PT MRT Jakarta (Perseroda) menyiapkan pengembangan besar kawasan Blok M melalui konsep Ultimate Development.
Rencana tersebut tak cuma mencakup revitalisasi kawasan yang kini dikenal sebagai Blok M Hub, tetapi juga membuka peluang pembangunan sejumlah tower serta skybridge yang menghubungkan stasiun MRT, Blok M Hub, dan Terminal Bus.
Kepala Divisi Property Management MRT Jakarta M Iqbal Bimo Arifianto mengatakan Ultimate Development Blok M masih dalam tahap pengembangan. MRT juga tengah menyiapkan skema kerja sama dengan mitra dan investor untuk mendukung revitalisasi tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Blok M Hub akan ada revitalisasi besar. Tentu revitalisasi besar yang kelihatannya ada, mungkin akan ada tower, itu kita akan melakukan pencarian mitra kerja sama, yaitu mungkin ada investor," ujar Bimo workshop MRT Jakarta Fellowship Program 2026 di Kantor MRT, Jakarta Pusat, Kamis (24/9).
Selain pembangunan skybridge, MRT menampilkan konsep Grand Hub Facade untuk membentuk karakter baru Blok M Hub sebagai kawasan mixed-use yang terintegrasi dengan fasilitas transit.
Rencana tersebut juga mencakup penataan ruang luar dan dalam melalui koridor hijau, serta pengembangan third space baru berupa taman dan amfiteater yang menghubungkan berbagai level kawasan.
MRT mulai mengelola kawasan Blok M pada 2022. Bimo mengatakan kondisi kawasan saat itu masih menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari kawasan yang tidak terawat, keberadaan pedagang kaki lima (PKL), hingga persoalan parkir.
"Bagaimana kita mengembalikan masa jayanya ini seperti dulu. Pada saat mungkin tahun 90-an atau early 2000 gitu ya. Jadi, pekerjaan kami bukan hanya memastikan fasilitas ini berfungsi, tapi juga bagaimana menghadirkan aktivasi tenant, komunitas, dan berbagai bentuk engagement," ujarnya.
Dalam proses penataan, MRT kemudian menjalankan pendekatan placemaking dengan menggabungkan aksesibilitas, fasilitas, aktivitas, serta komunitas.
Konsep tersebut antara lain mencakup pedestrian, konektivitas transportasi, ruang publik, toilet, wayfinding, kegiatan, kuliner, budaya, dan kolaborasi dengan komunitas sekitar.
Pada 2025, penataan tersebut berlanjut melalui program 100 hari Gubernur DKI Jakarta. Blok M Mall kemudian berubah menjadi Blok M Hub dan selanjutnya menggunakan nama Blok M Hub Gojek melalui skema naming rights.
Bimo mengatakan pengembangan tersebut menjadi tahap awal sebelum masuk ke revitalisasi yang lebih besar. Menurut Bimo, usia aset Blok M yang sudah mencapai sekitar 30-50 tahun menjadi salah satu pertimbangan dilakukannya pengembangan lanjutan.
"Ini bagaimana bertransformasi, dan nantinya ini tunggu tanggal mainnya, akan menjadi revitalisasi besar. Ini sudah juga akan revitalisasi besar yang bagaimana Blok M ini bisa tumbuh dan TOD-nya tuh lebih nyaman lagi," kata Bimo.
MRT mencatat Blok M Hub saat ini telah mencatat lebih dari 25 ribu pengunjung per hari, lebih dari 100 hari aktivasi, serta sekitar 242 tenant UMKM. Kawasan tersebut juga telah memiliki mitra naming rights, yakni Gojek.
Bimo mengatakan Ultimate Development Blok M nantinya menggunakan konsep mixed-use. Pendekatan tersebut ditujukan agar kawasan tidak hanya aktif pada jam tertentu, tetapi dapat digunakan untuk berbagai aktivitas sepanjang hari.
Konsep mixed-use dipilih lantaran memungkinkan fungsi perkantoran, hotel, hunian, dan aktivitas komersial saling melengkapi sehingga kawasan tidak bergantung pada satu jenis aktivitas.
"Terkait dengan Blok M Ultimate, ya kita tunggu tanggal mainnya. Tapi bagaimana apa aja yang akan ada di sana, konsepnya akan tidak jauh dari Transit Hub. Akan ada mix-use," ujarnya.
Bimo kemudian mengungkapkan gambaran pengembangan Ultimate Development tersebut mencakup beberapa tower. Fungsi bangunan yang dikaji tidak hanya apartemen dan hotel, tetapi juga serviced apartment serta hunian bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
MRT, kata dia, tetap ingin mempertahankan keberadaan UMKM dalam pengembangan tersebut. Konsep itu disebut sebagai bagian dari upaya menjaga kawasan agar tidak hanya diperuntukkan bagi kelompok masyarakat tertentu.
"Bahkan kalau ngomongin mungkin akan ada kalau gambarnya tuh kan keliatannya keren gitu ya, ada beberapa tower gitu ya. Itu yang nanti akan ada tidak hanya apartemen, hotel, ada serviced apartment mungkin nanti, akan ada hunian yang khusus masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah," tutur Bimo.
Pengembangan Ultimate Development juga akan menggunakan pendekatan berdasarkan Know Your Customer (KYC), yakni pemetaan karakteristik dan kebutuhan pengguna kawasan. Dengan pendekatan tersebut, konsep pengembangan tidak semata-mata ditentukan dari sisi komersial, tetapi disesuaikan dengan karakter pengguna Blok M.
Bidik Investor Singapura-Hong Kong
Untuk merealisasikan pengembangan kawasan, MRT membuka peluang kerja sama dengan investor. Bimo mengatakan revitalisasi Blok M yang berjalan saat ini masih menggunakan dana MRT Jakarta. Namun, untuk pengembangan besar berikutnya, MRT akan mencari mitra kerja sama.
MRT juga tengah menjaring calon investor dari kawasan Asia Tenggara melalui TOD Investment Forum yang digelar di Singapura. Forum tersebut berlangsung di KBRI Singapura dan diikuti sejumlah BUMD DKI Jakarta yang bergerak dalam pengembangan kawasan.
Menurut Bimo, pengembangan Blok M menjadi salah satu konsep yang ditawarkan untuk menjaring investor dari luar negeri.
Kerja sama tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperoleh modal, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mengenai pengembangan kawasan dari investor atau pengembang yang telah memiliki pengalaman di negara lain.
"Memang itu untuk menyasar investor-investor dari terutama di Asia Tenggara. Bahkan konsep pengembangan yang Blok M ini akan mengusung, akan juga menjaring investor-investor dari luar," katanya.
Selain Singapura, MRT juga telah menjalin komunikasi dengan pihak dari Hong Kong. Namun, Bimo menegaskan pembicaraan tersebut masih berlangsung dan belum menghasilkan kesepakatan investasi.
"Kita juga sudah kontak juga sama Hong Kong dan lain-lain, itu memang belum, masih berjalan lah, belum sampai deal gitu ya, tapi itu yang kita sasar," tuturnya.
Menurut Bimo, investor asing yang masuk nantinya diharapkan tidak hanya membawa pendanaan untuk pembangunan kawasan, tetapi juga pengalaman dan pengetahuan mengenai pengembangan kota.
Ultimate Development Blok M sendiri masih berada dalam tahap progres. Bimo sebelumnya menyebut peluncuran konsep tersebut diperkirakan menjadi salah satu pengembangan lanjutan setelah proyek Pedestrian Deck Dukuh Atas.
(del/sfr)