikir ini justru akan menjadi pasar bullish terkuat dan terpanjang dalam sejarah kripto," imbuhnya.

Meski harga Bitcoin masih turun sepanjang tahun ini, nilainya telah melonjak lebih dari 8 persen dalam sepekan terakhir, serta melesat 34 persen dalam tiga bulan terakhir. Memang, harganya masih jauh di bawah rekor tertingginya.

Hougan mengatakan meski pasar sempat tertekan, fundamental justru meningkat. Ia merujuk pada meningkatnya jumlah transaksi di berbagai blockchain serta keterlibatan perusahaan-perusahaan besar seperti BlackRock.

"Menurut saya, kita berada dalam situasi yang tidak biasa ketika harga turun secara siklus, sementara fundamentalnya justru membaik secara struktural. Saya mempekirakan harga akan mengejar peningkatan fundamental tersebut menjelang akhir tahun," kata Hougan.

Minggu lalu (20/9), Analis BTIG mengatakan selama harga Bitcoin mampu bertahan di level US$75 ribu maka kenaikannya dapat menembus US$82 ribu menuju US$90 ribu.

Saham-saham yang berkaitan dengan kripto, termasuk Strategy dan Coinbase, juga menguat dalam perdagangan kemarin.

Reli Bitcoin terjadi saat Senat Amerika Serikat (AS) pekan lalu memblokir Clarity Act. Undang-undang tersebut dirancang untuk membentuk kerangka regulasi kripto di AS, sekaligus membagi pengawasan industri antara Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC).

Regulasi yang lebih jelas di AS, seperti Genius Act yang disahkan tahun lalu, telah mendukung harga aset kripto. Namun, kegagalan Clarity Act untuk lolos justru masih dapat memberikan dorongan terhadap harga.

Untuk sementara, SEC dan CFTC akan menetapkan aturan bagi industri tersebut.

"Ini adalah SEC yang paling pro-kripto dalam sejarah AS; ini juga CFTC yang paling pro-kripto dalam sejarah AS. Jadi, secara ironis, tanpa disahkannya Clarity Act, kita mungkin justru mendapatkan regulasi yang lebih pro-kripto," kata Hougan.

CIO Bitwise tersebut juga mengatakan investor mulai mengalihkan dana dari saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) kembali ke aset kripto.

Menurutnya, ledakan investasi AI sebelumnya telah 'menyedot seluruh oksigen dari ruangan'. Investor yang berorientasi pada momentum pun memusatkan perhatian mereka pada sektor tersebut.

"Sekarang ketika tren itu mulai mereda, kita melihat dana tersebut berputar kembali ke kripto," ujarnya.

(pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK