HARI TANI 2026

Produsen Benih Pacu Inovasi Dukung Swasembada Pangan Pemerintah

CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 13:33 WIB
Pekerja merawat bibit berbagai jenis pohon di persemaian transit pusat Persemaian Mentawir di lokasi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Kamis (18/8/2022). Pembangunan pusat persemaian
Ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem juga menjadi landasan utama bagi perakitan benih modern saat ini. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S).

Komitmen serupa juga diusung oleh produsen benih swasta Syngenta Indonesia.

Perusahaan yang beroperasi sejak 1960-an ini mengandalkan fasilitas riset dan pabrik pemrosesannya untuk memastikan peningkatan produktivitas yang berkelanjutan di tingkat petani.

"Strategi inovasi benih kami berfokus pada pengembangan varietas berdaya hasil tinggi yang mampu menjawab kebutuhan petani Indonesia di berbagai agroekosistem," tulis Syngenta dalam jawaban tertulis kepada CNNIndonesia.com.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai wujud konkret dukungan terhadap swasembada pangan, Syngenta menghadirkan benih padi varietas NK Ningrat yang memiliki keunggulan rendemen tinggi, sehingga dari jumlah gabah yang sama petani dapat menghasilkan beras lebih banyak.

Untuk komoditas padi, perusahaan menyatakan selalu terbuka mengembangkan varietas genjah selama terbukti mampu memberikan produktivitas tinggi dan nilai ekonomi yang lebih baik bagi petani.

"Namun demikian, prioritas utama tetap pada peningkatan produktivitas dan stabilitas hasil, karena kedua aspek tersebut memberikan dampak paling besar terhadap pendapatan petani dan kontribusi terhadap swasembada pangan," tulis Syngenta.

Pada komoditas jagung, perusahaan memfokuskan pengembangan benih bioteknologi yang tidak hanya menjanjikan potensi hasil lebih tinggi, tetapi juga memangkas kebutuhan penggunaan insektisida serta memungkinkan pengendalian gulma dengan herbisida berbahan aktif glifosat yang lebih luas spektrum pengendaliannya dan lebih efisien dari sisi biaya produksi.

Syngenta mempertahankan rentang umur panen jagung pada kisaran 100-110 hari setelah tanam.

Syngenta terus menggenjot lahirnya varietas unggul baru serta berinvestasi pada teknologi pemuliaan modern yang mampu meningkatkan kecepatan dan akurasi pengembangan benih.

Untuk jagung, Syngenta telah memanfaatkan teknologi Double Haploid yang memungkinkan percepatan proses pembentukan galur murni dibandingkan metode konvensional.

Selain itu, Syngenta juga mengadopsi digital phenotyping dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu memprediksi potensi hasil kombinasi tetua (parent seed) sebelum proses persilangan dilakukan di lapangan.

Mereka juga mengandalkan jagung bioteknologi dengan empat trait unggulan, yaitu ketahanan terhadap penggerek batang jagung, ulat grayak jagung (fall armyworm), penggerek tongkol jagung, dan ulat tanah.

Ancaman Perubahan Iklim dan Cuaca Ekstrem

Ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem juga menjadi landasan utama bagi perakitan benih modern saat ini.

Di SHS, Adhi mengungkap pendekatan phenotyping dan genotyping sangat krusial, di mana tanaman tidak hanya dinilai secara visual dari luar, tetapi dipelajari hingga ke struktur dasar genetiknya.

"Jadi, menghadapi perubahan iklim jawabannya bukan hanya pada teknologi budidaya setelah benih ditanam, tetapi harus dimulai sejak genetik benih dirancang dan diseleksi," ujar Adhi.

Merespons tantangan iklim ini, Syngenta merilis benih padi NK2133 yang diklaim tangguh di lahan tadah hujan, cocok diterapkan pada sistem irigasi berselang (intermittent irrigation), serta memiliki ketahanan terhadap penyakit kresek. Dengan begitu, stabilitas produksi di lapangan disebut dapat terjaga.

Sementara, untuk jagung, Syngenta menerapkan pendekatan pemuliaan yang disesuaikan dengan tiga segmen utama budidaya, yaitu tropical irrigated, tropical rainfed, dan high tropical rainfed.

Pendekatan ini diklaim memungkinkan pengembangan varietas yang sesuai dengan tantangan spesifik di masing-masing lingkungan, termasuk tekanan hama dan penyakit maupun keterbatasan ketersediaan air.

"Dengan demikian, petani memperoleh benih yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim yang semakin dinamis," tulis Syngenta.

(dhz/sfr)

HALAMAN:
1 2