Harga Minyak Dunia Melunak ke US$105,85 per Barel Hari Ini

CNN Indonesia
Jumat, 25 Sep 2026 10:18 WIB
Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) turun 81 sen atau 0,86 persen menjadi US$93,80 per barel. (FOTO:iStock/ozgurdonmaz).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia turun tipis pada perdagangan Jumat (25/9), dengan Brent berada di level US$105,85 per barel. Hal itu dipicu tumbuhnya harapan pasar akan redanya gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, meski serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi masih berlangsung.

Melansir Reuters, harga minyak jenis Brent North Sea turun 74 sen atau 0,69 persen menjadi US$105,85 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 81 sen atau 0,86 persen menjadi US$93,8 per barel. 

Dalam sepekan terakhir, harga minyak dunia terpantau menunjukkan tren naik hingga ke level tertinggi pada Kamis (24/9), tercermin dari kontrak kedua jenis minyak yang meroket hingga 5 persen. Untuk jenis Brent ditutup naik 3,4 persen, sedangkan WTI menguat 2,7 persen.

Rekor kenaikan harga minyak Brent pada Kamis (24/9) sekaligus jadi yang tertinggi sejak Selasa (15/9). Sedangkan untuk WTI jadi yang pertama setelah merosot hingga 13 persen di enam sesi perdagangan terakhir.

Dalam sepekan, WTI turun 6,42 persen. Sementara itu, Brent masih naik 2,09 persen.

Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi pembicaraan antara AS dan Iran di New York. Negosiator kedua negara tersebut sedang membahas jalan keluar perang secara bertahap. Jalan keluar itu akan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Teheran dan Washington mencabut blokade ekonomi terhadap Iran.

"Harapan diplomatik pada dasarnya membantu harga minyak menghadapi serangan militer terbaru di Timur Tengah, dengan minyak mentah diperdagangkan sedikit lebih rendah meski terjadi serangan," kata Kepala Analis KCM Trade Tim Waterer.

Sejak perang dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia telah terganggu. Kondisi tersebut mendorong harga minyak naik 50 persen hanya pada Maret.

Gangguan itu juga membuat pembeli gas alam cair (LNG) mencari pasokan baru yang lebih jauh dan stabil.

Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan keputusan mengakhiri perang berada di tangan AS.

"Amerikalah yang harus memilih apakah mereka ingin mengakhiri ini atau tidak," kata Pezeshkian dalam wawancara yang ditayangkan Fox News pada Kamis (24/9).

Sementara itu, Arab Saudi telah mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan kelompok Houthi yang didukung Iran dari Yaman. Serangan tersebut juga menargetkan wilayah selatan Taif dan kawasan Yanbu di Laut Merah, menurut koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman.

"Serangan yang terus berlangsung menjadi pengingat jelas bahwa aset minyak penting masih berada dalam garis tembak," kata Waterer.

Arab Saudi juga sedang meningkatkan volume pompaan minyak mentah melalui East-West Pipeline yang menuju pusat ekspor Yanbu di Laut Merah. Namun, pemuatan minyak ke kapal tanker tersebut belum kembali dimulai.

(lil/ins)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK