PODCAST MONEY HONEY

Blak-blakan Mendag Berjuang Jaga Harga Sembako

CNN Indonesia
Jumat, 25 Sep 2026 07:30 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso ketika ditemui di kantor Kementerian Perdaganan, Jakarta Pusat, Rabu (9/9).
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkap upaya pemerintah menjaga stabilitas harga bahan pokok yang tidak hanya dilakukan ketika harga pangan melonjak dalam Podcast Money Honey bersama CNN Indonesia. (CNN Indonesia/Endrapta Ibrahim Pramudhiaz).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkap upaya pemerintah menjaga stabilitas harga bahan pokok yang tidak hanya dilakukan ketika harga pangan melonjak.

Menurut Budi, pemerintah juga turun tangan ketika harga terlalu rendah karena kondisi tersebut dapat menekan produsen dan berujung pada terganggunya pasokan.

Budi mengatakan pemerintah menggunakan harga acuan dan harga eceran tertinggi (HET) sebagai salah satu patokan dalam melihat pergerakan harga bahan pokok.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pasalnya, kenaikan harga dari posisi sebelumnya belum tentu berarti harga komoditas tersebut sudah berada di level yang merugikan konsumen.

"Kalau kita mau ngomongin harga bahan pokok, kita itu tidak ngomongin mengenai kenaikan saja, tetapi juga penurunannya. Tetapi kita harus sepakat dulu, kalau kita ngomongin kenaikan atau penurunan, dari mana? Dari harga sebelumnya, dari harga kemarin, atau dari harga acuan atau harga eceran tertinggi (HET)," kata Budi dalam podcast Money Honey yang disiarkan CNN Indonesia, Kamis (24/9).

Ia menjelaskan harga acuan maupun HET ditetapkan pemerintah setelah memperhitungkan pertemuan kepentingan produsen dan konsumen, termasuk biaya produksi dan distribusi.

Menurut Budi, harga telur saat ini misalnya berada di kisaran Rp26.600 per kilogram (kg) secara rata-rata nasional, sementara harga acuannya Rp30 ribu. Harga tersebut sebelumnya sempat berada di kisaran Rp22 ribu-Rp23 ribu.

Kondisi serupa terjadi pada ayam. Harga acuannya Rp40 ribu, sedangkan sebelumnya harga sempat berada di kisaran Rp34 ribu-Rp35 ribu. Budi mengatakan rendahnya harga ketika itu membuat sebagian peternak tidak mampu menutup biaya produksi, hingga ada yang membagikan atau membuang telur dan ayam.

"Makanya pentingnya harga acuan. Harga telur Rp30 ribu (per kg) itu dihitung dulu, berapa biaya produksi, berapa biaya distribusi, kemudian harga idealnya untuk konsumen berapa," ujarnya.

Karena itu, Budi mengatakan kenaikan harga dari Rp22 ribu menjadi Rp26.600 tidak dapat langsung dipandang sebagai persoalan, sebab harga tersebut masih berada di bawah harga acuan.

Pemerintah, lanjutnya, perlu menjaga ekosistem pangan agar produsen atau peternak tetap dapat menjalankan usahanya, tetapi pada saat yang sama konsumen tidak dirugikan.

"Kalau sekarang misalnya dari Rp22 ribu ke Rp26.600, memang naik. Tetapi itu masih di bawah harga acuan. Kita harus melihat ekosistemnya supaya berjalan dengan baik. Bagaimana produsennya atau peternaknya tetap hidup, artinya usahanya terus berkembang, tetapi jangan sampai konsumen dirugikan," katanya.

Harga Berbeda Tiap Daerah

Budi mengingatkan bahwa harga bahan pokok di satu pasar tidak bisa langsung dijadikan gambaran harga nasional. Perbedaan harga antardaerah, khususnya antara wilayah Barat dan Timur Indonesia, salah satunya dipengaruhi oleh biaya distribusi.

Ia mencontohkan harga telur Rp31 ribu per kg di satu pasar tidak otomatis berarti harga telur secara nasional sudah berada di level tersebut. Sebaliknya, harga Rp27 ribu di pasar lain juga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan harga nasional.

Menurutnya, informasi harga yang tidak lengkap juga berpotensi menimbulkan kepanikan di masyarakat. Ia mencontohkan informasi harga minyak goreng Rp42 ribu yang ternyata merupakan harga untuk kemasan dua liter, tetapi tidak dijelaskan dalam informasi yang beredar.

"Informasi yang tidak benar kalau didistribusikan terus-menerus, orang lain akan menganggapnya benar. Ini yang perlu kita edukasi melalui media yang terpercaya karena kalau data tidak jelas bisa terjadi panic buying, padahal sebenarnya harganya tidak seperti itu," ujarnya.

Budi mengatakan saat ini terdapat sejumlah komoditas yang harganya berada di atas HET maupun harga acuan, tetapi terdapat pula komoditas yang harganya justru berada di bawah patokan tersebut.

Untuk beras medium, misalnya, harga rata-rata nasional disebut berada di Rp13.900 per kg, sedangkan HET sebesar Rp13.500.

Pemerintah merespons kondisi tersebut dengan menyalurkan 1 juta ton beras SPHP yang kemudian menggunakan nama Beras Kita melalui Perum Bulog untuk didistribusikan ke ritel modern dan pasar rakyat.

Sementara harga ayam rata-rata nasional berada di sekitar Rp40.700 per kg, dibandingkan harga acuan Rp40 ribu per kg. Harga tersebut sebelumnya sempat mencapai Rp41 ribu setelah berada di kisaran Rp34 ribu per kg.

[Gambas:Youtube]

Budi mengatakan pemerintah melakukan intervensi agar harga ayam kembali mendekati harga acuan.

"Jangan naik di atas Rp40 ribu, makanya kita jaga supaya tetap Rp40 ribu," katanya.

Di sisi lain, sejumlah komoditas justru berada di bawah harga acuannya. Budi menyebut harga telur ayam rata-rata nasional sekitar Rp26.700 per kg, turun 10,9 persen dari harga acuan Rp30 ribu.

Bawang merah berada di Rp33.300 per kg dibandingkan harga acuan Rp41.500 atau turun 19 persen. Cabai merah keriting berada di Rp45 ribu per kg dari harga acuan Rp55 ribu atau turun 18 persen.

Sementara bawang putih berada di sekitar Rp35.300 per kg, lebih rendah sekitar 6,9 persen dari harga acuannya yang berkisar Rp38 ribu-Rp39 ribu.

"Yang dilakukan pemerintah itu intervensi tidak hanya untuk barang yang naik. Kalau barang naik, diintervensi untuk melindungi konsumen. Tetapi harga yang turun juga harus diintervensi untuk melindungi produsen. Jadi kita harus seimbang antara produsen dengan konsumen," tutur Budi.

Ia menyebut terdapat tiga pihak yang harus dijaga dalam ekosistem tersebut, yakni produsen, penjual dan konsumen. Harga yang terlalu rendah dapat mengganggu produksi, sedangkan harga yang terlalu tinggi dapat membebani konsumen.

Budi menegaskan harga acuan diperlukan sebagai patokan agar harga tidak bergerak terlalu tinggi maupun terlalu rendah.

"Kalau tidak ada harga acuan, nanti bisa harga setinggi-tingginya atau serendah-rendahnya. Kalau harga serendah-rendahnya, otomatis tidak ada produksi telur. Kalau tidak ada produksi, barang langka dan akhirnya mahal," katanya.

Bersambung ke halaman berikutnya...

SP2KP Dipantau Setiap Hari BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2