Cabai Tembus Rp100 Ribu, Begini Siasat Warteg dan RM Padang di Jakarta
Kenaikan harga cabai hingga menembus Rp100 ribu per kg mulai memengaruhi cara sejumlah rumah makan di kawasan Mampang, Jakarta Selatan dalam mengolah makanan.
Salah satunya, Rumah Makan Padang Uda Denai Mampang. Pengelola rumah makan tersebut, Fani, mengatakan pihaknya kini mengurangi penggunaan cabai untuk memasak.
"Ketika masak cabai dikurangin. Tadinya biasanya 2,5 (kg), jadi cuma 2 kg," ujar Fani.
Padahal, permintaan pelanggan terhadap sambal merah cenderung meningkat. Sebelumnya, sambal merah relatif jarang diminta pelanggan karena rumah makan lebih banyak menggunakan sambal hijau.
Kondisi tersebut membuat pihak rumah makan kebingungan karena harga cabai sedang tinggi.
"Tadinya cabe (sambal) merah tuh jarang diminta karena kita kan banyak pakai yang ijo biasanya. Terus semenjak cabe mahal banyak yang minta. Jadi bingung karena mahal," ujarnya.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di Warteg Kharisma Bahari Mampang. Pihak warteg mengatakan kenaikan harga cabai belum membuat mereka mengurangi takaran masakan.
Penggunaan cabai untuk memasak masih dilakukan dengan takaran seperti biasanya. Begitu juga dengan sambal yang disediakan untuk pelanggan.
Namun, jika pelanggan meminta sambal dalam jumlah banyak, pihak warteg akan mengenakan biaya tambahan.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional per 22 September 2026, harga rata-rata cabai rawit merah tercatat Rp93.750 per kilogram. Harga tersebut naik Rp550 atau 0,59 persen.
Sementara itu, harga rata-rata cabai merah keriting tercatat Rp66.650 per kilogram, turun Rp350 atau 0,52 persen. Adapun cabai merah besar berada di Rp55.400 per kilogram, turun Rp1.200 atau 2,12 persen.
Sebelumnya, harga cabai di sejumlah pasar tradisional Jakarta juga terpantau mengalami kenaikan. Harga cabai bahkan tembus Rp100 ribu per kilogram (kg) di Pasar Mencos, Jakarta Selatan, naik dari kisaran Rp75 ribu per kg.
Pedagang menyebut kenaikan tersebut terjadi lantaran minimnya pasokan.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebelumnya juga menyebut fluktuasi harga cabai dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya kemarau berkepanjangan, organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti trips dan kutu kebul, serta alih tanam ke komoditas lain.
(lil/sfr)