PODCAST MONEY HONEY

Blak-blakan Mendag Berjuang Jaga Harga Sembako

CNN Indonesia
Jumat, 25 Sep 2026 07:30 WIB
Aktivitas jual beli tampak berlangsung di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (18/12/2025. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkap upaya pemerintah menjaga stabilitas harga bahan pokok yang tidak hanya dilakukan ketika harga pangan melonjak dalam Podcast Money Honey bersama CNN Indonesia. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim).

SP2KP Dipantau Setiap Hari

Dalam menjaga stabilitas harga, Budi mengatakan pemerintah tidak langsung menganggap kenaikan harga sebagai akibat permainan pelaku usaha. Pemerintah terlebih dahulu memetakan penyebabnya, mulai dari produksi, distribusi hingga faktor lainnya.

Namun, jika ditemukan pelaku usaha yang melanggar, pemerintah akan mengambil tindakan.

Salah satu instrumen yang digunakan adalah Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Budi mengatakan sistem tersebut digunakan untuk memantau harga bahan pokok di 550 titik pasar yang tersebar di 514 kabupaten/kota setiap hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita punya namanya SP2KP, Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok. Ada 550 titik pasar yang diawasi setiap hari di 514 kabupaten/kota. Saya setiap hari bisa lihat di aplikasi saya. Sekarang di daerah ini harga telur naik, di sini harga telur di bawah HET," ujarnya.

Dari pemantauan tersebut, pemerintah dapat segera mengetahui wilayah yang mengalami kenaikan harga maupun daerah yang justru memiliki harga terlalu rendah.

Jika terjadi kenaikan di daerah tertentu ataupun secara nasional, pemerintah dapat memanggil distributor dan produsen untuk mencari penyebab serta solusi pasokan.

Pemantauan tersebut juga tidak hanya dilakukan Kemendag. Budi mengatakan data SP2KP dibagikan kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Pertanian dan Satgas Pangan Polri untuk mendukung pengawasan dan koordinasi.

Selain menjadi instrumen pemerintah, Budi mengatakan SP2KP juga dapat digunakan masyarakat untuk melihat perkembangan harga pangan.

Masyarakat dapat melihat harga komoditas, termasuk harga cabai rawit, berdasarkan wilayah sekaligus membandingkannya dengan rata-rata nasional.

"Justru dengan adanya SP2KP ini memudahkan kita koordinasi. Kita tidak perlu bertanya ke daerah karena datanya sudah ada. Kemudian kita koordinasi dan komunikasi dengan pelaku usaha," ujarnya.

Budi menilai keterbukaan informasi tersebut penting karena pangan termasuk kategori volatile food yang pergerakan harganya relatif cepat.

Kerja Sama Antardaerah

Selain memantau harga, pemerintah juga menggunakan kerja sama antardaerah untuk mengatasi ketimpangan pasokan.

Budi mencontohkan kondisi telur di Jawa Timur yang mengalami surplus, sementara Papua mengalami kekurangan. Pemerintah berupaya menyambungkan pemerintah daerah di kedua wilayah agar pasokan dapat bergerak dari daerah surplus ke daerah yang membutuhkan.

Menurutnya, skema tersebut diperlukan karena hubungan bisnis antarpelaku usaha atau B2B tidak selalu berjalan. Pemerintah juga melakukan pengawasan bersama melalui tim dari Kemendag, Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Satgas Pangan Polri.

Budi menekankan pengawasan tidak semata-mata dilakukan karena harga naik. Patokan utamanya tetap harga acuan dan HET.

"Kalau memang dirasa ada yang aneh, patokannya adalah harga acuan dan harga eceran tadi. Kita tidak bisa melihat, 'Oh, harga ini naik,' kemudian langsung diawasi. Naiknya di mana dulu? Kalau menuju HET, justru pengawasan ketika di atas HET," katanya.

Harga yang berada di bawah HET juga tetap diperhatikan untuk mengetahui penyebabnya. Jika harga terlalu rendah dan mengganggu keberlangsungan usaha peternak atau produsen, pemerintah dapat melakukan intervensi.

Tantangan Utama

Menurut Budi, salah satu tantangan terbesar dalam stabilisasi harga pangan adalah distribusi. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau membuat biaya pengiriman barang antardaerah berbeda.

"Menurut saya, faktor utama itu adalah faktor distribusi. Itu yang paling utama dan tidak mudah," ujarnya.

Ia menyebut wilayah Timur cenderung memiliki harga lebih tinggi dibandingkan wilayah Barat karena sebagian besar produsen berada di wilayah Barat, sementara biaya distribusi menuju Timur lebih mahal.

Menurut Budi, persoalan tersebut dapat ditekan apabila pusat produksi semakin tersebar ke wilayah Timur seperti Papua, Maluku dan Sulawesi.

Untuk minyak, pemerintah memiliki kebijakan Domestic Market Obligation (DMO).

Produsen yang mendistribusikan minyak ke wilayah Timur mendapatkan hak ekspor lebih tinggi dibandingkan distribusi ke wilayah Barat. Skema tersebut digunakan untuk mengompensasi biaya distribusi yang lebih besar.

Pemerintah juga memberikan porsi distribusi minyak sebesar 35 persen kepada BUMN pangan seperti ID Food, Bulog dan Agrinas agar pasokan dapat menjangkau wilayah Timur dan Papua.

Untuk mengantisipasi jatuhnya harga saat panen, pemerintah juga menggunakan sistem resi gudang. Budi mengatakan petani dapat menyimpan komoditas yang memungkinkan untuk ditahan, seperti beras, gabah dan rumput laut.

Petani mendapatkan resi yang dapat digunakan sebagai jaminan untuk memperoleh pembiayaan dari bank. Dengan begitu, petani tidak harus langsung menjual hasil panennya ketika harga sedang turun.

"Setelah harga normal dan stabil, baru dijual. Ini banyak kita lakukan untuk ekspor. Ketika harga sudah bagus dan barang masih di gudang, kita bantu mencarikan buyer. Ketika dapat buyer, kita lepas," kata Budi.

Menurutnya, instrumen tersebut digunakan agar harga di tingkat petani tidak jatuh, sementara konsumen tetap memperoleh harga yang sesuai dengan daya beli.

Fluktuasi harga pangan tidak hanya disebabkan oleh persoalan distribusi. Setidaknya ada tiga kelompok faktor yang mempengaruhi harga, yakni produksi, konsumsi dan kondisi geografis; faktor musiman dan transmisi ekonomi global; serta perkembangan inflasi dan nilai tukar petani (NTP).

Produk seperti daging sapi, ayam, telur, cabai dan bawang memiliki masa simpan relatif pendek sehingga ketersediaannya sangat bergantung pada produksi.

Permintaan juga dapat melonjak pada periode tertentu, seperti Ramadan, Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Karena itu, pemerintah perlu memastikan pasokan tersedia menjelang periode tersebut.

Di sisi produksi, komoditas seperti cabai dan bawang merah dapat melimpah ketika musim panen, tetapi mengalami penurunan ketika kondisi musim berubah.

Sementara itu, perkembangan ekonomi global turut memengaruhi komoditas pangan. Budi mencontohkan minyak goreng yang berkaitan dengan harga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku. Perubahan geopolitik juga dapat meningkatkan biaya produksi dan harga produk impor seperti daging sapi.

Budi mengatakan pemerintah bahkan dapat melakukan intervensi terhadap komponen di luar komoditas pangan secara langsung apabila komponen tersebut ikut mempengaruhi harga pangan.

Ia mencontohkan kenaikan harga plastik yang salah satunya berkaitan dengan kesulitan impor nafta dan LPG. Karena plastik banyak digunakan sebagai kemasan pangan, kenaikan biaya kemasan dapat ikut meningkatkan harga makanan.

"Kenapa ini berpengaruh ke pangan? Karena plastik banyak digunakan untuk kemasan pangan. Ketika harga kemasan meningkat, otomatis biaya atau harga pangan juga meningkat," ujar dia.

Pemerintah kemudian memberikan tarif impor LPG sebesar 0 persen selama enam bulan, dari sebelumnya 5 persen. Dalam kondisi geopolitik yang berubah cepat, pemerintah juga mencari sumber pasokan dari negara lain, termasuk AS dan India.

"Dalam kondisi geopolitik seperti ini, perubahan pasar cepat sekali. Waktu nafta tidak ada karena Selat Hormuz ditutup dan terganggu, tiba-tiba kita dapat dari Amerika, ditawari dari India juga. Beberapa negara menawarkan. Untuk membantu supaya harga tidak naik, makanya diberikan tarif 0 persen," katanya.

(del/sfr)

HALAMAN:
1 2