Produsen Benih Pacu Inovasi Dukung Swasembada Pangan Pemerintah
CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 13:33 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Keberhasilan pencapaian swasembada pangan di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto turut ditopang oleh para pelaku industri benih nasional. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman).
Jakarta, CNN Indonesia --
Keberhasilan pencapaianswasembada pangandi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto turut ditopang oleh para pelaku industri benih nasional.
Merujuk Proyeksi Neraca 11 Komoditas Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 4 Juni 2026, delapan komoditas telah berstatus swasembada.
Beras yang menjadi salah satu sorotan utama dengan proyeksi produksi 34,76 juta ton pada 2026. Angka ini melampaui kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton, sehingga menghasilkan surplus 3,66 juta ton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komoditas lain yang telah mencapai kemandirian pangan meliputi jagung pakan, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang merah.
Salah satu pendorong utama di balik terciptanya kemandirian pangan tersebut adalah inovasi perbenihan dari perusahaan pelat merah PT Sang Hyang Seri (Persero) atau SHS.
Saat ini, SHS bergerak di sektor pertanian dengan kegiatan usaha utama meliputi produksi benih padi, pemasaran komoditas pertanian, jasa di bidang pertanian, optimalisasi pemanfaatan sumber daya Perseroan, serta pelaksanaan penugasan dari Pemerintah.
Direktur Utama PT Sang Hyang Seri (Persero) Adhi Cahyono Nugroho menilai swasembada pangan memang dimulai dari benih yang unggul.
Ia pun menekankan masa depan pertanian Indonesia akan sangat ditentukan oleh penguasaan genetika, teknologi, dan inovasi produksi.
"Karena itu, strategi SHS tidak lagi berhenti pada bagaimana memproduksi dan mendistribusikan benih, tetapi bagaimana menghasilkan benih dengan potensi genetik yang lebih unggul dan sesuai dengan agroekosistem Indonesia," ujar Adhi kepada CNNIndonesia.com.
Adhi membeberkan SHS kini tengah bertransformasi menuju Tropical Genetic Precision Company.
Melalui pendekatan tersebut, riset genetika diposisikan sebagai jantung inovasi untuk merakit varietas unggul baru dengan memanfaatkan kekayaan biodiversitas tropis yang ada di Indonesia.
"Dengan pendekatan tersebut, kami ingin mempercepat proses menemukan dan mengembangkan sumber genetik unggul-baik untuk produktivitas, ketahanan terhadap organisme pengganggu tanaman, toleransi terhadap cekaman lingkungan, umur panen, maupun kualitas hasil," ujar Adhi.
Untuk memantapkan kontribusinya terhadap swasembada pangan, SHS tengah memperkuat Super Premium Seed, yaitu standar mutu benih yang tidak hanya melihat aspek fisik dan fisiologis, tetapi juga semakin memperhatikan aspek genetik, kesehatan benih, dan traceability.
Adhi menjelaskan ekosistem fasilitas tersebut mencakup Bank Plasma Nutfah, Genotyping Laboratory, Molecular Laboratory, Tissue Culture Laboratory, Greenhouse & Speed Breeding, Multi-location Trial, Seed Quality & Seed Health Laboratory, serta Bioinformatics & Genomic Database.
Dengan ekosistem tersebut, SHS ingin membangun end-to-end breeding system mulai dari kekayaan genetik Indonesia, penelitian, pemuliaan, pengujian, produksi benih, hingga hilirisasi kepada petani.
Pada akhirnya, menurut Adhi, kontribusi industri benih terhadap swasembada pangan tidak cukup hanya diukur dari berapa ton benih yang diproduksi.
"Yang lebih penting adalah berapa besar peningkatan produktivitas, stabilitas produksi, efisiensi budidaya, dan nilai petani yang dapat dihasilkan dari benih tersebut," ujar Adhi.
Terkait upaya percepatan masa panen demi menggenjot intensitas tanam, SHS berfokus merakit varietas berumur genjah yang tetap memiliki produktivitas, kualitas hasil, dan stabilitas performa.
Proses pemuliaan benih dilakukan secara simultan untuk menyeleksi karakter umur, potensi hasil, ketahanan terhadap hama dan penyakit, kualitas gabah dan beras, hingga kemampuan beradaptasi pada lingkungan berbeda.
"Ke depan, pendekatan speed breeding akan menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat siklus generasi tanaman. Dengan demikian, proses seleksi dan pengembangan kandidat varietas dapat dilakukan lebih cepat, tetapi tetap melalui tahapan pengujian dan validasi yang ketat," ujar Adhi.
Lahan dan fasilitas SHS, khususnya kawasan Sukamandi, disebut bukan hanya sebagai aset produksi, tetapi sebagai laboratorium hidup untuk pengembangan varietas dan teknologi perbenihan tropis.
Target akhirnya disebut bukan sekadar menghasilkan benih dengan produktivitas tinggi, tetapi menciptakan benih yang tepat untuk varietas, tepat untuk lingkungan, tepat untuk musim, dan tepat untuk kebutuhan petani.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Komitmen serupa juga diusung oleh produsen benih swasta Syngenta Indonesia.
Perusahaan yang beroperasi sejak 1960-an ini mengandalkan fasilitas riset dan pabrik pemrosesannya untuk memastikan peningkatan produktivitas yang berkelanjutan di tingkat petani.
"Strategi inovasi benih kami berfokus pada pengembangan varietas berdaya hasil tinggi yang mampu menjawab kebutuhan petani Indonesia di berbagai agroekosistem," tulis Syngenta dalam jawaban tertulis kepada CNNIndonesia.com.
Sebagai wujud konkret dukungan terhadap swasembada pangan, Syngenta menghadirkan benih padi varietas NK Ningrat yang memiliki keunggulan rendemen tinggi, sehingga dari jumlah gabah yang sama petani dapat menghasilkan beras lebih banyak.
Untuk komoditas padi, perusahaan menyatakan selalu terbuka mengembangkan varietas genjah selama terbukti mampu memberikan produktivitas tinggi dan nilai ekonomi yang lebih baik bagi petani.
"Namun demikian, prioritas utama tetap pada peningkatan produktivitas dan stabilitas hasil, karena kedua aspek tersebut memberikan dampak paling besar terhadap pendapatan petani dan kontribusi terhadap swasembada pangan," tulis Syngenta.
Pada komoditas jagung, perusahaan memfokuskan pengembangan benih bioteknologi yang tidak hanya menjanjikan potensi hasil lebih tinggi, tetapi juga memangkas kebutuhan penggunaan insektisida serta memungkinkan pengendalian gulma dengan herbisida berbahan aktif glifosat yang lebih luas spektrum pengendaliannya dan lebih efisien dari sisi biaya produksi.
Syngenta mempertahankan rentang umur panen jagung pada kisaran 100-110 hari setelah tanam.
Syngenta terus menggenjot lahirnya varietas unggul baru serta berinvestasi pada teknologi pemuliaan modern yang mampu meningkatkan kecepatan dan akurasi pengembangan benih.
Untuk jagung, Syngenta telah memanfaatkan teknologi Double Haploid yang memungkinkan percepatan proses pembentukan galur murni dibandingkan metode konvensional.
Selain itu, Syngenta juga mengadopsi digital phenotyping dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu memprediksi potensi hasil kombinasi tetua (parent seed) sebelum proses persilangan dilakukan di lapangan.
Mereka juga mengandalkan jagung bioteknologi dengan empat trait unggulan, yaitu ketahanan terhadap penggerek batang jagung, ulat grayak jagung (fall armyworm), penggerek tongkol jagung, dan ulat tanah.
Ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem juga menjadi landasan utama bagi perakitan benih modern saat ini.
Di SHS, Adhi mengungkap pendekatan phenotyping dan genotyping sangat krusial, di mana tanaman tidak hanya dinilai secara visual dari luar, tetapi dipelajari hingga ke struktur dasar genetiknya.
"Jadi, menghadapi perubahan iklim jawabannya bukan hanya pada teknologi budidaya setelah benih ditanam, tetapi harus dimulai sejak genetik benih dirancang dan diseleksi," ujar Adhi.
Merespons tantangan iklim ini, Syngenta merilis benih padi NK2133 yang diklaim tangguh di lahan tadah hujan, cocok diterapkan pada sistem irigasi berselang (intermittent irrigation), serta memiliki ketahanan terhadap penyakit kresek. Dengan begitu, stabilitas produksi di lapangan disebut dapat terjaga.
Sementara, untuk jagung, Syngenta menerapkan pendekatan pemuliaan yang disesuaikan dengan tiga segmen utama budidaya, yaitu tropical irrigated, tropical rainfed, dan high tropical rainfed.
Pendekatan ini diklaim memungkinkan pengembangan varietas yang sesuai dengan tantangan spesifik di masing-masing lingkungan, termasuk tekanan hama dan penyakit maupun keterbatasan ketersediaan air.
"Dengan demikian, petani memperoleh benih yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim yang semakin dinamis," tulis Syngenta.
Keberhasilan pencapaianswasembada pangandi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto turut ditopang oleh para pelaku industri benih nasional.
Merujuk Proyeksi Neraca 11 Komoditas Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 4 Juni 2026, delapan komoditas telah berstatus swasembada.
Beras yang menjadi salah satu sorotan utama dengan proyeksi produksi 34,76 juta ton pada 2026. Angka ini melampaui kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton, sehingga menghasilkan surplus 3,66 juta ton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komoditas lain yang telah mencapai kemandirian pangan meliputi jagung pakan, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang merah.
Salah satu pendorong utama di balik terciptanya kemandirian pangan tersebut adalah inovasi perbenihan dari perusahaan pelat merah PT Sang Hyang Seri (Persero) atau SHS.
Saat ini, SHS bergerak di sektor pertanian dengan kegiatan usaha utama meliputi produksi benih padi, pemasaran komoditas pertanian, jasa di bidang pertanian, optimalisasi pemanfaatan sumber daya Perseroan, serta pelaksanaan penugasan dari Pemerintah.
Direktur Utama PT Sang Hyang Seri (Persero) Adhi Cahyono Nugroho menilai swasembada pangan memang dimulai dari benih yang unggul.
Ia pun menekankan masa depan pertanian Indonesia akan sangat ditentukan oleh penguasaan genetika, teknologi, dan inovasi produksi.
"Karena itu, strategi SHS tidak lagi berhenti pada bagaimana memproduksi dan mendistribusikan benih, tetapi bagaimana menghasilkan benih dengan potensi genetik yang lebih unggul dan sesuai dengan agroekosistem Indonesia," ujar Adhi kepada CNNIndonesia.com.
Adhi membeberkan SHS kini tengah bertransformasi menuju Tropical Genetic Precision Company.
Melalui pendekatan tersebut, riset genetika diposisikan sebagai jantung inovasi untuk merakit varietas unggul baru dengan memanfaatkan kekayaan biodiversitas tropis yang ada di Indonesia.
"Dengan pendekatan tersebut, kami ingin mempercepat proses menemukan dan mengembangkan sumber genetik unggul-baik untuk produktivitas, ketahanan terhadap organisme pengganggu tanaman, toleransi terhadap cekaman lingkungan, umur panen, maupun kualitas hasil," ujar Adhi.
Untuk memantapkan kontribusinya terhadap swasembada pangan, SHS tengah memperkuat Super Premium Seed, yaitu standar mutu benih yang tidak hanya melihat aspek fisik dan fisiologis, tetapi juga semakin memperhatikan aspek genetik, kesehatan benih, dan traceability.
Adhi menjelaskan ekosistem fasilitas tersebut mencakup Bank Plasma Nutfah, Genotyping Laboratory, Molecular Laboratory, Tissue Culture Laboratory, Greenhouse & Speed Breeding, Multi-location Trial, Seed Quality & Seed Health Laboratory, serta Bioinformatics & Genomic Database.
Dengan ekosistem tersebut, SHS ingin membangun end-to-end breeding system mulai dari kekayaan genetik Indonesia, penelitian, pemuliaan, pengujian, produksi benih, hingga hilirisasi kepada petani.
Pada akhirnya, menurut Adhi, kontribusi industri benih terhadap swasembada pangan tidak cukup hanya diukur dari berapa ton benih yang diproduksi.
"Yang lebih penting adalah berapa besar peningkatan produktivitas, stabilitas produksi, efisiensi budidaya, dan nilai petani yang dapat dihasilkan dari benih tersebut," ujar Adhi.
Terkait upaya percepatan masa panen demi menggenjot intensitas tanam, SHS berfokus merakit varietas berumur genjah yang tetap memiliki produktivitas, kualitas hasil, dan stabilitas performa.
Proses pemuliaan benih dilakukan secara simultan untuk menyeleksi karakter umur, potensi hasil, ketahanan terhadap hama dan penyakit, kualitas gabah dan beras, hingga kemampuan beradaptasi pada lingkungan berbeda.
"Ke depan, pendekatan speed breeding akan menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat siklus generasi tanaman. Dengan demikian, proses seleksi dan pengembangan kandidat varietas dapat dilakukan lebih cepat, tetapi tetap melalui tahapan pengujian dan validasi yang ketat," ujar Adhi.
Lahan dan fasilitas SHS, khususnya kawasan Sukamandi, disebut bukan hanya sebagai aset produksi, tetapi sebagai laboratorium hidup untuk pengembangan varietas dan teknologi perbenihan tropis.
Target akhirnya disebut bukan sekadar menghasilkan benih dengan produktivitas tinggi, tetapi menciptakan benih yang tepat untuk varietas, tepat untuk lingkungan, tepat untuk musim, dan tepat untuk kebutuhan petani.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Ancaman Perubahan Iklim dan Cuaca Ekstrem
Ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem juga menjadi landasan utama bagi perakitan benih modern saat ini. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S).
Komitmen serupa juga diusung oleh produsen benih swasta Syngenta Indonesia.
Perusahaan yang beroperasi sejak 1960-an ini mengandalkan fasilitas riset dan pabrik pemrosesannya untuk memastikan peningkatan produktivitas yang berkelanjutan di tingkat petani.
"Strategi inovasi benih kami berfokus pada pengembangan varietas berdaya hasil tinggi yang mampu menjawab kebutuhan petani Indonesia di berbagai agroekosistem," tulis Syngenta dalam jawaban tertulis kepada CNNIndonesia.com.
Sebagai wujud konkret dukungan terhadap swasembada pangan, Syngenta menghadirkan benih padi varietas NK Ningrat yang memiliki keunggulan rendemen tinggi, sehingga dari jumlah gabah yang sama petani dapat menghasilkan beras lebih banyak.
Untuk komoditas padi, perusahaan menyatakan selalu terbuka mengembangkan varietas genjah selama terbukti mampu memberikan produktivitas tinggi dan nilai ekonomi yang lebih baik bagi petani.
"Namun demikian, prioritas utama tetap pada peningkatan produktivitas dan stabilitas hasil, karena kedua aspek tersebut memberikan dampak paling besar terhadap pendapatan petani dan kontribusi terhadap swasembada pangan," tulis Syngenta.
Pada komoditas jagung, perusahaan memfokuskan pengembangan benih bioteknologi yang tidak hanya menjanjikan potensi hasil lebih tinggi, tetapi juga memangkas kebutuhan penggunaan insektisida serta memungkinkan pengendalian gulma dengan herbisida berbahan aktif glifosat yang lebih luas spektrum pengendaliannya dan lebih efisien dari sisi biaya produksi.
Syngenta mempertahankan rentang umur panen jagung pada kisaran 100-110 hari setelah tanam.
Syngenta terus menggenjot lahirnya varietas unggul baru serta berinvestasi pada teknologi pemuliaan modern yang mampu meningkatkan kecepatan dan akurasi pengembangan benih.
Untuk jagung, Syngenta telah memanfaatkan teknologi Double Haploid yang memungkinkan percepatan proses pembentukan galur murni dibandingkan metode konvensional.
Selain itu, Syngenta juga mengadopsi digital phenotyping dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu memprediksi potensi hasil kombinasi tetua (parent seed) sebelum proses persilangan dilakukan di lapangan.
Mereka juga mengandalkan jagung bioteknologi dengan empat trait unggulan, yaitu ketahanan terhadap penggerek batang jagung, ulat grayak jagung (fall armyworm), penggerek tongkol jagung, dan ulat tanah.
Ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem juga menjadi landasan utama bagi perakitan benih modern saat ini.
Di SHS, Adhi mengungkap pendekatan phenotyping dan genotyping sangat krusial, di mana tanaman tidak hanya dinilai secara visual dari luar, tetapi dipelajari hingga ke struktur dasar genetiknya.
"Jadi, menghadapi perubahan iklim jawabannya bukan hanya pada teknologi budidaya setelah benih ditanam, tetapi harus dimulai sejak genetik benih dirancang dan diseleksi," ujar Adhi.
Merespons tantangan iklim ini, Syngenta merilis benih padi NK2133 yang diklaim tangguh di lahan tadah hujan, cocok diterapkan pada sistem irigasi berselang (intermittent irrigation), serta memiliki ketahanan terhadap penyakit kresek. Dengan begitu, stabilitas produksi di lapangan disebut dapat terjaga.
Sementara, untuk jagung, Syngenta menerapkan pendekatan pemuliaan yang disesuaikan dengan tiga segmen utama budidaya, yaitu tropical irrigated, tropical rainfed, dan high tropical rainfed.
Pendekatan ini diklaim memungkinkan pengembangan varietas yang sesuai dengan tantangan spesifik di masing-masing lingkungan, termasuk tekanan hama dan penyakit maupun keterbatasan ketersediaan air.
"Dengan demikian, petani memperoleh benih yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim yang semakin dinamis," tulis Syngenta.